oleh

Lintasan Hati Pada Manusia

“INNASSYAITHONA LAKUM ‘ADUWWUM FA’ATTAHIDZU HU ‘ADUWWAN INNAMA YAD’U HIZBAHU LIKUNU MIN ASHABIL SYA’IRI.” Artinya : “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Al-Fathir Ayat 6).

“ALAM A’HAD ILAIKUM YAA BANI ‘ADAMA AN LA TA’BUDU SSYAITHONA INNAHU LAKUM ‘ADUWWUM MUBINUN.” Artinya : “Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (Q.S. Yaasin Ayat 60).

Sudah selayaknya seorang hamba bekerja dengan sungguh-sungguh untuk menolak musuh itu dari dirinya dengan sekuat tenaga, bukannya malah banyak bertanya asal usul musuh, bangsanya atau tempat tinggalnya, bagi yang sudah mengerti.

Sekarang hendaklah kita banyak bertanya tentang senjata syaithan pada diri manusia, agar dapat menolaknya, senjata syaithan adalah terutama hawa, nafsu dan syahwat dan itu cukup untuk membinasakan umat manusia yang kebanyakan tanpa ia sadari.

Adapun mengetahui zatnya syaithan, sifat-sifatnya serta hakikatnya maka kita berlindung kepada Allah daripadanya syaithan tersebut, yang demikian ini adalah medan perangnya bagi orang-orang yang berakal untuk mencapai mukasyafah, bagi orang yang hanya cukup mengetahui ilmu muamalah sudah memadailah baginya, akan bahwasanya syaithan itu musuh yang nyata dan tegas.

Bagi orang-orang yang cukup arif untuk mendalami sesungguhnya ilmu agama adalah harus mengetahui akan beberapa lintasan pada hati, yaitu :

  1. Lintasan hati yang dapat di ketahui secara pasti, yakni bahwa syaithan senantiasa membawa kepada kejahatan dan ini di namakan dengan was-was;
  2. Lintasan hati yang juga di ketahui membawa kepada kebaikan, maka inilah yang di namakan dengan ilham;
  3. Lintasan hati yang tidak di ketahui, sehingga kita menjadi bimbang dan ragu, ragu akan apakah ini datang dari malaikat ataukah syaithan, karena termasuk tipu daya syaithan juga dengan sikap yang mengeluarkan perbuatan baik tetapi sesungguhnya adalah kejahatan, inilah dia yang sebenarnya hati sanubari, hanya saja apa keputusannya harus di sertai dengan akal dan pikiran serta ilmu kebenaran.
Baca juga...  Hati-Hati Terhadap Kekerasan Hati

Membedakan hal inilah yang paling sulit untuk di laksanakan, kebanyakannya para ahli ibadah terjerumus dan binasa pada hal ini, sebab jika syaithan tidak sanggup mengajak mereka kepada kejahatan yang tegas, lantas mereka mengajak kejahatan yang menggambarkan dengan kebaikan.

Contohnya begini : “Apakah kita tidak memperhatikan kepada sekeliling kita? Banyak mereka yang lalai karena kebodohan, rusak dan binasa serta hampir masuk ke neraka? Tidakkah kamu merasa kasihan pada mereka? Sedangkan kita bisa menyelamatkan mereka dari kecelakaan tersebut dengan nasihat dan petunjuk kita? Sesungguhnya Allah telah mengaruniai kita akan kebijakan dan kefasihan lidah serta gaya bicara yang mempesona umat?”

Nah, pada hal inilah kita perlu hati-hati dalam menentukan sikap, jika sempat merasa bangga akan kebolehan ilmu yang kita miliki, maka sesungguhnya ini adalah sifat yang buruk di namakan dengan “ujub (mengherani diri sendiri/bangga), takabbur dan sombong, kita sudah tergelincir kejurang kesesatan dalam hal ini karenanya.

Syaithan tiada henti-hentinya menggunakan cara ini yang paling halus pada orang-orang yang berilmu dan berakal agar mereka tergelincir ke neraka, syaithan senantiasa mengajak kepada mereka agar membagus-baguskan pembicaraan dan menampakkan kebaikan dengan sengaja dan di buat-buat karena mentang-mentang telah berilmu dan ahli ibadah dari orang lain.

Baca juga…

Syaithan senantiasa meniupkan lintasan-lintasan hati yang bersifat ria, ia bisikkan seluruh perbuatan baik tetapi dia selipkan perasaan ria, ujub, suma’ah dan lain-lain tanpa di sadari, inilah pekerjaannya syaithan bagi seorang yang alim dan ahli ibadah, ia mengira bahwa dia memperoleh kedudukan di sisi Allah, padahal dialah orang-orang yang paling merugi, seperti golongan orang-orang yang di sabdakan oleh Rasulullah Saw :

“INNALLAHA LAYU’AYYIDU HADZADDINI BIQAUMIN LAHALA QA LAHUM.” Artinya : “Sesungguhnya Allah Swt telah mengukuhkan agama ini dengan segolongan orang yang tidak ada nasib bagi mereka (kebaikan).” (H.R. An-Nasai).

“INNALLAHA LAYU’AYYIDU HADZADDINI BIRRAJULIL FAJIRI.” Artinya : “Sesungguhnya Allah Swt telah mengukuhkan agama ini dengan orang lelaki yang menyeleweng dari kebenaran.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Penipuan syaithan dari jenis ini tidak pernah habis sampai hari kiamat dan dengan penipuan seperti inilah banyak membinasakan para ulama, ahli ibadah, orang-orang zuhud, orang yang kaya, orang yang fakir harta serta orang-orang yang membenci akan kejahatan dzahir dan nyata, sementara dia termasuk pada orang yang membuat kejahatan dengan tersembunyi, ini akan di perhitungkan besok (hisab).

Kesimpulan

Setiap orang harus selalu memperhatikan langkah dan tujuannya, perhatikan dengan sungguh tujuan yang terlintas tadi dengan menggunakan mata hati yang telah di baluri dengan zikrullah, kita melihatnya atas ketaqwaan dan nur taqwa, pandangan bathin dan berdasarkan ilmu, sebagaimana Firman Allah : “INNALLADZINATTAKU IDZA MASYAHUM THA’IFU MISSYAITHONI TADZAKKARU PA’IDZAHUM MUBDZIRUUNA.” Artinya : “Sesungguhnya orang-orangnya taqwa itu apabila di ganggu oleh sekelompok syaithan, lantas ia ingat (kembali kepada nur ilmu) maka kalau begitu mereka bisa melihat (terbuka bagi mereka).” (Q.S. Al-A’raf Ayat 20).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya