oleh

Mengutamakan Fardhu ‘Ain Atas Fardhu Kifayah

Tidaklah di perselisihkan lagi, bahwa perkara fardhu mesti di dahulukan atas perkara yang hukumnya sunnah, tetapi perkara-perkara yang fardhu itu sendiri memiliki berbagai tingkatan, kita yakin betul bahwa fardhu ‘ain harus di dahulukan atas fardhu kifayah, karena fardhu kifayah kadangkala sudah ada orang yang melakukannya, sehingga orang yang lain sudah tidak menanggung dosa karena tidak melakukannya, sedangkan fardhu ‘ain tidak dapat di tawar lagi, karena tidak ada orang lain yang boleh menggantikan kewajiban yang telah di tetapkan atas dirinya.

Banyak hadits Nabi Saw yang menunjukkan, bahwa kita harus mendahulukan fardhu ‘ain atas fardhu kifayah, contoh yang paling jelas untuk itu ialah perkara yang ada kaitannya dengan berbuat baik terhadap kedua orangtua dan berperang membela agama Allah, ketika perang merupakan fardhu kifayah, karena peperangan untuk merebut suatu wilayah dan bukan mempertahankan wilayah sendiri, yaitu peperangan untuk merebut suatu wilayah yang di duduki oleh musuh. Kita harus melakukan peperangan ketika tampak tanda-tanda musuh mengintai kita dan hendak merebut wilayah yang lebih luas dari kita.
 

Dalam hal seperti ini hanya sebagian orang saja yang di tuntut untuk melakukannya, kecuali bila pemimpin negara menganjurkan semua rakyatnya untuk pergi berperang, dalam peperangan seperti ini, berbakti kepada kedua orangtua dan berkhidmat kepadanya adalah lebih wajib daripada bergabung kepada pasukan tentara untuk berperang dan inilah yang di ingatkan oleh Rasulullah Saw, Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash Ra berkata, bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi Saw, dia meminta izin untuk ikut berperang, maka Rasulullah Saw bertanya kepadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah Saw bersabda, “Berjuanglah untuk kepentingan mereka.”
 

Dalam riwayat Imam Muslim di sebutkan pula, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw, kemudian berkata, “Aku hendak berjanji setia untuk ikut hijrah bersamamu dan berperang untuk memperoleh pahala dari Allah.” 

Nabi Saw berkata kepadanya : “Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Ya. Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi Saw bersabda, “Engkau hendak mencari pahala dari Allah?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Nabi Saw kemudian bersabda, “Kembalilah kepada kedua orangtuamu, perlakukanlah keduanya dengan sebaik-baiknya.”


Di riwayatkan dari Imam Muslim, bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw seraya berkata, “Aku datang ke sini untuk menyatakan janji setia kepadamu untuk berhijrah, aku telah meninggalkan kedua orangtuaku yang menangis karenanya.” Maka Nabi Saw bersabda, “Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.”
 

Di riwayatkan dari Anas Ra, berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Saw sambil berkata, “Sesungguhnya aku sangat ingin ikut dalam peperangan, tetapi aku tidak mampu melaksanakannya.” Nabi Saw bersabda, “Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih ada yang hidup?” Dia menjawab, “Ibuku.” Nabi Saw bersabda, “Temuilah Allah dengan melakukan kebaikan kepadanya, jika engkau melakukannya, maka engkau akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakan ibadah haji, umrah dan berjuang di jalan Allah.”
 

Di riwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah, bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi Saw kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin ikut berperang, dan aku datang ke sini untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasulullah Saw bersabda, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Berbaktilah kepadanya, karena sesungguhnya syurga berada di bawah kakinya.”
 

At-Thabrani meriwayatkan hadits itu dengan isnad yang baik, dengan lafalnya sendiri bahwa Jahimah berkata, “Aku datang kepada Nabi Saw untuk meminta pendapat bila aku hendak ikut berperang. Maka Nabi Saw bersabda, “Apakah kedua orangtuamu masih ada?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Maka Nabi Saw bersabda, “Tinggallah bersama mereka, karena sesungguhnya syurga berada di bawah telapak kaki mereka.”

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya