oleh

Mengenal dan Membangun Diri

Tentang Mengenal dan Membangun Diri

Meskipun manusia tidak lebih dari satu hakikat, namun ia mempunyai berbagai dimensi wujud. Wujud manusia bermula dari materi tanah yang tidak dapat merasa dan memahami dan kemudian berakhir kepada wujud mujarrad malakut.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an Al-Karim, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani), kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam (tubuhnya) roh (ciptaan-Nya) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.” (Q.S. As-Sajdah 7).

Manusia mempunyai beberapa peringkat dan dimensi wujud, dari satu sisi, manusia adalah sebuah jisim tabi’i dan memiliki tanda-tandanya. Dari sisi lain, manusia adalah yang tumbuh dan memiliki tanda-tandanya. Dari sisi berikutnya, manusia adalah seekor hewan dan dia memiliki tanda-tandanya.

Pada sisi terakhir, manusia adalah manusia dan memiliki tanda-
tandanya, yang tidak terdapat pada hewan lain, oleh karena itu, manusia adalah sebuah hakikat, namun sebuah hakikat yang mempunyai beberapa peringkat wujud.

Pada saat manusia mengatakan, “bobot dan bentuk saya”, artinya ia tengah memberitahukan tentang peringkat jasmaninya, pada saat manusia mengatakan, “Makanan dan pertumbuhan saya”, artinya dia tengah menceritakan peringkat jisim nami-nya, ketika manusia mengatakan, “Gerak, syahwat dan marah saya”, artinya dia tengah bercerita tentang peringkat kebinatangannya.

Pada saat manusia berkata, “Pikiran dan akal saya”, artinya dia tengah bercerita tentang peringkat kemanusiaannya, jadi manusia mempunyai “saya” dan “diri” yang bermacam-macam: Diri jasmani, diri tumbuhan, diri kebinatangan dan diri kemanusiaan.

Akan tetapi, yang mempunyai nilai dan harga hanyalah diri kemanusiaan, sesuatu yang menjadikan manusia menjadi manusia dan menjadikannya lebih unggul dari seluruh hewan lainnya adalah ruh mujarrad malakut dirinya.

Baca juga...  Pengertian Maqam Dan Martabat

Allah telah menggambarkan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an sebagai berikut, “Dan sesungguhnya Kami telah manusia dari suatu saripati (yang berasal) dari tanah, kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segum[pal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami dia Kami jadikan makhluk yang (berbentuk) lain, maka Maha Suci Allah, Dia Pencipta yang paling baik.” (Q.S. Al-Mukminun : 12-14).

Maha Suci Allah sebaik-baiknya Pencipta, dengan perantaraan ruh malakut inilah, Allah telah menyampaikan manusia kepada derajat yang sedemikian tinggi, sehingga turun perintah Allah kepada para malaikat, “Maka apabila Kami telah menyempurnakan kejadiannya telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Q.S. Al-Hjjr : 29).

Tidaklah manusia mendapat penghormatan yang sedemikian ini dan Allah sampai berkata tentangnya, “Dan sesungguhnya Kami telah muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami (mi mereka rizqi dan yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempuma atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al-Isra‘ : 70), melainkan dengan perantaraan sisi malakut dirinya.

Sebab itu, jika manusia hendak membangun dirinya, maka dia harus membangun dan mengembangkan diri kemanusiaannya, bukan diri kebinatangan atau diri jasmaninya dan tujuan dari para nabi pun ialah membantu dan memperkuat manusia di dalam membangun dan mengembangkan sisi kemanusiannya.

Para Nabi As berkata kepada manusia, “Janganlah kamu melupakan dirimu, yaitu yaitu diri kemanusiaanmu, karena jika kamu mengorbankan diri kemanusianmu demi kecenderungan-kecenderungan hewanimu, niscaya bahaya yang amat besar akan menimpamu.”

Baca juga...  Hadist Tentang Urgensinya Ikhlas

Allah berfirman di dalam Al-Quran Al-Karim, “Katakanlah: ‘Sesungguhnya orang-orang yang rugi adalah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat, ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (Q.S Az-Zumar : 15).

Orang yang tidak memikirkan selain dari kehidupan hewaninya, sungguh dia telah kehilangan diri kemanusiaannya dan tidak mencari upaya untuk memperbaiki dirinya.

Amirul Mukminin berkata, “Sungguh aku merasa heran dengan orang yang berusaha menemukan barangnya yang hilang namun dia menghilangkan diri kemanusiaannya dan tidak berusaha untuk mencarinya.”

Tidak ada kerugian yang lebih besar dan lebih menakutkan dibandingkan dengan seseorang yang kehilangan diri kemanusiaannya di dunia, untuk individu yang semacam ini tak ada lagi yang tersisa baginya selain dari diri kebinatangannya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya