oleh

Macam-Macam Talak

Jenis-jenis talak

Macam-macam talak dapat di lihat dari beberapa sisi, antara lain :

1. Talak berdasarkan shighat yang di lafazhkan

Talak berdasarkan shighat yang di lafadzkan di bagi menjadi dua, yaitu :

Lafazh sharih

Lafazh yang sharih yaitu ucapan yang secara jelas menunjukkan bahwa itu adalah talak dan tidak mengandung makna lainnya, seperti ucapan, “Aku mentalakmu,” “Engkau aku talak” dan yang semisalnya.

Talak yang sharih ini tetap di anggap sah, meskipun di ucapkan dengan bergurau. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1184, Abu Dawud : 2194 dan Ibnu Majah : 2039).

Lafazh kinayah

Lafazh kinayah yaitu ucapan yang mengandung makna talak dan makna lainnya, seperti ucapan, “Pulanglah engkau kepada keluargamu,” “Engkau sekarang terlepas” dan yang semisalnya.

Ucapan-ucapan semacam ini tidak di anggap sebagai talak, kecuali jika di sertai niat untuk mentalak. (H.R. Bukhari Juz 5 : 4893 dan Muslim Juz 4 : 2448).

2. Talak berdasarkan sifatnya

Talak berdasarkan sifatnya di bagi menjadi dua, yaitu :

Talak sunni

Talak sunni adalah talak yang sesuai dengan syari’at, yaitu suami mentalak isteri pada waktu suci yang belum di jima’i atau talak yang di lakukan suami pada saat isterinya hamil, dengan kehamilan yang jelas. (Q.S. Ath-Thalaq : 1).

Talak bid’i

Talak bid’i adalah talak yang menyelisihi syari’at, talak semacam ini adalah haram, pelakunya berdosa, meskipun demikian talaknya tetap jatuh dan ini adalah pendapat Jumhur ulama’.

Suami yang menjatuhkan talak bid’i wajib meruju’isterinya, jika itu bukan talak tiga, ini adalah pendapat Imam Malik dan Dawud AzhDzhahiri. (H.R. Muttafaq’alaih, Bukhari Juz 5 : 4954 dan Muslim Juz 2 : 1471).

Talak bid’i terbagi menjadi dua macam, yaitu :

Bid’ah berkaitan dengan waktu, yaitu suami menjatuhkan talak kepada isterinya pada waktu haidh atau nifas atau pada waktu suci yang telah di jima’inya, sementara belum jelas kehamilannya.

Baca juga...  Apa Itu Zakat?

Bid’ah berkaitan dengan bilangan, yaitu suami menjatuhkan talak tiga dengan satu kalimat sekaligus atau menjatuhkan tiga talak secara terpisah, dalam satu majelis, misalnya suami mengatakan kepada isterinya, ”Aku mentalakmu, aku mentalakmu, aku mentalakmu.” Talak tiga dengan satu kalimat sekaligus hanya dianggap satu talak. (H.R. Muslim Juz 2 : 1472 dan Abu Dawud : 2200.

3. Talak berdasarkan pengaruh yang di hasilkan

Talak berdasarkan pengaruh yang di hasilkan di bagi menjadi dua, yaitu :

Talak raj’i

Talak raj’i adalah talak yang dengannya suami masih berhak untuk meruju’ isterinya pada masa ’iddah, tanpa mengulangi akad nikah yang baru, walaupun tanpa keridhaan isteri.

Para ulama’ telah bersepakat bahwa seorang laki-laki merdeka jika ia mentalak isterinya di bawah tiga kali, maka ia berhak meruju’nya pada masa ’iddah, sehingga talak raj’i adalah talak suami kepada isteri dengan talak pertama dan talak kedua. (Q.S. Al-Baqarah : 229).

Isteri yang telah di talak raj’i oleh suaminya menjalani masa ‘iddahnya di rumah suaminya. (Q.S. Ath-Thalaq : 1).

Para ulama’ telah bersepakat, bahwa isteri yang di talak raj’i tetap berhak mendapatkan nafkah dan tempat tinggal. (H.R. An-Nasa’i Juz 6 : 3403).

Dan jika salah satu dari suami isteri tersebut meninggal dunia, maka pasangannya tetap memiliki hak waris atas yang lainnya.

Talak bain

Talak bain adalah talak yang menjadikan suami tidak berhak meruju’ isterinya yang di talaknya.

Jenis talak ini ada dua macam, yaitu :

Bain shughra

Bain sughra adalah talak yang menjadikan suami tidak berhak untuk meruju’ isterinya yang di talaknya, kecuali dengan akad nikah dan mahar baru.

Talak bain sughra ada dua, yaitu :

Talak yang yang kurang dari talak tiga, namun telah habis masa ‘iddahnya, jika suami mentalak isterinya, dengan talak pertama atau talak kedua, lalu hingga isteri menyelesaikan ‘iddahnya, ternyata suami tidak meruju’nya, maka ini di sebut bain shughra.

Baca juga...  Amat Al-Gafur BintiIshaq Ad-Dihlawi

Suami sama seperti orang lain, jika ia ingin menikahi isteri yang telah di talaknya, maka harus dengan akad dan mahar baru, meskipun isteri tersebut belum menikah dengan orang lain.

Jika salah satu dari suami isteri meninggal dunia setelah terjadi talak bain ini, maka pasangannya tidak memiliki hak waris atas yang lainnya.

Talak yang dijatuhkan oleh suami kepada isterinya yang belum pernah di jima’inya, ijma’ para ulama’, bahwa suami yang mentalak isterinya yang belum pernah di jima’inya, maka talaknya adalah talak bain (sughra). (Q.S. Al-Ahzab : 49).

Bain kubra

Bain kubra adalah talak tiga, yang suami tidak berhak ruju’ kepada isterinya yang telah di talak tersebut, kecuali setelah isterinya menikah lagi dengan laki-laki lain dengan pernikahan syar’i (bukan nikah tahlil) dan keduanya telah terjadi jima’, lalu suaminya mentalaknya atau suaminya meninggal dunia.

Setelah isteri tersebut menyelesaikan masa ’iddahnya, maka mantan suaminya yang pertama baru boleh menikahi isteri tersebut. (Q.S. Al-Baqarah : 230).

Wanita yang telah di talak tiga (talak bain kubra) oleh suaminya, maka ia menghabiskan masa ’iddah di rumah keluarganya, karena ia tidak halal bagi suaminya, tidak ada hak nafkah dan tempat tinggal untuknya, kecuali jika ia dalam keadaan hamil.

4. Talak berdasarkan waktu terjadinya

Talak berdasarkan waktu terjadinya di bagi menjadi tiga, yaitu :

Talak munajjaz

Talak munajjaz yaitu talak yang redaksinya tidak berkaitan dengan suatu syarat atau masa yang akan datang dan maksud suami yang mentalak adalah jatuh talak saat itu juga.

Misalnya suami berkata kepada isterinya, ”Engkau aku talak” atau ”Aku mentalakmu” dan yang semisalnya.

Talak semacam ini jatuh pada saat itu juga, karena ia tidak di batasi oleh sesuatu apa pun.

Baca juga...  Fatimah Bin Muhammad Ibnu Ahmad

Talak mudhaf ilal mustaqbal

Talak mudhaf ilal mustaqbal yaitu yang di sandarkan pada waktu yang akan datang, misalnya suami berkata kepada isterinya, yaitu : ”Aku mentalakmu besok,” atau ”Aku mentalakmu di awal bulan depan.”

Talak semacam ini jatuh pada waktu yang di sebutkan, ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i, Ahmad, Abu ’Ubaid, Ishaq dan Dawud Azh-Zhahiri.

Talak mu’allaq ala syartin

Talak mu’allaq ala syartin yaitu talak yang di gantungkan oleh suami kepada syarat terjadinya sesuatu, misalnya suami berkata kepada isterinya, ”Jika engkau keluar rumah, maka engkau aku talak.”

Talak semacam ini di bagi dalam dua kondisi, yaitu : Maksudnya agar isteri melakukan atau meninggalkan sesuatu, jika maksudnya adalah untuk mendorong isteri melakukan atau meninggalkan sesuatu, maka tidak jatuh talak.

Ini adalah pendapat Ikrimah, Thawus, Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim, namun suami wajib membayar kaffarah sumpah915 jika isteri melanggarnya.

Maksudnya adalah untuk mentalak isteri, jika maksudnya adalah talak, maka ketika syarat yang di ucapkannya terwujud jatuhlah talak, kaffarahnya adalah memberi makan sepuluh fakir miskin atau memberi mereka pakaian atau memerdekakan budak, jika tidak mampu maka berpuasa tiga hari.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya