Maqamat (7) Lathifatul Kullu Jasad

oleh

Maqam ini adalah maqam ketujuh dalam kajian Thariqat An-Naqsyabandi dan lebih di kenal pada wilayah kami dengan nama Dzikir Sebelas Ribu, jika seseorang mendalami pelajaran dzikir dalam ajaran tasawwuf atau sufi, maka jika seseorang telah berdzikir pada maqam sebelumnya, maka pada tempat inilah dzikir kepada Allah yang ketujuh, ini sangat berguna untuk pengobatan pembersihan penyakit rohani secara bertahap dan menyeluruh di berbagai tingkatan pembersihan penyakit bathin.

Pembersihan penyakit bathin di sini ialah mengobati seluruh penyakit bathin yang buruk pada diri manusia secara bertahap, jika seseorang hamba ingin menuju kepada khalik-Nya, sudah tentu penyakit bathin harus di obati terlebih dahulu, sebab jika seseorang hamba yang menuju kepada tuhannya tetapi masih ada penyakit bathinnya maka tiada akan dapat sampai (ma’rifat) kepada tuhannya, sebab Allah adalah dzat yang Maha Suci. Bathin pada manusia umumnya penuh dengan penyakit yang berupa sifat madzmumah (sifat yang buruk), artinya bathin di penuhi dengan penyakit sifat yang buruk, nah sifat buruk pada manusia ini harus di obati dulu sebelum dapat menuju kepada tuhannya, seseorang hamba tiada akan semudah itu akan dapat mengenal khalik-Nya tanpa bathinnya bersih dari sifat buruk tersebut. 

Sifat buruk pada bathin manusia di wilayah ini adalah suka lalai dalam beribadah dan selalu jahil dan lalai, sifat ini paling dominan di bisiki oleh iblis dan syaithan bagi manusia yang sudah cukup mengerti akan agama, akibatnya manusia sering melalaikan ibadah, seperti melalaikan shalat wajib, yang seharusnya bisa di awal waktu malah di tunda pelaksanaannya karena waktu shalat masih panjang, nah ini contoh daripada suka melalaikan ibadah yang dapat menyebabkan nantinya akan meninggalkan shalat tersebut jika hal ini di biarkan berlarut-larut dalam bathin manusia, guna menumpas keberadaan syaithan yang suka membisikkan kelalaian, ini maka lazimkanlah dzikrullah pada wilayah ini dengan senjata kalimah Allah…Allah…Allah…, dengan harapan para iblis dan syaithan dapat keluar dari rumah atau istananya tersebut dari dalam diri manusia, jika sudah demikian maka tentu sifat tersebut sudah jauh berkurang bahkan hilang sama sekali dari dalam diri bathinnya tersebut, yang tinggal hanyalah kalimah Allah saja yang menempatinya, hal demikianlah merupakan pintu dasar keenam menuju dan mendekatkan diri kepada Allah serta dapat mengenalnya.

Maqam ketujuh dari cara berdzikirnya seorang hamba untuk mengobati penyakit bathin ini adalah di sebut dengan LATHIFATUL KULLU JASAD dengan pengertian yang di jabarkan dan di ajarkan dzikirnya sebagai berikut :

Maqam ini berhubungan dengan seluruh badan atau jasad dzahir, berdzikir pada maqam ini dalam sehari semalam sekurang-kurangnya 11.000 kali, ini adalah tempatnya sifat buruk manusia, yaitu :

  1. Jahil;
  2. Lalai.

Seseorang yang dzikirnya ikhlas pada tempat ini dapat menimbulkan ilmu dan amal yang di ridhai oleh Allah. Dzikir ini di sebut juga dengan dzikir sultan aulia Allah, artinya raja sekalian dzikir dan di jalankan melalui seluruh badan, tulang belulang, kulit, urat dan daging di luar maupun di dalam, di tempat ini dzikir Allah…Allah…Allah pada penjuru anggota badan beserta ruas dari ujung rambut sampai ujung kaki hingga tembus keluar yakni bulu roma pada sekujur tubuh atau badan, agar dapat menghilangkan sifat malas dan lalai dalam beribadah kepada Allah.

Untuk menghantam seluruh sifat malas dan lalai tersebut haruslah di laksanakan dengan sepenuh hati yang ikhlas, menurut kajian pengamal ajaran cara ibadah tasawwuf bahwa iblis dan syaithan bisa masuk melalui dan menetap pada seluruh bagian tubuh, karena itu perlu di getar dengan dzikirullah, sehingga dzikirullah menetap di tempat itu dengan sendirinya dan tentu saja tidak ada lagi jalan iblis atau syetan untuk dapat memasuki tubuh dzahir dan merasuk kedalam bathin manusia untuk membisikkan segala perbuatan jahat yang tercela di hadapan Allah.

Sifat yang masuk pada maqam ini setelah dzikir tersebut adalah ilmu dan amal yang di ridhai oleh Allah, dia berilmu sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist Rasululllah Saw, hakikat cahaya pada maqam ini adalah nuurus samawi dan di katakan dengan sunnah dan thariqatnya orang alim dan ma’rifat kepada Allah, puncak pada dzikir ini adalah mati hissi yang perupakan pokok dan mendasari dzikir-dzikir yang lain di atasnya, karena itu para pengamal ajaran ini harus mengkhatamkannya sekurang-kurangnya 11.000 sehari semalam.

Dzikir lathaif inilah merupakan senjata paling ampuh untuk mengusir dan membasmi sifat madzmumah yang ada pada 7 (tujuh) lathaif yang di bawahnya, segala sifat madzmumah atau sifat buruk ini di tunggangi oleh iblis dan syaithan. Jika seseorang hamba tiada mau berdzikir pada wilayah ini, maka menurut kajian tasawwuf sangatlah susah untuk membuat seseorang hamba dapat sampai dan mengenal akan tuhannya, sebab dengan sifat buruk di atas, maka seseorang manusia akan selalu mengikuti akan petunjuk atau bisikan iblis dan syaithan yang lebih menjurus kepada keduniaan dan kelalaian, sifat ini merupakan sifat yang di benci Allah serta hanya ada pada iblis dan syaithan juga pada orang yang tidak beriman.

Untuk hal yang demikianlah maka oleh para guru tasawwuf sangat menekankan pengobatan penyakit bathin ini, jika ingin menjadi manusia yang beraqidah akhlak yang baik serta mendapat keridhaan dari-Nya, jika seseorang hamba betul-betul ikhlas dan rajin berdzikir pada wilayah ini dan beristiqamah, maka insya Allah terbukalah rahasia gaib akan kebenaran dengan izin dan kehendak-Nya, dia mendapatkan ilham dan karunia daripada-Nya, dan ini di katakan sunnah dan cara dzikirnya Nabi Musa As, sebab hanya dengan akal dan pikiran bathin yang bersihlah yang dapat menerima karunia, taufik, hidayah dan ilham dari Allah, hal demikianlah yang merupakan nur illahi terbit dari hati orang yang berdzikir, sehingga hatinya muhadharah (hadir) bersama Allah. 

Oleh sebab di terimanya dzikir seorang hamba oleh Allah dan ini merupakan hasil dari mujahadahnya (perjuangan) dan merupakan rahmat dan karunia dari Allah, juga merupakan fanafillah di mana gerak dan diam tidak ada kecuali dari Allah, tata cara dzikir ini dalam Thariqat An-Naqsyabandi ini telah di atur secara turun menurun secara silsilah dan sampai kepada kami adalah sebagai berikut :

  1. Menghimpunkan pengenalan kepada hati sanubari, maksudnya menetapkan konsentrasi secara penuh hanya kepada Allah secara keseluruhan;
  2. Mengingat dzat Allah dengan hati sanubari, ini lebih menekankan kepada ingat terhadap Allah pada maqam yang di tuju untuk berdzikir;
  3. Mengucapkan Istighfar dengan bilangan yang ganjil, artinya secara syari’ah kita selalu mohon ampun kepada Allah, sama saja artinya dengan lebih mendekatkan diri kepada-Nya melalui istighfar, dan ucapan istighfar ini bilangannya secara ganjil, contohnya 3x, 5x, 7x dan seterusnya berapapun mau asal ikhlas;
  4. Membaca Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali, dengan membaca ayat Al-Qur’an tentu hati akan lebih mudah menerima hidayah dariNya dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya;
  5. Menghadirkan Masaikh Thariqat di hadapan kita, ini artinya bertawassul kepada Allah melalui keutamaan ulama-ulama ajaran ini yang lebih dahulu telah mendapatkan hidayah dariNya melalui cara dzikir ini, pelaksanaanya perlu kehati-hatian penuh, jika tidak akan terjatuh kepada kesyirikan;
  6. Menghadiahkan pahala Surah Al-Fatiha 1 kali dan Surah Al-Ikhlas 3 kali kepada para masaikh, maksudnya bacaan yang di baca di atas tadi hadiahkan faedahnya kepada para ulama silsilah yang telah memakai ajaran dzikir ini yang lebih dahulu dari pada kita, ini merupakan penguatan terhadap tawassul atau rabithah tadi;
  7. Mematikan diri sebelum mati, maksudnya belajarlah mati sebelum di matikan dengan arti kata senantiasalah selalu ingat (dzikir) kepada-Nya;
  8. Memandang rabithah atau rupa guru, ini penerapannya sangatlah rumit dan penuh hati-hati, jika tidak maka akan tergelincir kepada syirik khafi (tersembunyi), pelaksanaannya adalah tekankan dalam hati akan bersyukur kepada Allah yang telah mengaruniakan hidayah-Nya bahwa ajaran ini di sampaikan Allah kepada kita melalui guru atau mursyid kita, di luar cara ini dalam menerapkannya maka syiriklah yang akan terjadi, bukannya mendapat keridhaan malah kemurkaan Allah-lah yang di dapat;
  9. Munajat kepada Allah, artinya sebelum kita mengucapkan dzikir Allah…Allah…Allah…terlebih dahulu kita membaca atau berdo’a sebagai berikut : “ILLAHI ANTA MAKSUDI WA RIDHAKA MATHLUBI”, artinya : “Ya Allah, hanya engkaulah yang kumaksud dan keridhaan engkaulah tujuanku.”
  10. Membaca dzikir kepada Allah, setelah keseluruhan cara di atas di laksanakan maka di mulailah dengan berdzikir atau membaca Allah…Allah…Allah…sebanyak-banyaknya sesuai dengan kemampuan dan kesempatan, jika sudah cukup dan selesai dari berdzikir maka panjatkanlah puja dan puji syukur kepada Allah yang telah memberi kesempatan dan kekuatan dalam beribadah dzikir ini.

Pelaksanaan dzikir ini menurut yang kami pelajari untuk di terapkan sewaktu melaksanakannya dan yang bisa di jabarkan oleh tuan guru atau mursyid adalah :

  1. Wuquf Qalbiy, artinya kuatkan konsentrasi pikiran hanya kepada Allah yang tiada berwujud dan berbentuk dari segala sesuatu apapun di dunia ini, tetapi ianya hanyalah tunggal dan esa, dalam pelaksanaan ini ini sekurang-kurangnya buatlah pikiran itu memikirkan akan keberadaan kekuatan dan kesempatan kita saat berdzikir ini hanyalah merupakan kekuatan (hidayah) dari Allah, hal ini termasuk dalam kategori ingat kepada Allah secara af’al (perbuatan);
  2. Setelah dapat membuat pikiran yang sedemikian di atas, maka usahakanlah agar selalu ucapan dzikir tersebut masuk pada wilayah maqam yang telah di sebut di atas secara terus menerus laksana tembakan mitraliur yang tiada putusnya seraya memusatkan pikiran bahwa Allah senantiasa mengawasi kita dalam keadaan apapun juga;
  3. Jika masih terasa susah juga, maka cobalah buat ingatan rajah dari pada tulisan nama Allah dalam bayangan kita saat dalam berdzikir terus masukkan tulisan Allah tersebut pada maqam yang telah tersebut di atas, tapi ingat ini ada unsur syiriknya jika tiada hati-hati dalam menerapkannya dan ini tergolong kepada selemah-lemahnya seorang hamba dalam berdzikir kepada Allah, tetapi jika hanya mampu demikian maka memadailah secara tahap awal tetapi harus berusaha dengan keras agar jangan dengan cara ini, tetapi pakailah cara yang 2 (dua) di atas.
  4. Setiap selesai berdzikir harus selalu menyampaikan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah atas karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan dalam ingat kepada-Nya.

Sumber : WADAH SUFIYAH