Pengertian Orang Munafik

Orang munafik adalah orang yang hatinya jelek kepada seseorang tapi berpura-pura baik, orang yang hatinya kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, tapi berpura-pura beriman.

Yang demikian itu karena di dalam hati orang munafik itu terlebih dahulu ada penyakit hasut kepada orang yang mendapat anugerah dari Tuhannya, oleh karena di dalam hati itu ada penyakit, sebelum penyakit itu mampu di hilangkan, semakin hari penyakit itu akan menjadi semakin bertambah parah, terlebih ketika temannya yang di benci itu semakin mendapatkan keberhasilan hidup yang di takutinya dapat menggeser kebesaran hidupnya sendiri.

Oleh karena itu, sifat munafik itu selalu ada kaitan dengan orang-orang yang ada di dekatnya, karena yang di hasuti itu pasti temannya sendiri, bukan orang lain, yaitu antara dua orang yang saling berebut pengaruh di dalam satu lingkungan komunitas masyarakat.

Oleh karena itu, perilaku orang munafik itu tidak saja dapat merusak dirinya sendiri, tapi juga mampu menimbulkan penyakit menular kepada lingkungan dekatnya, itulah karakte manusia yang paling jelek dan musuh utama orang beriman, karena orang munafik itu mampu membunuh temannya sendiri dari dalam satu selimut bukan dengan senjata tajam tapi dengan ucapan yang beracun.

Ayat-ayat Al-Qur‘an Al-Karim banyak menggambarkan karakter dan perbuatan orang munafik itu, bahkan jumlahnya tidak terhitung, di antaranya adalah yang dinyatakan Allah di dalam Surat Al-Baqarah ayat delapan sampai dengan ayat dua puluh.

Marilah kita mengikuti ayat-ayatnya, Allah berfirman: “Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”, mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar dalam hati mereka ada penyakit, lalu di tambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih, di sebabkan mereka berdusta.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 8-10).

Orang munafik itu mengaku percaya kepada Allah padahal tidak, dengan berpura-pura itu, mereka mengira menipu Allah dan temannya yang beriman padahal sesungguhnya tidak demikian, bahkan mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(QS:2/9).

Sifat munafiq itu seringkali di sebabkan karena adanya penyakit hasud yang menutup mata hati seseorang untuk mengakui anugerah Allah yang di berikan kepada saudaranya sendiri, karena orang yang hasud itu takut apa yang sudah ada pada dirinya menjadi hilang.

Sifat munafik itu seringkali muncul karena orang takut kalah bersaing, baik urusan ekonomi, sosial masyarakat, maupun agama, takut usaha dagangnya di tinggalkan pembeli, takut kedudukan di masyarakat menjadi tergeser, takut santri-santri dan muridnya berpindah tempat belajar dan tempat mengaji, takut jama‘ahnya berganti induk semang, padahal ujung-ujungnya hanya takut sumber penghidupan dan sandang pangannya berpindah tangan, sehingga menjadikan dua orang yang satu profesi menjadi saling bermusuhan.

Meski mereka berdua adalah saudara seperguruan, namun oleh karena mereka tidak berani membuka medan secara terang-terangan maka rasa permusuhan itu menjadikan mereka mampu bermuka dua dalam penampilan, yaitu ketika bertemu dengan saingannya berpura-pura baik, tapi di belakang punggung musuhnya hatinya merencanakan kejahatan.

Terlebih ketika yang saling bersaing itu adalah dua tokoh agama yang sama-sama mempunyai ikutan, bayangan takut kehilangan wilayah dan di tinggal jama‘ah seringkali menjelma menjadi penyakit kronis yang menyerang hati nurani yang seharusnya terjaga.

Yaitu ketika endapan lumpur hawa nafsu saat berkolaborasi dengan lamunan menjadi karat yang lengket yang menyelimuti angan, bagaikan mendung pekat menyelimuti matahari, maka orang menjadi gelap mata dan lupa diri bahwa dirinya itu adalah seorang qudwah atau orang yang di ikuti.

Sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama yang di segani, maka penyakit itu segera saja menular kepada orang-orang yang ada di dekatnya, pengikut dan pembantunya, manakala penyakit ruhani itu telah terekspresikan di dalam sepak terjang, baik dengan hasutan maupun fitnah-fitnah keji dan bahkan provokasi.

Dengan itu orang yang hatinya ada penyakit kronis itu mengira dapat menjatuhkan lawannya, padahal yang pasti akan merugikan diri sendiri, dengan ceramahnya misalnya, yang dahulu mampu mendatangkan kebajikan dan persatuan, bahkan menuntun orang menuju jalan kebaikan.

Namun sekarang, ketika hati sang tokoh itu sudah terinveksi virus kemunafikan, ceramah itu malah menjadi ajang kemaksiatan dan penyebab perpecahan, karena saat berceramah itu ada kesempatan untuk menjatuhkan lawan saingan.

Bahkan di majlis dzikir dan mujahadah yang di istiqamahkan, yang seharusnya di situ penyakit bawaan menjadi sembuh dan di hilangkan, hati yang susah mendapatkan kegembiraan, namun yang terjadi malah timbulnya permusuhan, karena selepas acara dzikir dan mujahadah itu di bubarkan, di majelis itu juga kasak-kusuk dan bergosip ria menjadi langganan, sehingga komunitas orang suci itu malah menjadi sumber kemunafikan.

Hasilnya, acara dzikir dan gosip selanjutnya di kemas dalam satu paket perencanaan, berdzikir sambil menfitnah menjadi kebiasaan, berdalih menyelamatkan ikhwan dari orang sempalan, padahal hasilnya malah membesarkan lawan, karena fitnah murahan itu tidak terbukti dengan kenyataan.

Sebabnya, masing-masing orang hanya mementingkan ego pribadi, dengan menghalalkan segala cara yang penting dapat membendung langkah lawan yang di benci, sehingga lahirlah kesepakatan dalam ungkapan: ―siapa saja boleh asal bukan dia yang di benci.

Akhirnya yang berkuasa menjadi pemenang dan yang lemah segera tersingkirkan, sehingga kegiatan di dalam komunitas dzikir itu tidak lagi dapat di bedakan, mana etika agama yang harus di laksanakan dan mana yang paradigma politik yang seharusnya di tinggalkan, akibatnya acara agama hanya di kemas menjadi ajang mengadu nasib, baik untuk memenuhi kepentingan pribadi maupun golongan yang senasib.

Dengan hidayah yang tersisa di dalam hati, buah ikrar suci di hadapan guru yang di cintai, kadangkala pandangan mata hati sang salik membuka cela kebenaran yang hakiki, bahwa selama ini ada kesalahan yang tidak di sadari dan jalan masuk sebuah pengakuan sudah terfasilitasi, namun dosa dan tapak tilas yang membekas, menghadang jalan kebaikan sehingga langkah kebajikan menjadi was-was, karena takut di lihat para pengawas, yang setiap hari mendoktrin jama‘ah dari atas, kalau ketahuan karir dan harapan bisa menjadi kandas, karena kesepakatan sudah di tulis di atas kertas maka jabatan dan sumber pendapatan menjadi terlepas.

Itulah romantika hidup orang beriman yang sedang terserang penyakit sampingan, meski pahit di rasakan juga memalukan, karena yang mestinya melarang malah melakukan, namun ada pelajaran yang mampu membawa kemanfaatan, asal hati yang selamat mendapat pertolongan, sehingga setiap kejadian menjadi pelajaran, agar yang asalnya bodoh mendapatkan pemahaman, bahwa di dalam hidup memang harus ada latihan.

Itu adalah tarbiyah azaliyah, kawah candradimuka di alam nyata, urusan rahasia guru suci menempa jiwa, agar mental murid dan anak asuh menjadi dewasa, maka hati yang pasrah akan mendapatkan hidayah.

Allah melanjutkan firman-Nya: “Dan bila di katakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar, apabila di katakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syetan-syetan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. (QS. (2) : 11-14).

Kelebihan hidup yang di anugerahkan Allah kepada hamba-Nya, baik berupa ilmu pengetahuan, harta benda maupun derajat kemasyarakatan, apabila hal itu datangnya tidak di barengi dengan iman yang kuat, maka kelebihan-kelebihan itu seringkali malah menerbitkan sifat sombong kepada pemiliknya.

Sebabnya, karena orang yang mendapatkan kelebihan itu merasa memiliki kelebihan, padahal itu bukan miliknya tapi milik Allah yang di titipkan kepadanya sebagai amanat yang harus di salurkan lagi kepada orang lain, meski hanya sebagian darinya: “Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia.” (Q.S. Al-An’am : 122).

Apabila orang yang mendapatkan kelebihan hidup itu akhirnya menjadi sombong maka akibatnya mereka jarang mau kumpul dengan orang lain kecuali bersama orang yang levelnya sama dengan dirinya.

Mereka menghindari berkumpul dengan orang beriman yang senang bedrzikir di masjid-masjid karena kebanyakan orang yang ahli dzikir itu bukan dari golongan yang selevel dengan dirinya, dari dahulu sampai sekarang demikian itulah sifat manusia.

Itulah sebabnya, maka orang munafik itu tidak mau kumpul bersama orang beriman pada zaman Rasulullah Saw, karena orang-orang beriman yang ada di sekeliling Nabi saat itu kebanyakan adalah orang yang kurang berada.

Kesombongan hati itulah yang menyebabkan orang munafik saat itu enggan hidup berdampingan dengan orang yang beriman. Karena ilmu, harta benda dan kekuasaan telah menipu harapan, mereka menganggap orang yang beriman itu dari golongan terbelakang yang kurang sehat akal dan pikiran, yang terlahir dari kalangan rendahan sehingga mampunya hanya hidup secara tradisional.

Padahal sejatinya orang munafiq itulah yang bodoh dan ketinggalan zaman, karena gelora hawa nafsu telah mengacau jalan pikiran sehingga kemuliaan semu selalu menghantui angan, di kira harta dunia tempat segalanya, padahal itu yang akan menjadikan mereka hina sebab kemunafikan yang mengakar yang tidak juga segera sirna.

Dengan itu mereka mengira telah berbuat perbaikan, padahal yang terjadi hanya kerusakan, karena kelebihan itu telah menipu kehidupan, sehingga hati mereka selalu ingkar kepada kebaikan, akibatnya mereka tidak mampu memilih jalan yang benar, mana yang bermanfaat dan mana yang membahayakan, kecuali ketika kesadaran datang bersama ajal kematian, di saat iman dan kesadaran hati sudah tidak berguna lagi dan penyesalan menjadi sia-sia, maka siksa neraka telah menunggu di batas
perjalanan.

Dengan firman-Nya di atas Allah memberi peringatan kepada hamba-Nya, agar sejarah tidak mesti selalu datang berulang, dengan ayat selanjutnya Allah membuat perumpamaan terhadap keadaan orang munafik tersebut: “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) atau seperti (orang-orang yang di timpa) hujan lebat dari langit di sertai gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka, setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti, jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 17-20).

Sifat munafik itu bisa berakibat buruk kepada manusia mengikuti fungsi hidup manusia itu di tengah masyarakat, dengan ayat-ayat di atas Allah memberikan contohnya kepada tiga golongan manusia, yaitu kepada tokoh Agama, kepada santri dan kepada orang umum.

Apabila sifat munafik itu berada di dalam hati seorang pemuka agama, maka betapapun ceramahnya sanggup menghidupkan hati orang yang sedang mati, menyuburkan iman dan membangkitkan semangat ibadah para pendengarnya, akan tetapi bagian untuk dirinya sendiri, sifat munafik itu justru menjadikan hatinya tertutup dan mati, seperti: “Orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat, mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. (2) : 17-18).

Sebabnya, karena sejatinya dia sendiri tidak yakin dengan ilmu yang di sampaikan itu, terlebih dengan niat mencari penghasilan bukan ibadah, maka para pendengar yang ikhlas itu akan mendapatkan hidayah karena keikhlasan hati mereka, sedangkan penceramah itu juga akan mendapatkan sesuai niat yang ada di dalam hati mereka sendiri. Apabila niat itu ternyata hanya untuk mendapatkan bayaran, maka bayaran itu yang akan di bawa pulang, sedangkan sepanjang jalan hatinya tetap menerawang isi amplop yang ada di tangan.

Itulah gambaran orang munafik, dalam arti lahirnya berbuat kebaikan sedangkan batinnya menipu diri sendiri, apabila orang munafik itu adalah orang umum, dalam arti berpura-pura iman tapi hatinya kafir, maka setiap kebaikan yang masuk selalu ditolaknya, ilmu-ilmu agama yang di dengar bagaikan sengatan petir yang menyengat telinga, kebenciannya dengan ajaran agama identik kebencian kepada mati.

Mereka takut tidak lagi dapat berbuat kejahatan yang masih di senangi, takut dosa dan kesalahan terbongkar, sehingga menjadi mati, mati karirnya, mati usahanya yang kemudian menjadi mati mata pencahariannya.

Maka Allah berfirman: “Atau seperti (orang-orang yang di timpa) hujan lebat dari langit di sertai gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati.” (Q.S. (2) : 19).

Apabila sifat munafik itu berada di dalam hati seorang santri, maka ia akan menjadi santri yang membandel, dalam arti hanya taat di saat dekat dengan sang guru, tapi setelah jauh, pelajaran yang sudah di dapatkan dari gurunya sedikitpun tidak mampu merubah perilaku.

Fatwa ulama itu hanya menghidupkan hati sesaat seperti sinar kilat menerangi bumi, saat berkumpul dan mendengarkan ceramah itu, di saat mengikuti mujahadah dan riyadhah, akan tetapi setelah kembali di dalam komunitas yang dahulu dan jauh dari lingkungan gurunya itu, sekejap hidayah itu hilang bagaikan buih di terpa angin malam.

Itulah pertanda ada virus munafik dalam hati seseorang, sehingga kedekatan dengan gurunya itu tidak mampu membentuk akhlaknya menjadi seperti akhlak gurunya, tidak mampu mengokohkan aqidahnya seperti aqidah gurunya, tidak dapat menguatkan ibadah dan perjuangan seperti ibadah dan perjuangan gurunya.

Bahkan kedekatan itu malah di jadikan kesempatan untuk mencari kehormatan duniawi, untuk kecukupan sandang pangan dan kebutuhan pribadi, akibatnya, nama gurunya sering di catut untuk memperturutkan kepuasan pribadi dan marwah gurunya di catut sekedar temannya supaya ikut kepada ucapannya.

Tidak hanya itu, teman-temannya yang tidak mau di atur seperti aturannya, bukan aturan gurunya, segera di singkirkan, di anggap sempalan yang merugikan, sehingga jajaran pengurus jama‘ah yang di pilih dari keluarga dan golongannya sendiri, sekedar karena orang-orang tersebut menurut kepada kekuasaan yang sedang di percayakan guru kepadanya.

Demikian itu karena ajaran gurunya yang mulia itu tidak mampu di fahami di dalam hati nurani, di sebabkan karena terhalang sifat munafik yang masih terselip di dalam lipatan hati, sehingga ajaran suci itu hanya mampu menerangi mata hati sesaat, selanjutnya kebiasaan yang terbawa dari habitat lama menjadi kambuh lagi.

Allah memberikan sinyalemen dengan firman-Nya: “Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka, setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. (2) : 20).

Di akhirat nanti, orang munafik itu akan menjadi orang-orang yang paling merugi, seperti orang lapar yang sudah mencium bau masakan, tapi tidak ikut meni‘mati makan karena terhalang penyakit-penyakit bawaan, sehingga ketika mereka sudah di kumpulkan bersama rombongan orang-orang yang beriman di halaman syurga, mereka di campakkan kembali ke neraka dengan di saksikan oleh teman-teman yang dahulu di dzalimi saat di dunia.

Allah menggambarkan keadaan mereka dengan firman-Nya: “Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahayamu”. Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu). Lalu di adakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa” (Q.S. Al-Hadid (47) : 13).

Oleh karena aktifitas hidup orang-orang munafik itu saat di dunia selalu bersama-sama dengan orang beriman, maka sejak di alam barzah, mereka di dekatkan dengan rombongan orang beriman, namun oleh karena mata hati orang munafik itu sudah mati sejak di dunia, maka di akhirat itu mereka di bangkitkan dalam keadaan gelap gulita, tidak mendapat penerang lagi seperti saat di dunia, sehingga mereka minta penerang yang ada di tengah teman-temannya.

Hanya karena di akhirat tidaklah sama seperti di dunia, oleh karena dahulu hatinya sudah berbeda, maka di akhirat perbedaan itu menjadi nyata.

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: