oleh

Matahari Hati

-Tasawuf-1 views

Maksud Matahari Hati

Pemahaman hati (ilmu rasa) yang diperoleh dari sistem tarbiyah azaliah yang menyinari akal dan hati, sebagai buah ibadah yang dilakukan di jalan Allah, ilmu tersebut seperti sinar matahari menyinari mata.

Itulah Ilmu laduni, matahari hati itu tidak hanya menyinari akal saja seperti ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar mengajar di lembaga pendidikan yang terkadang masih dicampuri keraguan, ehingga cenderung hanya mampu menciptakan manusia sebagai “tenaga kerja” bukan menciptakan manusia sebagai “pencipta sumber tenaga kerja”.

Ilmu laduni itu tidak demikian, oleh karena ilmu rasa itu adalah ilmu yang universal, maka ilmu tersebut akan mampu menghilangkan keraguan dalam hati sehingga menjadikan manusia menjadi siap dalam menghadapi segala tantangan kehidupan.

Menjadikan manusia mampu berkompetisi untuk menghadapi kompetiter-kompetiter kehidupan, mereka tidak takut gagal mesti menghadapi kesulitan karena ilmu itu telah meresap sampai di lubuk hati meneguhkan keyakinan.

Dengan ilmu rasa itu manusia menjadi tahan uji karena ilmu itu mampu menjadikan aqidah menjadi kuat sehingga menjadikan manusia dapat bersandar secara utuh hanya kepada Tuhannya yang akhirnya mampu melepas ketergantungan kepada sesama manusia.

Proses tarbiyah itu telah dinyatakan Rasulullah Saw yang di abadikan Allah SWT dengan firman-Nya : “Sesungguhnya Waliku adalah Allah, yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an). Dan Dia memberikan Walayah kepada orang yang shaleh”. (Q.S. Al-A’raaf 7/196).

Bentuk walayah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw itu dan juga yang akan diturunkan kepada orang-orang yang sholeh dari umatnya, adalah “tarbiyah” di dalam aspek ilmu pengetahuan, hal itu disimpulkan dengan lafadz َ(Nazzalal Kitaab), artinya , menurunkan kitab.

Adalah kedekatan secara langsung ketika terjadi hubungan (wushul) antara seorang hamba yang sedang melaksanakan ibadah dan pengabdian kepada Tuhannya, akan menghasilkan “interaksi nuriyah”, sehingga isi dada yang asalnya gelap dan pekat, baik akibat kebodohan maupun perbuatan dosa, menjadi cemerlang dan terang benderang karena telah diliputi oleh “nur keislaman”.

Baca juga...  Haji, Pada Pandangan Ilmu Thariqat

Allah menegaskan hal itu dengan firman-Nya : “Bukankah orang-orang yang dibukakan hatinya untuk menerima Islam. Maka mereka adalah mendapat Nur dari Tuhannya, Maka kehancuran bagi orang-orang yang hatinya membatu untuk mengingati Allah, mereka di dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. Az-Zumar 39/22).

Ilmu yang memancari isi dada itu berbentuk pemahaman hati yang sempurna akan rahasia urusan ketuhanan. Oleh karena hati itu telah dipenuhi dengan Nur dari Tuhannya maka yang asalnya ghaib menjadi tampak terang.

Dengan nur itu orang yang hatinya cemerlang akhirnya menjadi mengenal dan mampu menjalani pengabdian yang hakiki kepada Allah Ta’ala. Maka kehancuran yang nyata bagi orang yang hatinya kaku, keras, ingkar dan sombong, karena hati itu tidak pernah di tempa dengan dzikir dan mujahadah di jalan Allah, sehingga menjadikan jalan hidupnya menjadi tersesat dengan kesesatan yang nyata.

Nur yang menjadikan rongga dada menjadi lapang itulah yang dimaksud dengan “ilmu laduni”, ilmu rasa yang masuk secara spontan di dalam dada, “buah dzikir” yang di hasilkan oleh kekuatan mujahadah dan riyadhah di jalan Allah.

Ilmu yang tidak dapat dihasilkan dengan jalan sekedar melaksanakan proses belajar dan mengajar di sekolahan. Dengan ilmu itu orang beriman akhirnya menjadi yakin akan Tuhannya sehingga orang tersebut mampu berpegang teguh kepada Allah Ta’ala.

Itulah tanda-tanda orang yang telah mendapatkan hidayah menuju jalan yang lurus, “shiraathal-mustaqiim”. Allah SWT berfirman : “Dan barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Q.S. 3/101).

Adalah interaksi dua dzikir yang berbeda, yang satu do’a dan satunya ijabah, yang satu harapan yang satunya pemenuhan, yang satu permohonan yang satunya pemberian, seperti lampu yang dinyalakan di dalam ruangan, maka ruangan yang ada di dalam rongga dada yang asalnya gelap gulita seketika menjadi terang benderang penuh dengan cahaya.

Baca juga...  Ikhbat (Rendah)

Allah SWT berfirman : “Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu”. (Q.S. 2/152). Di dalam sebuah haditsnya Rasulullah Saw bersabda yang artinya : “Barang siapa menghendaki dunia maka ia wajib menguasai ilmunya, barang siapa menghendaki akhirat maka ia wajib menguasai ilmunya dan barang siapa menghendaki keduanya maka ia juga wajib menguasai ilmunya”. (atau dengan kalimat yang searti)”.

Maka ilmu pengetahuan adalah hal yang mutlak adanya. Barang siapa ingin hidupnya berhasil, mereka terlebih dahulu harus melengkapi dirinya dengan ilmu pengetahuan yang memadai. Keberhasilan urusan dunia dengan ilmu dunia, keberhasilan urusan akhiratnya dengan ilmu akhirat, keberhasilan keduaduanya dengan ilmu dunia dan ilmu akhirat.

Namun demikian, apabila Allah Ta’ala menghendaki kebaikan yang hakiki kepada hamba-Nya, maka hamba tersebut terlebih dahulu dijadikan-Nya “memahami” bukan sekedar mengetahui akan ilmu Agama secara hakiki pula.

Rasulullah Saw telah menegaskan di dalam sabdanya : “Barang siapa yang Allah menghendaki kepadanya kebaikan, ia akan dipahamkan didalam urusan agama”, yang dimaksud “memahami” tentunya berbeda dengan “mengetahui”.

Orang yang memahami mesti orang yang mengetahui dan orang yang mengetahui belum tentu memahami. Adapun yang dimaksud dengan ilmu agama adalah ilmu yang mengatur kehidupan manusia secara keseluruhan sesuai dengan yang dikehendaki Allah Ta’ala, baik urusan syari’at, muamalah, aqidah maupun akhlak.

Oleh karena pada kenyataannya manusia teripta secara heterogen, maka ilmu agama itu adalah ilmu yang mampu mencakup segala keberbedaan yang ada. Itulh ilmu yang “rahmatan lil ‘alamin”, ilmu yang mampu menyikapi perbedaan umat sebagai rahmat dari Allah Ta’ala.

Yaitu ilmu yang mampu membangun kebersamaan dan kesetaraan hidup umat manusia sesuai dengan qadrat dan derajat kehidupan yang dimiliki dibawah panji-panji “ukhuwah islamiyah”, bukan seperti “ilmu politik praktis” yang bisanya kadang-kadang hanya mampu menciptakan perbedaan, membangun sekatsekat kehidupan dan membentangkan jurang pemisah, sehingga mengakibatkan terjadinya perpecahan dan permusuhan dimana-mana.

Baca juga...  Ilmu Laduni Sebagai Buah Taqwa

Kalau ada orang mempunyai ilmu seperti itu siapapun dia itu orangnya, meski cara mengamalkan ilmu tersebut dengan mengatasnamakan kepentingan Agama, kalau hasilnya ternyata mengakibatkan permusuhan dan perpecahan umat manusia, maka itu pertanda, ilmu yang diamalkan itu bukan ilmu laduni.

Bahkan bisa jadi ilmu tersebut adalah ilmu yang terlarang. Allah menyatakan hal tersebut dengan firman-Nya : “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”. (Q.S. Al-An’am 6/153).

Jadi, matahari hati itu adalah ilmu laduni yang didapatkan dari buah takwa supaya dengan ilmu itu orang menjadi semakin bertambah takwa kepada Allah Ta’ala.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya