oleh

Menggapai Khusnul Khatimah

Khusnul khatimah (baik di penghujung kehidupan) adalah sebuah cita-cita di akhir perjalanan hidup di dunia fana yang selalu di dambakan oleh kaum muslimin, mengapa di dambakan? Karena dengan khusnul khatimah maka pastilah kita akan memasuki alam ‘lain’ dalam kondisi di mana kita tengah menetapi jalan kebaikan yang di ridhai Allah.

Mencapai khusnul khatimah bukanlah hal yang mudah, semuanya perlu optimalisasi diri dalam beribadah kepada-Nya, salah satu upaya nyata dalam menjemput khusnul khotimah adalah dengan senantiasa mengisi setiap detik yang bergulir untuk melakukan kebajikan.

Hal ini telah di amanatkan Allah dalam surat Al-‘Ashr ayat 1-3 : ”Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh serta saling menasihati agar menaati kebenaran dan saling menasihati agar menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr : 1-3). Seorang muslim yang paham akan amanat yang Allah maksudkan dalam ayat ini tentu akan sangat berhati-hati dalam menjalani hidup dan kehidupannya.

Terlebih jika ia sadar betul bahwa kematian dapat menghampirinya kapan saja dan di mana saja, seorang muslim yang sadar akan kedua hal tersebut di atas, maka ia akan senantiasa teringat akan hal yang harus ia kerjakan agar kelak menjadi manusia yang beruntung. Ia akan merasa sangat rugi jika tidak mengerjakan amal shaleh dan menasihati diri, keluarga dan lingkungannya dalam hal kebenaran dan kesabaran.

Pemahaman ini juga akan mendorong pada peningkatan kualitas ibadah setiap saat, apalagi dengan pengetahuan bahwa setiap anggota tubuh kita akan di mintai pertanggungjawaban-nya, berkenaan dengan peningkatan ibadah setiap saat ini, Rasulullah Saw bersabda : ”Siapa yang dua harinya sama (tidak ada peningkatan ibadah), maka ia orang tertipu dan siapa yang hari ini jelek dari sebelumnya maka ia orang yang terhalang (rugi), siapa yang tidak bertambah pasti berkurang, kalau berkurang lebih baik mati.” (Kitab Iqadal Himam, 210).
Peningkatan kuantitas ibadah kepada Allah hendaknya juga di barengi dengan peningkatan kualitasnya, salah satu hal yang dapat di lakukan adalah dengan memberikan perhatian terhadap hati kita, kita terkadang lupa dengan pentingnya menjaga hati, kita selalu memperhafikan kebutuhan jasmani dengan menyuplai makanan bergizi dan berbagai suplemen untuk menjaga kebugaran tubuh kita.

Baca juga...  Fusuk dan Kedurhakaan

Sayangnya kesadaran ini hanya berbatas pada aspek kebutuhan jasmaniah saja, padahal hati kita jauh lebih penting untuk di jaga dan di pelihara agar mampu memancarkan cahaya kebenaran yang akhirnya mernbawa kita ke dalarn keselamatan. Hati yang tidak di pelihara akan rusak bahkan mati, sementara itu matinya hati jauh lebih berbahaya ketirnbang matinya raga.

Kematian jasad hanya merupakan pertanda perpisahan dengan dunia dan awal kehidupan akhirat, sementara matinya hati merupakan awal kerusakan amal dan penyesalan berkepanjangan di akhirat kelak, mengenai ini ada ungkapan dari orang shaleh yang menyatakan bahwa : ”Sungguh heran orang yang menangisi kematian tubuh seseorang namun mereka tak pemah menangisi kematian hati seseorang padahal itu tragis.”

Sudah saatnya kita banyak melakukan muhasabah, mengevaluasi apa yang telah kita lakukan, mengoreksi apa-apa yang salah dan mempertahankan atau bahkan meningkatkan apa-apa yang sudah baik, selain merupakan wujud pelaksanaan terhadap perintah Allah, muhasabah juga berguna untuk menanamkan perasaan hati-hati dan teliti atas apa-apa yang akan kita lakukan.

Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di perbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr : 18).

Dalam ayat lain Allah berfirman : “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja) dan bahwa kamu tidak akan di kembalikan kepala Kami?” (Q.S. A-Mu’minun : 115).

Salah satu fase perjalanan manusia yang bisa di jadikan penentu mengenai selamat atau tidaknya di kehidupan akhirat adalah pada saat kematian, jika selamat pada saat kematian menjemput, maka selamatlah kehidupan akhiratnya, seorang mukmin yang cerdik akan berupaya maksirnal untuk membekali dirinya menghadapi kematian yang waktu kedatangannya, Allah rahasiakan.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru