oleh

Mencegah Kehamilan (KB)

Hukum mencegah kehamilan.

Hukum mencegah kehamilan ini terbagi dalam beberapa kondisi, antara lain :

a. Mencegah atau menunda kehamilan untuk sementara waktu

Menunda kehamilan untuk sementara waktu hukumnya adalah boleh namun di benci (makruh). (H.R. Bukhari Juz 5 : 4911dan Muslim Juz 2 : 1440).

Karena hal tersebut dapat mengurangi tujuan pernikahan, yaitu untuk memperbanyak umat Nabi Muhammad Saw. (H.R. Imam Ahmad, Al-Baihaqi Juz 7 : 13254 dan Abu Dawud : 2050).

Namun jika tujuan menunda kehamilan adalah karena khawatir kekurangan rizqi atau takut miskin, maka hukumnya adalah haram. (Q.S. Al-Isra’ : 31).

b. Mencegah kehamilan secara permanen

Mencegah kehamilan secara permanen terbagi dalam dua kondisi, yaitu :

– Bukan karena darurat, jika pencegahan kehamilan secara permanen di lakukan bukan karena darurat, maka hukumnya adalah haram menurut ijma’ para ulama’.

– Karena Darurat, jika pencegahan kehamilan secara permanen di lakukan karena alasan darurat, misalnya jika hamil akan membahayakan isteri atau hal lain yang semisal dengannya, maka hukumnya adalah boleh (mubah).

Bahkan hukumnya dapat menjadi wajib, jika sampai mengancam nyawa isteri. (Adabuz Zifaf).

Pembuahan Buatan (Bayi Tabung)

Pembuahan buatan adalah mengupayakan terjadinya kehamilan tanpa melalui jima’.

Hal ini di lakukan karena ada halangan dalam memperoleh kehamilan dengan cara (hubungan) biasa.

Adapun tentang hukumnya di rinci sebagai berikut :

– Jika mani (sperma) berasal dari suami dan pihak medis yang menanganinya adalah orang-orang yang amanah, maka hukumnya adalah boleh dan anak tersebut di nasabkan kepada suami.

– Jika mani (sperma) bukan berasal dari suami, maka ini hukumnya haram, karena hal ini sama dengan zina, hal ini adalah penjelasan dari Syaikh Abu Malik Kamal.

Baca juga...  Akad Nikah

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru