oleh

Mutiara Yang Terlupakan

Sejak di surga, sesungguhnya Nabi Adam As sudah dibekali Allah dengan rasionalitas yang tinggi bahkan lebih tinggi dibanding ilmu sebagian malaikat.

Allah telah menyatakan itu melalui firman-Nya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. 2 : 31-32).

Namun demikian, karena implementasi rasionalitas (ilmu teoritik), sesungguhnya juga merupakan ilmu pengalaman yang harus dimiliki manusia (dalam kaitan agama disebut ilmu rasa atau ilmu spiritual) maka untuk mencapai kedewasaan jiwa, manusia harus menjalani suratan jalan hidup yang sudah ditentukan Allah, baik dari aspek buruk takdir maupun baiknya.

Hal itu disebabkan, karena hanya dengan ilmu praktek (ilmu rasa) inilah, ilmu pengetahuan secara teoritik itu diharapkan dapat menghasilkan manfaat yang optimal, yaitu meningkatkan kualitas iman sehingga mampu menghasilkan keyakinan kuat dalam hati, padahal untuk menumbuhkan keyakinan yang kuat tersebut, orang harus menempuh proses latihan-latihan dan melewati tahapan-tahapan perjalanan yang panjang.

Itulah sistem kompetisi dan seleksi alam sebagai sunnatullah (tata kosmos kehidupan) yang tidak akan Al-Ghazali dalam “Misykat Al-Anwar” membagi tingkat spiritualitas menjadi lima, yakni; kesadaran nature yang berkualitas rendah (al-ruh al-hayawani), penyimpan kesan melalui panca indera (alruh al-khayyali), penemu makna di balik fenomena (al-ruh al aqli), alat penghasil kompetensi dan intuisi batin (al-ruh al-fikri) dan al-ruh alqudsi yang berfungsi sebagai penyampai walayat kenabian dan kewalian.

Sedangkan Hakim At-Tirmidzi (Tokoh Shufi Abad III H) dalam kitab “Bayan Al-Farq Al-Shadr” membaginya dalam :

(1) Shadr yang menangkap pengetahuan informatif dan memancarkan Nur Islam manakala al-nafs al-‘ammarah bi al-su’ sudah bisa dijinakkan,

(2) qalb yang menangkap pengetahuan esoterik yang diberikan langsung oleh Allah melalui ilmu ladunni dan memancarkan Nur Iman,

Baca juga...  Tingkatan-Tingkatan Hidayah

(3) fuad yang dapat melihat langsung realitas yang ada dan memancarkan Nur Ma‟rifat , dan

(4) lubbb yang menjadi inti dari tiga tingkatan spiritualitas, dapat memancarkan Nur Tauhid, pengetahuan yang diperoleh Lubbb memiliki validitas yang luar biasa karena ilmu diperoleh bersama dan beserta (bi Allah, ma’a Allah).

Semua tingkatan di depan dapat dilintasi melalui takhali, tahali dan tajalli, berubah lagi untuk selamanya dan diperuntukkan bagi manusia, tanpa terkecuali.

Sunnatullah itu merupakan tarbiyah azaliah dari Tuhannya, siapa yang berhasil melewatinya dengan baik, maka Allah akan meningkatkan derajat hidupnya, oleh karena itu, Nabi Adam As oleh suratan takdir hidupnya memang harus terlebih dahulu mencicipi pahitnya kehidupan dunia akibat dosa yang diperbuatnya di surga itu.

Dengan itu supaya kemudian beliau mampu merasakan manisnya pahala ketika beliau telah dikembalikan lagi di surga, manisnya pahala tersebut sebagai buah ibadah dan pengabdian yang dijalaninya di dunia.

Itulah contoh kejadian pertama dalam lembaran sejarah kehidupan manusia pertama yang akan dapat menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi orang yang mampu memperhatikan dan menelaah serta mengambil pelajaran darinya.

Nabi Adam As ternyata mampu dan berhasil menjalani awal proses kehidupannya di dunia, walau perjalanan itu penuh dengan penderitaan dan kesulitan, dengan sendirian Beliau harus mencari dan membuka lahan yang terbentang luas untuk bercocok tanam, menanam bibit di tanah garapan dan baru dapat dimakan hasilnya ketika saat panen tiba dan berbagai macam tantangan kehidupan yang harus dihadapi.

Kemampuan itu, karena sejatinya Nabi Adam As telah terlebih dulu mengenali jalan hidup yang harus ditempuhnya itu sebagai akibat dosa yang telah diperbuat sehingga manusia harus diturunkan dari kebahagiaan ke dalam jurang penderitaan.

Dengan itu Nabi Adam As jadi mengetahui pula, apabila Beliau ingin dikembalikan kepada kebahagian yang abadi, surga yang telah ditinggalkan dahulu, maka tidak ada jalan lain, kecuali terlebih dahulu harus bertaubat dari segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat itu, bahkan tidak cukup itu saja, Nabi Adam As juga harus memperbaiki perilakunya, membangun diri dengan amal bakti, supaya tidak kembali terjebak tipudaya setan yang telah menurunkannya dahulu dari surga.

Baca juga...  Shalat Sebagai Upaya Latihan Jiwa Pembentukan Kepribadian Muslim

Tamsil yang demikian itu, agar dalam lembaran kehidupan yang dijalani, manusia tidak cukup hanya membekali dirinya dengan ilmu pengetahuan saja, namun juga karya utama yang dapat dibanggakan dihadapan Tuhannya di kemudian hari.

Allah kemudian menurunkan pelajaran bagi Nabi Adam As dengan apa yang telah dinyatakan firman-Nya: “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Baqarah : 2/37).

Kemudian Nabi Adam As menindak lanjuti pelajaran itu dengan amal bakti dan taubatan nasuha dengan bermunajat melalui kalimat: “Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Q.S. Al-A‘raaf : 7/23).

Tidak cukup hanya dengan penyesalan di hati saja, namun penyesalan itu juga harus mampu diaktualisasikan dalam amal ibadah yang kongkrit, yaitu berdzikir, bermunajat, memohon ampun dan bertaubat dengan taubatan nasuha serta memperbaiki diri dari setiap kesalahan yang sudah diperbuat, hal itu dilakukan sampai Allah benar-benar menerima taubat hamba-Nya.

Tanda-tanda penerimaan tersebut dapat dirasakan dalam hati, berupa kedamaian dan kesejukan yang meresap dalam sanubari, sehingga mampu mengusir keraguan dan dapat menciptakan gairah hidup baru untuk beramal shaleh dalam pengabdian.

Seperti tanah kering karena lama tidak turun hujan, ketika hujan datang, tidak hanya kesejukan yang dirasakan, namun juga, tanah yang asalnya tandus itu menjadi subur dan siap tanam.

Inilah pelajaran pertama yang diturunkan Allah Rabbul ‘Alamin kepada umat manusia, dari peristiwa yang asalnya sudah gaib, kemudian dimunculkan lagi dan diabadikan dalam Kitab Suci yang abadi sepanjang masa, Al-Qur‘an Al-Karim.

Baca juga...  Lima Macam Ubudiyah Lisan

Yaitu sejarah perjalanan hidup manusia pertama yang di dalamnya ada mutiara hikmah yang dapat dijadikan pelajaran dasar dan suri tauladan bagi umat selanjutnya.

Mutiara hikmah itu ialah, bahwa manusia memang selamanya tidak sepi dari kesalahan dan dosa bahkan manusia telah memulai hidupnya dengan kesalahan dan dosa itu, sehingga mengakibatkan duka dan derita. Namun bila penyesalan mendalam atas dosa dan kesalahan itu dilakukan, ternyata dosa dan kesalahan itu dikemudian hari akan mampu menjadi penyebab seorang hamba untuk melaksanakan taubatan nasuha, yang diterima di sisi Allah yang ditandai dengan perubahan karakter maupun perbuatan jelek menjadi kebaikan dan akhlakul karimah yang dapat meningkatkan ketaqwaan.

Maka di sinilah letak rahasia mutiara hikmah yang sangat berharga ini, pembelajaran hidup yang akan bermanfaat bagi pendewasaan jiwa manusia, oleh karena itu, barangsiapa mampu menelaah dan meneladani peristiwa sejarah manusia pertama itu, kemudian diterapkan dalam kehidupannya dengan benar dan arif, ia akan mendapatkan kebahagiaan sebagaimana yang telah didapatkan pendahulunya.

Dalam arti bukan dosa dan kesalahan tersebut yang diteladani, namun bagaimana cara orang menyikapi dosa-dosa dan kesalahan itu, dosa-dosa dan kesalahan tersebut memang terkadang suka memaksa orang untuk melakukannya, yang pasti, terbukti tidak selamanya manusia mampu menghindari perbuatan salah dan dosa. Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru