oleh

Pakaian Untuk Laksanakan Shalat

-Muslimah-0 views

Cara berpakaian untuk shalat

Pasal ini membahas tentang di syari’atkannya menggunakan pakaian yang indah bagi setiap orang yang memasuki masjid untuk melaksanakan shalat, biasanya para fuqaha Menutup Aurat dalam Shalat, memang sebagian fuqaha mengira bahwa pakaian yang di kenakan dalam shalat sama dengan pakaian yang di kenakan untuk menutup aurat dari pandangan orang.
Mengenai pakaian dalam shalat ini, mereka mengambil dalil dari firman Allah, yaitu : “Janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak darinya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya.” Selanjutnya, Allah berfirman : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya”, yaitu perhiasan yang tertutup dalam pakaian “kecuali kepada suami mereka.” (Q.S. An-Nur : 31). 

Selanjutnya,para fuqaha mengatakan : “Seorang wanita di perbolehkan menampakkan perhiasan luar yang biasa tampak, di dalam shalat, sedangkan perhiasan dalam yang tertutup tidak boleh di perlihatkan.


Mengenai “Perhiasan yang biasa tampak” ini, kaum salaf berselisih menjadi dua pendapat, yaitu :
1. Ibnu Mas’ud dan ulama yang sependapat dengan beliau, mengatakan : “Yang di maksud adalah pakaian.”
2. Ibnu Abbas dan ulama’ yang sependapat dengan beliau, mengatakan : “Yang di maksud adalah perhiasan yang terdapat pada wajah dan dua kelapak tangan, seperti : Celak dan cincin. 


Berangkat dari dua pendapat ini, para fuqaha berselisih pendapat mengenai hukum melihat wanita ajnabiyah, ada yang mengatakan di perbolehkan melihat wajah dan kedua tangannya, tanpa di sertai syahwat, ini pendapat Abu Hanifah, Syafi’i dan salah satu pendapat dalam madzhab Imam Ahmad.


Ada pula yang mengatakan tidak di perbolehkan, ini pendapat yang menonjol dalam madzhab Imam Ahmad, ia berkata : Setiap bagian tubuhnya, termasuk kukunya adalah aurat.


Ini juga merupakan pendapat Imam Malik, Allah telah menjadikan dua perhiasan, yaitu : perhinsan yang zhahi (tampak) dan perhiasan yang bathin (yang tidak tampak).
Allah memperbolehkan seorang wanita memperlihatkan perhiasan zhahirnya kepada selain suami dan orang-orang yang tak memiliki hubungan mahram.


Adapun perhiasan yang tidak tampak, hanya boleh di perlihatkan kepada suarni dan orang-orang yang mempunyai hubungan mahram dengannya, sebelum turunnya ayat-ayat hijab, kaum wanita keluar tanpa mengenakan jilbab, sehingga kaum pria bisa melihat wajah dan kedua tangannya.


Pada masa itu, wanita di perbolehkan memperlihatkan wajah dan kedua telapak tangannya, ketika itu di perbolehkan untuk melihatnya, karena memang boleh di perlihatkan, kemudian, Allah menurunkan ayat hijab. dengan firman-Nya : “Wahai Nabi, kafakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya.” (Q.S. Al-Ahzab : 59).
Setelah itu, bagian wajah wanita di tutup dari pandangan kaum pria, itu terjadi semasa Nabi Saw menikahi Zainab binti Jahsy. Beliau mengulurkan kain penutup dan melarang Anas bin Malik melihatnya.


Ketika beliau memilih Shafiyah binti Huyay, pada masa Perang Khaibar, para sahabat berkata,”Bila beliau menghijabnya, berarti ia menjadi salah satu ummahatul mukminin, jika tidak, berarti menjadi salah seorang budak beliau. Lalu beliau menghijabnya. Karena itulah, Allah memerintahkan agar tidak ada yang meminta kepada isteri-isteri beliau kecuali dari belakang tabir serta memerintahkan isteri-isteri beliau, puteri-puteri beliau dan isteri-istri orang berirnan agar mengulurkan jilbabnya.


Jilbab adalah mala’ah, Ibnu Mas’ud dan ulama yang lain menyebutnya dengan rida’, masyarakat umum menyebutnya izar, yaitu semacam baju kurung besar yang menutup kepala dan seluruh badan wanita.


Ubaidah dan ulama lainnya menyebutkan, bahwa jilbab itu adalah pakaian yang menutup anggota tubuh, rnulai dari bagian atas kepala, sehingga hanya kedua matanya saja yang tampak. 


Ia sejenis dengan niqab, ”cadar”, jadi, para wanita dahulu mengenakan niqab, di dalam “Ash-Shahih” di sebutkan : “Sesungguhnya wanita-wanita yang sedang melakukan ihram, tidak mengenakan niqab dan tidak mengenakan qaffazain, dua sarung tangan.”


Jika mereka di suruh mengenakan jilbab, agar tidak di kenal, artinya mereka di perintahkan menutup wajah atau rnenutup wajah dengan niqab, maka wajah dan kedua tangan itu termasuk perhiasan yang tidak boleh mereka perlihatkan kepada pria ajnabiy, jadi, yang boleh lihat oleh para pria ajnabiy tinggallah pakaian yang tampak saja, dengan demikian, Ibnu Mas’ud menyebutkan hukum yang final, sedangkan Ibnu Abbas menyebutkan hukum pertama, karena itu, firman Allah : “….atau kepada wanita-wanita Islam atau kepada budak-budak mereka.”


Ini menunjukkan bahwa seorang wanita rnuslimah di perbolehkan memperlihatkan perhiasan bathinah (yang tertutup) kepada budaknya. Mengenai hal ini terdapat pula dua pendapat, yaitu :


Yang Pertama : Yang di maksud adalah budak-budak wanita atau budak-budak wanita dari kalangan Ahli Kitab, sebagaimana yang telah di katakan lbnul Musayyib dan di kuatkan oleh Imam Ahmad dan ulama’-ulama’ lainnya. Yang Kedua : Yang di maksudkan adalah budak laki-laki, sebagaimana yang di katakan oleh Ibnu Abbas dan ulama’-ularna’ lainnya , ini juga rnerupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i dan ulama’-ulama’ lainya serta merupakan pendapat lmam Ahmad dari riwayat yang lain. 


Pendapat ini mengandung konsekuensi di perbolehkannya seorang budak laki-laki melihat rnajikan-majikan wanita mereka, ada beberapa hadits yang menyebutkan hal ini, ini di dasarkan kebutuhan, karena seorang nyonya lebih sering perlu berbicara kepada budaknya dari pada keperluanya untuk melihat seorang saksi, pekerja, atau seorang yang sedang melamarnya.


Jika melihat orang-orang ini saja mereka di perbolehkan, maka kepada seorang budak mereka lebih layak untuk di perbolehkan melihat, bukan berarti si budak lantas rnerupakan mahram bagi nyonyanya, sehingga di perbolehkan bepergian bersamanya. 


Kedudukannya sama dengan pembantu laki-laki yang sudah tidak memiliki keinginan terhadap wanita, yang boleh melihat nyonyanya, tetapi bukan merupakan mahram yang di perbolehkan untuk bepergian bersamanya.


Jadi, tidak semua orang yang di perbolehkan untuk melihat di perbolehkan pula untuk bepergian bersamanya atau berkhalwat (berduaan) dengannya. 

Sebaliknya, seorang budak di perbolehkan untuk melihat majikan wanita mereka di karenakan kebutuhan, tapi in tidak boleh berkhalwat dan bepergian dengannya, karena ia tidak tercakup di dalam sabda Nabi Saw :
“Janganlah seorang wanita bepergian jauh (safar) kecuali bersama suami atau orang yang mempunyai hubungan mahram.” (H.R. Muttafaq’alaih).


Sebab, seorang budak yang telah di merdekakan di perbolehkan untuk menikahi bekas nyonyanya sebagaimana seorang wanita boleh di nikahi oleh bekas suami saudara perempuannya, apabila saudaranya itu telah di ceraikan.
Mahram adalah : Orang yang haram (menikahi seseorang wanita) selama-lamanya, karena itu, Ibnu Umar berkata : “Safar yang di lakukan oleh seorang wanita bersama budaknya adalah kebinasaan.”


Jadi, ayat ini memberikan keringanan kepada wanita muslimah untuk memperlihatkan perhiasan kepada orangorang yang mempunyai hubungan mahram maupun yang tidak mempunyai hubungan mahram. 


Adapun hadits tentang safar, hanya mengizinkan bersama orang-orang yang mernpunyai hubungan mahram, dalam ayat ini di sebutkan : “….Wanita-wanita Islam dan budak-budak yang mereka miliki serta pelayan-pelayan yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita.” (Q.S. An-Nur : 31).
Ada pun firman Allah : “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya,” merupakan dalil bahwa seorang wanita harus menutup lehernya, jadi, leher termasuk perhiasan bathin, bukan perhiasan lahir, termasuk perhiasan-perhiasan yang ada padanya seperti kalung dan lain-lain.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya