oleh

Makrifat Ketuhanan

-Tasawuf-6 views

Firman Allah dalam Al-Qur’an merupakan satu kesatuan padu terdiri banyak dimensi dan bagian, seperti seluruh wujud alam sebagai ketunggalan dalam aneka tampilan, benda hidup atau benda mati, hewan, planet dan bintang-gemintang serta manusia, adalah tunggal dalam wujud yang terjalin dalam sebuah rantai kejadian.

Semua bergerak dengan caranya sendiri di bawah kendali poros utamanya kehendak Tuhan yang tercermin dalam kejadian manusia, sufi melalui thariqat menyambung kembali rantai yang terputus dalam kesadaran tahu dan kesadaran eksistensial yang jika bisa dicapai tak ada lagi batas perbedaan di antara semua benda, makhluk dan alam.

Itulah makrifat, syari’at dan hakikat dan karena itu ittihad dan kasyaf, Titus Burckhardt menyatakan bahwa hakikat abadi tentang Tuhan dan ajaran-Nya hanya bisa diketahui dengan intuisi melalui simbol-simbol Tuhan maupun lewat cara identifikasi hakikat-Nya.

Dari sini makna, arti dan fungsi dzikir yang biasa di lantunkan para pelaku sufi terutama para penganut tarekat bagaikan sebuah pengingatan kembali atau pembangkitan kembali apa yang dahulu telah diketahui manusia ketika ruhnya beraada di dalam suatu wilayah ketuhanan.

Dzikir ialah pembangkitan kembali hakikat atau pemusatan pikiran bagi tujuan penghadiran Tuhan dalam kesadaran sang sufi yang lebih bersifat intelektual, di sini makna dan fungsi ruh sebagai rantai penghubung antara sumber mutlak Tuhan dengan alam dunia yang berubah menjadi sesuatu yang aktual.

Dzikir sufistik merupakan sebuah aktualitas yang selalu baru tentang hubungan manusia dengan alam dan rantai realitas di dalam kaitan dengan Tuhan ketika semua ajaran tentang Tuhan telah di anggap baku dan selesai dalam periode sejarah klasik yang legalistik dalam sistem ajaran syari’at.

Sementara Trimingham mencatat pembaharuan liturgikal Islam seperti itu lebih terbuka dalam praktik dzikir dalam tradisi sufi, dalam kegiatan dzikir itulah thariqat termanifestasikan bagi sebuah aksi makrifat menuju ketertenggelaman seseorang dalam kehadiran Tuhan yang mampu mengubah dan memindahkan wujud sang pelantun dzikir melalui energi ilahi.

Baca juga...  Kajian Huruf Hijaiyah Pada Diri

Dalam hubungan itu mengapa praktik sufi bisa diletakkan sebagai wahana bagi perubahan dan sekaligus integrasi sosial melalui penyatuan rantai realitas.”

Melalui cara serupa itulah para sufi mencoba mewujudkan suatu idealitas manusia yang sempurna danyang tinggi derajatnya, dalam tradisi thariqat di sebut bahwa orang yang tinggi derajatnya ialah manusia yang tak gampang merasa dirinya sudah memiliki kebaikan amal, manusia yang selalu ingat bahwa ia melakukan durhaka kepada Tuhan, manusia yang selalu merasa terus di awasi Allah dan manusia yang selalu merasa cukup dalam hidup keduniawian.

Sikap seperti itulah sebenarnya yang membuat keberuntungan bagi Nabi Adam As dengan menempuh lima jalan atau tarekat, yaitu; merasa berdosa, sangat menderita (nelongso), menyalahkan diri sendiri, sungguh-sungguh bertaubat, selalu mengharap rakhmat Allah.

Pada umumnya manusia itu, besar atau kecil, lelaki atau perempuan, tidak merasa bahwa ia sedang memikul kesalahan, semua orang mengaku bahwa dirinya ialah orang yang baik, sehingga mereka berebut unggul dan akhirnya mengikuti jalannya syetan.

Pada umumnya semua orang mengaku bahwa dirinya adalah orang yang paling suci, namun setiap orang itu pula yang bohongnya bagai rambut, sehingga jumlahnya tak terhitung saking banyaknya. Orang yang demikian itu biasanya enggan mengaku salah.

Padahal hanya Allah sajalah sebenarnya yang bisa menilai apakah seseorang itu baik atau buruk.

Guru dalam tradisi sufi, terutama dalam praktik tarekat merupakan unsur penting dan utama yang tanpanya jalan pencarian yang ditempuh seseorang justru bisa membuat ia tersesat.

Gurulah yang telah menempuhjalan ruhani menelusuri pengalaman batin di seluruh lorong dan rantai realitas dan pengalaman ruhaniah itulah sebenarnya yang menjadi alasan dan dasar dari otoritas guru dalam tradisi sufi dengan peran dan fungsi yang hampir mutlak ketika jalan ruhani bagaikan jalan setepat di rimba belantara tanpa setitik cahaya bintang di tengah gelapnya malam.

Baca juga...  Ajaran Thariqat Terhadap Pengembangan Pendidikan

Seringkali sang murid atau pelaku sufi dari kaum awam di lukiskan bagai seonggok mayat yang harus mengikuti saja apa yang menjadi kehendak dan perintah sang guru yang disebut mursyid atau badalnya, namun karena peran dan fungsinya demikian sentral, seringkali pula membuat banyak orang tergiur memanipulasi peran guru itu bagi kepentingan yang bertentangan dengan ajaran sufi sendiri.

Lebih-lebih ketika sang guru merasa sebagai orang paling pintar, paling baik dan paling benar serta paling dekat pada Tuhan, karena itulah perlunya di kembangkan ajaran agar manusia selalu mawas diri karena kebiasaan dari setiap manusia yang sering kali merasa paling baik, paling benar, dan tak pernah sekali saja mereka berbuat salah atau bohong.

Manusia yang selalu sadar atas diri sendiri pulalah sebenarnya manusia yang membuka pintu hati dan pikirannya sehingga bisa berkembang dan berubah menjadi lebih baik, itulah sosok manusia yang selalu hadir dan hidup di dalam hidup, bukan manusia yang mati dalam kehidupan.

Itulah pula makna kesejatian hidup di dunia ini sebagai kematian yaitu hidup yang sementara bagaikan permainan, demikianlah mengapa selalu di nasihati agar sebelum melakukan tindakan setiap orang hendaklah memikirkan lebih dahulu secara cermat akan segala akibat yang bisa dan mungkin terjadi dari tindakannya tersebut sesuai aturan syari’at.

Ilmu syari’at itu ialah jalan untuk mendekat kepada Allah, sementara thariqat itu ialah jalan menuju kepada Allah melalui berbagai tahap tindakan, selanjutnya apa yang di maksud dengan hakikat itu ialah pengetahuan yang sudah nyata dan jelas tentang hubungan semua wu]ud dan semua realitas serta segala benda yang hidup dan alam.

Suatu pengetahun yang menjelaskan di mana antara yang melihat dan yang di lihat sudah ketemu yaitu Allah. Allah mengetahui atau melihat manusia dan manusia melihat atau mengetahui Allah, sudah menyatu di antara lahir dan yang batin di antara bentuk dan makna, dan di antara wujud dan penampakannya.

Baca juga...  Berbagai Ilmu Dalam Islam Hingga Tasawuf

Karena itu, manusia makrifat ialah manusia yang mampu berlaku di atas dan di luar nafsu dan kepentingan-kepentingan pribadi dan mampu berbuat bagi kepentingan orang banyak tanpa ia mengambil untung dalam setiap tindakannya tersebut.

Insan kamil seperti itu ialah manusia yang bersedia dan mampu menghadirkan keberagamaan Islamnya bagi semua orang, menumbuhkan harapan bagi semua orang, apakah ia kaya atau miskin dan awam.

Inilah makna Islam rahmatan lil alamin yang bermanfaat bagi semua orang tidak di persoalkan, apakah ia memeluk Islam atau tidak, apakah ia beriman atau kafir.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya