oleh

Makna Tawassul Di Jalur Saksi

Ibadah dan dzikir yang sedang dijalani oleh para salik (pengembara di jalan Allah), adalah mengikuti ibadah dan dzikir yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh para guru ruhaniah dan para guru Mursyid yang telah mentarbiyah dan membukakan pintu yakin di dalam hatinya, yaitu para Nabi, Ash-Shiddiq, Asy-Shuhada’ dan Ash-Shalihin, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.

Tanpa jerih payah dan perjuangan mereka, barangkali tidak ada seorangpun yang mengenal jalan-jalan itu, untuk menghargai jasa-jasa mereka, maka tawasul yang dilaksanakan adalah sebagai ungkapan rasa syukur seorang murid kepada para guru-guru sekaligus sebagai perwujudan pelaksanaan syukur kepada Allah, karena : “Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti tidak bersyukur kepada Allah”.

Dengan menghadirkan mereka di dalam perasaan ruhaniah dan bukan bayangan di dalam hayaliyah, tawasul itu dilaksanakan untuk berbagi rasa dan berbagi kenikmatan di dalam perjalanan.

Sebagai saksi-saksi ruhaniah yang menyaksikan jalan ibadah yang sedang dikerjakan, maka praktek (pelaksanaan tawasul di jalur saksi) adalah sebagai berikut : “Sepanjang amal ibadah itu dilaksanakan, baik sejak do‘a pembukaannya dibaca maupun di saat ditutup dengan bacaan do‘a penutup, baik di dalam pelaksanaan amal ibadah yang yang vertikal maupun yang horizontal, baik aspek Ilmiah maupun Amaliah.

Di saat sendiri maupun sedang berjama’ah, sebagai imam maupun sebagai ma‘mum, dilaksanakan semua itu dengan perasaan penuh secara ruhaniah, seakan-akan mereka, para guru ruhaniah dan para guru mursyid itu, yaitu para Nabi, Ash-Shiddiq, Asy-Shuhada’ dan Ash-Shalihin (yang diTawasuli) hadir bersama-sama di dalam satu jama‘ah bahkan sedang saling berhadap-hadapan.

Sebagai saksi dari amal ibadah yang sedang dikerjakan itu, dengan asumsi, supaya mereka juga yang akan menjadi saksi bagi amal tersebut di hadapan Allah kelak di hari kiamat.

Baca juga...  Tawassul Pembuka "Al-Abshaara"

Paling penting adalah kesungguhan perasaan seorang murid di dalam berusaha menghadirkan guru-guru ruhaniahnya sebagai sebab yang harus dibangun di dunia oleh seorang hamba dan selanjutnya adalah kehendak dan pertolongan Allah untuk merontokkan hijab-hijab basyariah dan membukakan penutup matahati, sebagai buah ibadah yang dijalani—sebagai akibat yang didatangkan bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.

Berkat pertolongan dan izin-Nya, seorang murid akan merasakan dengan nyata kebersamaan dengan mereka secara ruhaniah, seperti orang sedang kasmaran, walau sang kekasih sedang berada jauh di mata, kadang-kadang semakin jauh semakin terasa dekat di dalam hati.

Seperti itu pula kecintaan seorang pengikut kepada Nabinya, walau masing-masing kehidupan itu sudah dibatasi dengan rentang waktu yang jauh, disaat mengucapkan salam ketika duduk tasyahud didalam setiap mengerjakan shalat, sang Nabi yang dicintai dan dirindui seakan-akan hadir di depan mata dan menjawab salam yang diucapkan itu.

Oleh karena itu, salam itu dilaksanakannya sebagai bagian yang wajib dilaksanakan di dalam pelaksanaan shalat, baik yang fardhu maupun yang sunnat, tidak hanya sekedar bentuk pelaksanaan kewajiban saja, akan tetapi kewajiban-kewajiban itu dijadikannya sebagai landasan bagi pengembaraan ruhaniah serta sarana pencarian, untuk menemukan mutiara-mutiara rahasia yang terkandung di balik setiap perintah Allah kepada hamba-Nya itu.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru