oleh

Menerapkan Ilmu dan Amal, Haruslah Berguru

-Tasawuf-7 views

Berpegang yang teguh kepada Allah Swt adalah suatu keharusan untuk tetap mengikut dan melaksanakan segala perintah-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA, dalam hal ini perlu di ingat, bahwa bukanlah suatu keharusan pula bahwa untuk sampai kepada Allah Swt harus melalui wasithah/rabithah/perantaraan guru (mursyid) sebagaimana yang di sangkakan para pelajar di kalangan sufi, sementara tentang wasithah/rabithah itu hanyalah kebiasaan saja yang harus sangat hati-hati dalam melaksanakannya.

Allah Swt dalam menyampaikan seseorang kepada-NYA atas kehendaknya sendiri dengan beberapa macam tarikan (jadzabaat), sebagian dari cara-cara tarikan tuhan untuk menyampaikan seseorang kepada-NYA antara lain salah satunya adalah dengan berupa amalan yang rutin di laksanakan, sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang berbunyi :

“Jadzabatun min jadzabatil haqqi la tuwazi ‘amalazt-staqalaini.”
Artinya : “Satu tarikan dari beberapa tarikan tuhan, tidak akan dapat di samakan dengan amal-amal jin dan manusia.”

Memang selintas kesan sudah menjadi kebiasaan dan keharusan melalui seorang guru dalam hal menuntut ilmu, terlebih lagi ilmu tasawwuf, tetapi dalam banyak hal ungkapan-ungkapan dan rumusan-rumusan serta isyarat dalam ilmu tersebut banyak sekali yang harus di mengerti secara mendetail, agar tidak terjadi kesesatan dan beribadah.

Apabila di pelajari dalam kitab-kitab tasawwuf tentu banyak sekali rumusan dan isyarat yang di temui, tentu kalau tanpa guru banyak kemungkinannya salah pengertian yang akibatnya malah akan menyesatkan, jadi sudah semestinya kalau belajar akan ilmu ini mesti dengan bimbingan guru dan harus di terjuni dan di laksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.

Perlu juga di ingat, bahwa seorang guru bukanlah jaminan untuk mengantarkan muridnya sampai ketujuan (Allah Swt), tetapi seorang guru hanyalah sekedar penunjuk jalan, memberi pengertian dan pemahaman, jadi semua ini adalah tergantung seluruhnya kepada diri sendiri dengan perjuangan (riyadhah) serta dengan kehendak Allah Swt jua dengan tarikan-NYA, apalagi dengan pengertian hakiki akan makrifat kepada Allah Swt pada hal yang sebenarnya adalah Allah Swt sendirilah memperkenalkan diri-NYA kepada kita.

Ilmu tanpa amal sama sekali tidak ada gunanya, sudah seharusnya kita mengamalkan segala ilmu yang kita ketahui agar dapat kemenangan dunia dan akhirat, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda :

“Inna asyaddan-nasi ‘azaban yaumal qiyamati ‘alimun lam yanfa’hu ilmuhu.”
Artinya : “Sesungguhnya manusia yang mendapat adzab yang hebat  di hari kiamat adalah seorang yang berilmu tetapi tidak  memanfaatkan ilmunya.”

Begitu juga dengan amal yang tidak di dasarkan kepada ilmu, maka amal yang demikian sama sekali tidak ada nilai dan harganya, bahkan mungkin akan terjun kepada kesesatan, ilmu tanpa amal adalah dosa besar dan amal tanpa ilmu adalah kesesatan yang nyata, ilmu dan amal memungkinkan seseorang mendapatkan ilmu laduni sebagaimana firman Allah Swt :

“Wattaqullaha wayu’allimukumullahu.”
Artinya : “Taqwalah kepada Allah, Allah akan ajarkan ilmu langsung kepadamu.”

Hadist Rasulullah Saw : “Man ‘amila bima ‘alima warastahullahu ilma ma lam ya’lam.”
Artinya : “Siapa yang mengamalkan apa yang di ketahuinya, Allah akan mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak pernah di ketahuinya.”

Ilmu yang di maksud di sini adalah ilmu yang langsung daripada Allah Swt tanpa lebih dahulu di pelajari, suatu ilmu yang membawa kita dan sampai ketingkat makrifatullah, seseorang tidak akan sampai ketingkat makrifatullah tanpa ilmu laduni, sedangkan pengertian makrifatullah itu adalah “Allah memperkenalkan diri-NYA.”

Mengenal diri dapat mengenal tuhan dan setelah dia mengenal tuhan dia tidak akan mengerti atau kenal lagi terhadap dirinya, makrifat itu Ta’alluq (berhubungan) dengan pengenalan terhadap diri, pengenalan diri berhubungan pula dengan pengenalan tuhan, seterusnya jika kita sudah makrifat kepada Allah Swt barulah kita menyadari bahwa kita tidak ada apa-apanya.

Hadist Rasulullah Saw :

“Arufukum birabbihi ‘arufukum binafsihi.”
Artinya : “Orang yang benar-benar makrifat kepada Allah, adalah yang lebih mengerti/kenal terhadap dirinya.”

Jadi, sudah seharusnya kita berguru untuk mencari ilmu demi untuk kesempurnaan kita dalam beribadah dan beramal, agar tidak terjadi kesesatan dalam beribadah, terlebih ilmu tasawwuf/makrifat.

Baca juga...  Dalil Tentang Ucapan Adzan Shalat Subuh

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya