oleh

Manusia Sebagai Karakter

Yang di maksud manusia sebagai karakter adalah sifat atau karakter yang menghidupi person seseorang yang dibentuk oleh paduan ilmu dan amal, ketika manusia mati, maka manusia sebagai personal akan kembali menjadi tanah lagi sedangkan manusia sebagai karakter akan melanjutkan kehidupannya di alam barzah dengan mendapatkan kehidupan sesuai dengan karakter yang sudah terbentuk di dalam jiwanya.

Adapun manusia sebagai personal atau individu, sejak ruh nismatul’adamiyah di masukkan ke dalam jasad jismul mahsusah di dalam rahim ibunya sebagai janin, kemudian di bungkus tulang dan daging, setelah di lahirkan di dunia asalnya tidak tahu apa-apa kemudian mendapatkan tiga instrumen kehidupan untuk menjalankan fungsi hidupnya, yaitu pendengaran penglihatan dan perasaan, sebagaimana firman Allah : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. (Q.S. An-Nahl (16) : 78).

Saat pertama kali manusia di lahirkan ibunya itu, sedikitpun manusia belum mendapatkan sesuatu dari dunia luarnya, baik ilmu pengetahuan maupun iman, yaitu masih di dalam fithrahnya: dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun.” (Q.S. (16) : 78).

Saat itu manusia ibarat perangkat komputer yang masih kosong, belum di masuki program aplikasi apapun, selanjutnya dengan ketiga perangkat kehidupan tersebut dengan pendengaran penglihatan dan perasaan manusia mengikuti perkembangan kehidupannya, baik dari yang di ajarkan manusia ataupun yang datang dari lingkungannya.

Dengan cara seperti itu, sedikit demi sedikit Allah memasukkan ilmu pengetahuan kepada hamba-Nya, apabila disamping ilmu yang didapatkan itu manusia juga mendapatkan hidayah dan iman, maka mereka adalah termasuk orang yang beruntung dan akan menjadi manusia yang sempurna dan mulia.

Baca juga...  Sihir Jin Yang Di Tiupkan

Allah menyatakan dengan firman-Nya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al-Mujaadilah (58) : 11).

Dengan dasar fithrah pembawaan dari lahir itu, juga ketiga perangkat kehidupan yang di bekalkan di dalam jiwanya serta ilmu pengetahuan dan iman yang sudah di dapatkan, manusia kemudian harus menjalani proses kehidupan selanjutnya.

Mereka harus berbakti dan mengabdi kepada Tuhannya selama hidupnya, menghadapi tantangan untuk memasuki sistem seleksi alam, bergaul, bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungannya untuk membentuk jati dirinya menjadi manusia sebagai karakter.

Apabila lingkungan itu ternyata adalah lingkungan yang baik, terutama kedua orang tua dan guru-gurunya, maka karakter manusia akan mudah terbentuk menjadi karakter baik, sebaliknya apabila lingkungan itu jelek, maka karakter manusia cenderung menjadi jelek pula.

Konon menurut pendapat ahlinya, 75 % yang akan membentuk karakter manusia adalah lingkungannya, apabila pendapat itu benar, maka jalan termudah untuk membentuk karakter yang baik itu adalah dengan berkumpul di dalam lingkungan orang-orang yang shaleh sehingga orang tinggal hanya memikirkan yang 25% untuk menjadikan karakternya 100 % baik.

Untuk itu, maka mengikuti thariqat yang terbimbing adalah solusi yang paling tepat, karena dengan pelaksanaan thariqat itu, lahir dan batin orang beriman akan terkondisi untuk selalu berkumpul dan bahkan bersama-sama dalam satu perjalanan ibadah dengan orang-orang yang shaleh tersebut.

Adapun manusia sebagai karakter, secara garis besar di bagi menjadi dua golongan.

Pertama orang beriman dan kedua orang kafir, selanjutnya, dari dua karakter itu, sebagai karakter pokok akan tumbuh berbagai macam karakter yang lain, menjadi karakter cabang dan ranting, yang masing-masing karakter itu akan membuahkan amal konkrit bagi manusia sebagai aktualisasi darinya.

Baca juga...  Hamil Karena Zina

Di antaranya, yaitu dari rasa cinta dan kasih sayang yang tumbuhnya dari iman akan melahirkan sikap tawadhu’ (rendah hati) dan pengabdian yang hakiki, dan dari sifat sombong dan hasud yang tumbuhnya dari kafir akan melahirkan sikap takabur dan dendam.

Adapun yang disebut orang musyrik, mereka itu sejatinya adalah orang yang beriman akan tetapi imannya di campuri dengan kafir dan yang di sebut orang munafik, sejatinya adalah orang kafir akan tetapi berpura-pura menjadi orang yang beriman, maka itu adalah sejelek-jelek karakter manusia yang di akhirat nanti mereka akan di tempatkan di dasar neraka Jahannam.

Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (di tempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (Q.S. (4) : 145).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru