Maqamat (3) Lathifatul Sirri

oleh

Maqam ini adalah maqam ketiga dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah yang ketiga di sandarkan, dengan makna dan maksudnya adalah untuk pengobatan pembersihan rohani secara bertahap dan berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin. Pembersihan penyakit bathin di sini ialah mengobati seluruh penyakit bathin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalik-Nya, sudah tentu penyakit bathin harus di obati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit bathinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah adalah dzat yang Maha Suci.

Bathin pada manusia umumnya penuh dengan penyakit yang berupa sifat madzmumah (sifat yang buruk), artinya bathin di penuhi dengan penyakit sifat yang buruk, nah sifat buruk pada manusia ini harus di obati dulu sebelum dapat menuju kepada tuhannya, seseorang hamba tiada akan semudah itu akan dapat mengenal khalikNya tanpa bathinnya bersih dari sifat buruk tersebut.

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah pemarah, pembengis, mudah emosi tinggi, penaik darah dan pendendam, yang mendalanginya yaitu iblis dan syaithan, pada bathin manusia, para iblis dan syaithan di bidang penyakit ini, rumah atau istananya adalah pada hati jasmani manusia, yang senantiasa selalu membisikkan berbagai tipu daya dan hasut agar manusia selalu dalam kemaksiatan di bidang pemarah, pembengis, mudah emosi tinggi, penaik darah dan pendendam, untuk menumpas keberadaan syaithan ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syaithan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar ketiga menuju dan mendekatkan diri kepada Allah serta dapat mengenalnya. 

Maqam ketiga dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATIFATUL SIRRI dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut : Maqam ini berhubungan dengan hati pada jasmani manusia, kira-kira dua jari di atas susu kiri, jumlah dzikirnya dalam sehari semalam sekurang-kurangnya 1000 kali di lakukan secara rutin dan istiqamah, ini adalah wilayahnya Nabi Musa Klh, bercahaya putih dan asalnya dari angin, maqam ini tempatnya sifat madzmumah pada manusia di jurusan :

  1. Pemarah;
  2. Pembengis;
  3. Mudah emosi tinggi;
  4. Penaik darah, dan
  5. Pendendam.

Jadi sudah seharusnya kita berdzikir di tempat ini untuk menghilangkan sifat buruk tersebut dari bathin kita, nah, jika ikhlas dzikirnya pada tempat ini maka akan bergantilah sifat buruk tadi menjadi sifat yang terpuji, seperti :

  1. Pengasih;
  2. Penyayang, dan
  3. Baik budi pekerti (akhlak yang mulia).

Sifat buruk ini di katakan sama seperti sifat binatang buas yang suka berbuat onar, kekejaman, penganiayaan, penindasan, permusuhan dan pendzaliman sesama, dan penebar fitnah, sebagai madzmudahnya (baik) adalah manakala lenyap sifat buruk di atas akan berganti dengan sifat keinsanan yang mendekati kepada kesempurnaan akhlak, terutama sifat rahman dan rahim, ini di katakan adalah sunnah dan thariqatnya Nabi Musa As.

Puncak hasil daripada maqam ini adalah fanafisifattisubutiah (fana akan sifat yang baik) dan mati sirri, mati sirri artinya segala sifat keinsanan menjadi lenyap dan berganti dengan fana, demikian juga dengan alam yang wujud ini menjadi lenyap dan di telan oleh alam ghaib, alam malakut yang penuh dengan nur illahi, mendapatkan karunia dari Allah akan perasaan mati sirri ini adalah dengan bergelimangnya akan baqa finurillah, yaitu nur af’al Allah, nur asma Allah, nur zat Allah dan nurran ‘ala nurrin, cahaya di atas cahaya Allah, di mana Allah memberikan karunia itu kepada siapa saja yang dia kehendaki.

Pendengaran dan penglihatan lahir menjadi hilang lenyap, yang tinggal hanyalah pendengaran bathin dan penglihatan bathin yang memancarkan nur illahi, yang terbit dari dalam hati yang dapat memancarkan ilham dari Allah, ini merupakan hasil mujahadahnya dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah jika ikhlas dzikirnya. Jika seseorang hamba tiada mau berdzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat buruk di atas, maka seseorang manusia akan selalu mengikuti akan petunjuk atau bisikan iblis dan syaithan, sifat ini merupakan sifat yang di benci Allah serta hanya ada pada iblis dan syaithan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengobatan penyakit bathin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keridhaan dari-Nya, jika seseorang hamba betul-betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah terbukalah rahasia gaib akan kebenaran dengan izin dan kehendak-Nya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripadaNya dan ini di katakan sunnah dan cara dzikirnya Nabi Musa As, sebab hanya dengan akal dan pikiran bathin yang bersihlah yang dapat menerima karunia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah. 

Oleh sebab di terimanya dzikir seorang hamba oleh Allah dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya (perjuangan) dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah, juga merupakan fanafillah di mana gerak dan diam tidak ada kecuali dari Allah, tata cara dzikir ini dalam Thariqat An-Naqsyabandi ini telah di atur secara turun menurun secara silsilah dan sampai kepada kami adalah sebagai berikut :

  1. Menghimpunkan pengenalan kepada hati sanubari, maksudnya menetapkan konsentrasi secara penuh hanya kepada Allah secara keseluruhan;
  2. Mengingat dzat Allah dengan hati sanubari, ini lebih menekankan kepada ingat terhadap Allah pada maqam yang di tuju untuk berdzikir;
  3. Mengucapkan Istighfar dengan bilangan yang ganjil, artinya secara syari’ah kita selalu mohon ampun kepada Allah, sama saja artinya dengan lebih mendekatkan diri kepadaNya melalui istighfar dan ucapan istighfar ini bilangannya secara ganjil, contohnya 3x, 5x, 7x dan seterusnya berapapun mau asal ikhlas;
  4. Membaca Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali, dengan membaca ayat Al-Qur’an tentu hati akan lebih mudah menerima hidayah dari-Nya dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya;
  5. Menghadirkan Masaikh Thariqat di hadapan kita, ini artinya bertawassul kepada Allah melalui keutamaan ulama-ulama ajaran ini yang lebih dahulu telah mendapatkan hidayah dariNya melalui cara dzikir ini, pelaksanaanya perlu kehati-hatian penuh, jika tidak akan terjatuh kepada kesyirikan;
  6. Menghadiahkan pahala Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali kepada para masaikh, maksudnya bacaan yang di baca di atas tadi hadiahkan faedahnya kepada para ulama silsilah yang telah memakai ajaran dzikir ini yang lebih dahulu dari pada kita, ini merupakan penguatan terhadap tawassul atau rabithah tadi;
  7. Mematikan diri sebelum mati, maksudnya belajarlah mati sebelum di matikan dengan arti kata senantiasalah selalu ingat (dzikir) kepada-Nya;
  8. Memandang rabithah atau rupa guru, ini penerapannya sangatlah rumit dan penuh hati-hati, jika tidak maka akan tergelincir kepada syirik khafi (tersembunyi), pelaksanaannya adalah tekankan dalam hati akan bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan hidayah-Nya bahwa ajaran ini di sampaikan Allah kepada kita melalui guru atau mursyid kita, di luar cara ini dalam menerapkannya maka syiriklah yang akan terjadi, bukannya mendapat keridhaan malah kemurkaan Allah-lah yang di dapat;
  9. Munajat kepada Allah, artinya sebelum kita mengucapkan dzikir Allah…Allah…Allah…terlebih dahulu kita membaca atau berdo’a sebagai berikut : “ILLAHI ANTA MAKSUDI WA RIDHAKA MATHLUBI”, artinya : “Ya Allah, hanya engkaulah yang kumaksud dan keridhaan engkaulah tujuanku.”
  10. Membaca zikir kepada Allah, setelah keseluruhan cara di atas di laksanakan maka di mulailah dengan berdzikir atau membaca Allah…Allah…Allah…sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan, jika sudah cukup dan selesai dari berdzikir maka panjatkanlah puja dan puji syukur kepada Allah yang telah memberi kesempatan dan kekuatan dalam beribadah dzikir ini.

Pelaksanaan dzikir ini menurut yang kami pelajari untuk di terapkan sewaktu melaksanakannya dan yang bisa di jabarkan oleh tuan guru atau mursyid adalah :

  1. Wuquf Qalbiy, artinya kuatkan konsentrasi pikiran hanya kepada Allah yang tiada berwujud dan berbentuk dari segala sesuatu apapun di dunia ini, tetapi ianya hanyalah tunggal dan esa, dalam pelaksanaan ini ini sekurang-kurangnya buatlah pikiran itu memikirkan akan keberadaan kekuatan dan kesempatan kita saat berdzikir ini hanyalah merupakan kekuatan (hidayah) dari Allah, hal ini termasuk dalam kategori ingat kepada Allah secara af’al (perbuatan);
  2. Setelah dapat membuat pikiran yang sedemikian di atas, maka usahakanlah agar selalu ucapan dzikir tersebut masuk pada wilayah maqam yang telah di sebut di atas secara terus menerus laksana tembakan mitraliur yang tiada putusnya seraya memusatkan pikiran bahwa Allah senantiasa mengawasi kita dalam keadaan apapun juga;
  3. Jika masih terasa susah juga, maka cobalah buat ingatan rajah dari pada tulisan nama Allah dalam bayangan kita saat dalam berdzikir terus masukkan tulisan Allah tersebut pada maqam yang telah tersebut di atas, tapi ingat ini ada unsur syiriknya jika tiada hati-hati dalam menerapkannya dan ini tergolong kepada selemah-lemahnya seorang hamba dalam berdzikir kepada Allah, tetapi jika hanya mampu demikian maka memadailah secara tahap awal tetapi harus berusaha dengan keras agar jangan dengan cara ini, tetapi pakailah cara yang 2 (dua) di atas.
  4. Setiap selesai berdzikir harus selalu menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah atas karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam ingat kepada-Nya.

Sumber : WADAH SUFIYAH