oleh

Manusia Memasuki Atau Merusak Habitat Jin Dengan Cara Yang Tidak Benar

Tiga Sebab Yang Dapat Merusak Penjagaan Malaikat Kepada Manusia

SEBAB PERTAMA : Manusia Memasuki Atau Merusak Habitat Jin Dengan Cara Yang Tidak Benar

Sebagaimana telah di uraikan sebelumnya, bahwa jin mestinya tidak mempunyai kekuasaan untuk menguasai kesadaran manusia kecuali manusia sendiri yang memberikan peluang kepada jin dengan berbuat salah.

Jin hanya bisa memperdaya manusia dengan tipudaya yang lemah, hal tersebut telah dinyatakan Iblis kepada para ahli Neraka yang telah diabadikan Allah dengan firman-Nya: “Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya, sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu”. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksaan yang pedih.” (Q.S. Ibrahim : 14/22).

Dengan pernyataan Iblis di atas, mestinya jin tidak dapat menguasai manusia melalui kesadarannya dengan mudah hingga orang jadi kesurupan. Kalau itu terjadi, semata akibat ulah manusia sendiri. Dengan sengaja maupun tidak, manusia telah mengganggu dan merusak habitat atau tempat tinggal jin.

Dengan kesalahan itu menjadikan jin mendapat kemudahan untuk menguasai manusia melalui kesadarannya.

Contoh pertama: Orang membuang kotoran atau air panas di lubang lubang tanah atau di tempat-tempat yang sepi misalnya, orang tersebut tidak mengetahui ternyata di tempat itu ada seorang jin sedang beristirahat atau justru tempat itu adalah tempat tinggal jin.

Dengan itu berarti seorang manusia tersebut dengan tidak sengaja telah berbuat kesalahan kepada seorang Jin, dengan kesalahan tersebut jin mendapat kemudahan untuk menguasai manusia melalui kesadarannya.

Itu berarti manusia telah merusak pertahanannya sendiri sehingga terbuka peluang bagi jin untuk membalas dendam, kalau memang orang harus melakukan juga pekerjaan tersebut (membuang kotoran atau air panas), hendaknya dilakukan dengan berhati-hati (kalau bisa air panas itu didinginkan dahulu baru dibuang) terutama dengan memohon perlindungan kepada Allah dengan membaca Ta’awudz dan Asma-Nya yaitu dengan membaca “Bismillahir Rohmanir Rohim”.

Bacaan itu akan menjadi “nismatul ubudiyah” atau buah rahasia ibadah, dengan izin Allah orang yang membacanya akan mendapat perlindungan Allah dari gangguan jin, kalau tidak, maka dengan kesalahan itu berarti manusia telah mengganggu habitat jin, selanjutnya jin yang marah itu segera menguasai kehidupannya.

Contoh kedua: Orang sedang marah atau bergurau secara berlebih-lebihan di tempat-tempat yang rawan orang kesurupan jin, seperti di kamar mandi, WC dan di tempat-tempat peribadatan, terlebih apabila marah itu dengan membanting-banting benda dan bergurau itu sampai tertawa terbahak-bahak, sampai-sampai manusia itu menjadi lepas kontrol.

Dalam keadaan seperti itu dan di tempat yang demikian itu, seorang manusia sangat rentan kesurupan jin dengan dua sebab:

Pertama karena manusia lepas kontrol sehingga tanpa terasa kehidupannya didominasi dorongan emosional atau hawa nafsu sehingga hatinya lupa dan jauh dari Tuhannya.

Saat seperti itu tanpa sadar berarti manusia telah membuka benteng pertahanannya sendiri.

Kedua karena seorang jin tersinggung dan merasa terganggu, ketika peluang itu terbuka, segera jin yang tersinggung itu menerkam manusia yang sedang lupa diri tersebut dan selanjutnya manusia itu menjadi
kesurupan jin.

Untuk menanggulangi orang yang kesurupan jin seperti contoh kejadian pertama dan kedua, untuk menyadarkan kembali orang yang kesurupan itu tidak cukup hanya diruqyah atau dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur‘an Al-Karim saja.

Jin yang ada di dalam jasad manusia tersebut kadang-kadang lebih pandai membaca Al-Qur‘an, ketika dibacakan ayat-ayat dan do‘a-do‘a itu, jin itu malah menirukan bacaan tersebut, sekalipun dibacakan adzan yang seharusnya jin takut dengan suara adzan dengan perlindungan jasad manusia mereka malah menjadi kuat dan tidak takut.

Dalam menghadapi contoh kejadian seperti tersebut, manusia memerlukan penguasaan ilmu pengetahuan tentang jin yang mendalam dan pengalaman yang luas dalam menangani penyembuhan serta jam terbang yang tinggi.

Baca juga...  Sambutlah Air Laksana Menyambut Rahmat Allah

Kalau tidak demikian, usaha penyembuhan tersebut malah diejek dan ditertawakan oleh jin yang sedang menguasai jasad manusia tersebut, contoh tersebut di atas apabila dikaitkan dengan pelaksanaan “ruqyah”, seperti itulah keadaan mereka.

Dengan pelaksanaan itu sejatinya serombongan manusia telah mengkondisikan diri untuk dimasuki jin, mereka tidak sadar bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sangat membahayakan bagi kehidupan manusia, baik kepada fisik maupun psikisnya.

Disaat mereka memaksakan diri berbuat khusyu‘ itu, sejatinya mereka telah memasuki habitat jin dengan cara yang tidak benar hingga sedemikian mudah jin merasuki jasad mereka.

Habitat jin itu bukan hanya di tempat-tempat yang angker, seperti di kuburan-kuburan atau gua-gua di dalam hutan saja, dimana saja orang bisa memasuki habitat jin, yaitu ketika intensitas kehidupan emosional dominan mengalahkan kehidupan rasional dan spiritual, terlebih ketika saat itu pikiran manusia menerawang dunia jin, berarti manusia saat itu mendekat kepada dimensi jin.

Ketika keadaan seseorang antara sadar dan tidak sadar, berarti orang tersebut semakin dekat dengan habitat jin, ketika orang sudah benar-benar tidak sadar, dengan ditandai dengan berteriak-teriak seperti gejala orang diruqyah, berarti orang tersebut sudah kesurupan jin.

Contoh ketiga: Dengan sengaja manusia berusaha menembus dimensi alam jin, dengan melaksanakan meditasi secara hayaliyah, manusia bisa mengkondisikan diri memasuki alam jin, yaitu ketika suatu saat intensitas emosionalnya lebih dominan daripada rasional dan spiritual.

Ketika dominasi indera hayal (emosional) atas indera yang lain sudah terkondisi, disaat keadaan manusia antara sadar dan tidak sadar, berarti manusia saat itu sejatinya perlahan-lahan mendekatkan diri kepada wilayah dimensi alam jin.

Ketika keadaan manusia (dari sudut pandang oleh orang lain yang melihatnya) sudah tidak sadar, berarti kehidupan manusia itu telah keluar dari alam jasadnya dan memasuki dimensi alam jin.

Resikonya, apabila jasad manusia yang ditinggalkan kehidupannya tersebut tidak mendapatkan penjagaan yang kuat, maka jasad itu rentan dirasuki jin, apabila jasad kosong itu dimasuki jin, berarti kehidupan manusia yang sedang bepergian di dunia jin itu sulit untuk kembali ke tempat asalnya, itulah orang yang terjebak di alam jin.

Keadaan seperti tersebut di atas banyak terjadi di dalam kehidupan masyarakat, orang mengaku jasadnya bisa disurupi ruh Waliyullah, padahal sebenarnya jin yang sedang merasuki jasad manusia tersebut menyebarkan kebohongan kepada manusia.

Banyak orang awam tertipu oleh jin dengan cara seperti ini, bahkan mereka berbondong-bondong datang untuk belajar di suatu tempat, karena (katanya) yang mengajari pengajian di sana adalah Sunan Kalijaga langsung dengan media wadak manusia yang sedang tidak sadar tersebut.

Sesungguhnya alam ruh dengan alam jin sangat berbeda dan sangat berjauhan, oleh karena secara kasat mata dirasakan sama-sama ghaib maka kebanyakan orang awam mengira sama, padahal sangat jauh…jauh dengan sangatlah jauh sekali, ruh para Waliullah yang suci berkenan masuk di dalam wadak kasar manusia yang sedang banyak dosa dan banyak berbuat maksiat, bahkan dalam keadaan najis karena dosa-dosanya belum pernah ditaubati.

Yang masuk jasad manusia yang sedang tidak sadarkan diri itu bukan ruh Wali sebagaimana keyakinan mereka, tapi jin yang memanfaatkan kebodohan manusia mengaku ruh Wali.

Fenomena yang ada, biasanya manusia yang sudah terlanjur tertipu dengan cara seperti ini sulit diingatkan, kecuali ketika mereka sudah terlalu dalam menjadi korban penipuan orangorang yang suka memanfaatkan kekebodohan manusia.

Seharusnya hal ini tidak etis dibicarakan di dalam tulisan, terlebih bila dipanjanglebarkan, kami hanya mencukupkan sampai di sini, semoga segala kesalahan dimaafkan oleh Allah, kami sekedar menyampaikan contoh bahwa kejadian seperti tersebut banyak terjadi di tengah masyarakat kita dan masyarakat kita tanpa sadar telah banyak yang menjadi korban penipuan oleh orang-orang yang memanfaatkan keadaan tersebut atas ketidakmengertian orang lain dengan dalih ibadah.

Aktifitas pengajian seperti itu biasanya ujung-ujungnya adalah mencari kesaktian dan harta karun ghaib, setelah semua persyaratan untuk mendapatkan harta karun ghaib itu dicukupi, dengan membeli minyak wangi yang harganya selangit misalnya.

Baca juga...  Bahaya Zina

Ditunggu sekian lama, ternyata harta karun ghaib yang dijanjikan itu tidak juga kunjung datang, ketika orang yang menjanjikan harta karun itu telah raib dengan membawa harta bendanya, baru mereka sadar bahwa selama ini dirinya telah terjebak tipuan belaka, semoga kita dan anak cucu kita selalu mendapat perlindungan Allah dari kejahatan tipu daya syetan jin.

Contoh ketiga ini kalau kita kaitkan dengan orang kesurupan jin pasca diruqyah adalah sebagai berikut: Orang-orang yang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur‘an itu, tanpa sadar, sejatinya telah mengkondisikan indera khayalnya untuk lebih dominan daripada indera-inderanya yang lain melalui alat pendengaran.

Ketika yang demikian itu terkondisi, sebenarnya saat itu alam sadar manusia tersebut sedang mendekati dimensi alam jin, saat seperti itulah yang ditunggu-tunggu oleh jin penjaga manusia, sehingga saat itu juga jin menarik kesadaran manusia masuk wilayah dimensi mereka.

Praktek seperti itu, meski tanpa dengan mendengarkan ayat-ayat suci Al-Qur‘an pun sesungguhnya orang bisa melakukannya, yaitu dengan sekedar mendengar suara air yang menetes atau atau besi yang dipukul dengan
irama konstan.

Dengan suara-suara itu malah ada kenikmatan tersendiri yang dapat dirasakan, sehingga manusia yang berhasil memasuki wilayah dimensi jin itu tanpa harus mengalami penderitaan dengan menjerit-jerit dan muntah muntah bahkan dengan kencing di tempat.

Dengan latihan yang terbimbing dan terjaga, melalui suara-suara itu manusia dengan izin Allah dapat keluar masuk di dalam wilayah dimensi jin dengan nikmat bagaikan orang sedang mengadakan perjalanan menuju alam syurga buatan.

Begitu nikmatnya perjalanan itu sehingga orang awam mengira perjalanan menuju syurga yang sesungguhnya, sebenarnya masih banyak contoh menarik yang dapat dipaparkan, hal itu karena orang memasuki wilayah alam jin itu tidak harus dengan menggunakan alat pendengaran saja, dengan alat penglihatan sebenarnya lebih mudah.

Namun, oleh karena bahasa tulisan tidak selalu dapat menampung keluasan bahasa praktek, maka pembicaraan lebih mendalam seyogyanya
dengan bahasa kata, yang penting, sungguh apa yang dikatakan ruqyah tersebut adalah pekerjaan yang saat beresiko tinggi.

Dampak negatifnya disamping bisa menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit di dalam jasad manusia, juga mengakibatkan kerusakan pada wilayah kesadarannya dan bahayanya bisa mengakibatkan orang menjadi gila seumur hidup.

Contoh keempat: Seorang ibu yang sedang menyusui bayinya hendaklah lebih berhati-hati dalam berbuat dan bepergian, karena seorang bayi itu masih sangat rawan terhadap segala macam penyakit, terutama penyakit yang disebabkan dari dimensi jin.

Konkritnya: Sehabis bepergian, baik ke pasar maupun kemana saja asal ke luar rumah, terlebih pulang dari pesta perkawinan, seorang ibu yang sedang menyusui anaknya setelah masuk rumah sebelum menyusui anaknya hendaklah bersih-bersih badan dahulu, lebih afdhal berwudhu‘ serta mencuci punting payudaranya, baru kemudian menyusui bayinya.

Kalau tidak demikian, jika seorang ibu itu begitu masuk rumah langsung menyusui bayinya (Memang kadang-kadang saat itu bayi dibuat menangis oleh jin sehingga ibunya buru-buru kepingin langsung menyusui bayinya.) dikhawatirkan makhluk jin masuk ke tubuh bayi yang sedang menyusu itu bersamaan dengan air susu ibunya (Karena saat itu sistem penjagaan malaikat terhadap seorang bayi sesuai dengan fithrahnya masih sangatlah kuat sehingga seorang jin membutuhkan media air susu ibu itu untuk dapat masuk ke dalam tubuh bayi tersebut.)

Kemudian makhluk jin itu tinggal di dalam badan bayi tersebut. Akibatnya tempat di dalam tubuh bayi yang ditinggali makhluk jin itu akan menjadi penyebab terjadinya sarang penyakit.

Tanda-tandanya, dengan cepat bayi itu menjadi demam dan malamnya menangis dengan tangisan yang keras dan kadang-kadang matanya menjadi liar dengan melihat arah yang jauh.

Jika terjadi seperti itu hendaknya bayi tersebut tidak hanya dibawa berobat kepada seorang dokter saja, tapi juga diruqyah dalam arti dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur‘an atau surat Al-Fatihah serta doa-doa sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw atau minta tolong kepada seorang ahli ruqyah, asal tidak dengan jalan syirik.

Baca juga...  Dua Macam Istighfar

Sebabnya, apabila makhluk jin yang ada di dalam tubuh bayi itu tidak segera dikeluarkan, maka di organ tubuh bayi yang ditempati makhluk jin itu akan terjadi reaksi, sesuai dengan sifat dan jenis makhluk jin yang menempati tersebut, reaksi itu ada yang cepat ada yang lambat.

Pertama di tempat itu akan mengeluarkan lendir, kemudian lendir itu menjadi segumpal darah dan segumpal darah itu menjadi segumpal daging, apabila sudah menjadi segumpal daging, segumpal daging itu menurut istilah medis adalah kanker atau tumor, berarti cara penyembuhannya harus diangkat sesuai dengan ilmu medis dan dilakukan oleh orang yang
berhak melakukannya.

Kanker jenis ini (Penyebabnya benda atau sesuatu yang didatangkan dari dimensi alam jin.) adalah kanker yang ganas dalam arti walaupun kankernya sudah diangkat penyebabnya tetap masih ada di dalam tubuh manusia tersebut.

Penyebab kangker itu kemudian berpindah tempat dan bahkan menyebar sehingga dapat menjadi sebab timbulnya bibit-bibit kanker baru, tanda-tanda bayi yang terkena penyakit dimensi jin sebagai berikut. Pertama, bayi mengalami demam tinggi dan menangis terus menerus.

Ketika sudah lewat masa satu minggu tangisan itu biasanya menjadi berhenti dan demamnya berangsur-angsur menurun, yang demikian itu bukan berarti bayi tersebut sudah sembuh, tetapi badannya sudah menjadi kebal dari proses penyakit yang ada dalam tubuhnya, sehingga seakan-akan sudah tidak ada reaksi apa-apa lagi.

Padahal sesungguhnya penyakit itu semakin lama semakin membahayakan, kedua, pada saat-saat tertentu bayi itu sering menangis dengan tangisan yang keras dan liar serta tidak mudah diam dengan sorot mata yang liar pula, ketiga, ketika bayi itu diperiksakan kepada seorang dokter, dokter tersebut tidak mudah menemukan penyebabnya dengan cepat dan pasti, bahkan dengan lain dokter, lain pula hasil diagnosanya.

Hal tersebut merupakan tanda-tanda yang kuat dan jelas bahwa bayi itu kemungkinan kuat sedang terjangkit penyakit yang sumber penyebabnya datang dari dimensi alam jin, dalam menghadapi kejadian seperti ini, disamping usaha pengobatan kepada seorang dokter, pengobatan dengan ruqyah juga sangat dibutuhkan.

Hal tersebut karena ilmu kedokteran hanya mengetahui yang sifatnya medis atau lahir saja sedangkan yang non medis atau yang batin kebanyakan mereka kurang mengetahuinya.

Memang urusan non medis itu bukan wilayah ilmu kedokteran. Dalam keadaan seperti ini fungsi seorang ahli ruqyah mestinya sama sebagaimana fungsi seorang dokter dalam menjalankan usaha penyembuhan pasiennya.

Artinya yang terpenting dalam usaha penyembuhan itu adalah ketepatan diagnosa, sehingga seorang ahli ruqyah itu dapat mengetahui dengan pasti, obat mana yang paling tepat untuk diberikan kepada si pasiennya.

Dalam kaitan diagnosa ini, bukan hanya untuk mengetahui jenis penyakitnya saja tapi juga tingkat kadar atau stadium sakit si pasien. Hal itu supaya usaha penyembuhan itu tidak salah langkah yang dapat berakibat justru menambah penderitaan bagi si pasien.

Secara lahir hanya orang-orang yang ahlinya saja yang dapat mengetahui urusan ini dengan tepat dan benar, yang dimaksud orang ahlinya itu bukan sekedar orang yang menguasai ilmunya saja, akan tetapi yang lebih penting adalah pengalaman yang luas dan jam terbang yang tinggi dalam menangani usaha penyembuhan tersebut.

Oleh karena itu, jangan asal dapat membaca Al-Qur‘an kemudian ikut-ikutan meruqyah orang yang terkena gangguan jin, banyak dari orang-orang yang mengobati orang kesurupan jin, jin tersebut malah berpindah tempat merasuki dirinya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya