oleh

Pembahasan Tentang Wasiat Dalam Islam

Pengertian Wasiat Dalam Islam

Kematian merupakan sebuah kepastian, ketika waktu kematian telah datang, maka kematian tersebut tidak akan dapat di tangguhkan, seseorang tidak akan pernah mengetahui kapan kematiannya datang dan di bumi manakah ia akan meninggal.

Terkadang kematian datang secara mendadak, terutama pada akhir zaman sekarang ini banyak terjadi kematian mendadak dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya Hari Kiamat.

Karena seseorang tidak mengetahui kapan waktu kematiannya dan kematian itu datangnya secara tiba-tiba, maka hendaknya seorang muslim menyiapkan wasiat di sampingnya, sehingga ketika kematian telah mendatanginya, ia masih berkesempatan untuk memperoleh pahala dari wasiat yang di laksanakan oleh penerimanya.

Berkata Bakr Al-Muzani : ”Apabila kalian mampu untuk tidak bermalam, kecuali wasiat (telah) tertulis di samping kepalanya, maka lakukanlah, karena ia tidak mengetahui mungkin ia (masih) bermalam dengan penduduk dunia dan pagi (harinya ia telah menjadi) penduduk akhirat.”

Apa Itu Wasiat?

Wasiat adalah perintah seseorang kepada orang lain untuk melakukan suatu tindakan setelah kematiannya atau perintah untuk menyumbangkan hartanya setelah kematiannya.

Hukum Wasiat

Hukum asal wasiat adalah mubah (boleh), namun dalam kondisi tertentu hukum wasiat dapat berubah mengikuti lima hukum taklifi, yaitu dapat menjadi wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah.

Beberapa hukum wasiat dan jenisnya

a. Wasiat Wajib
Wasiat menjadi wajib hukumnya bagi seseorang yang memiliki hutang tetapi ia tidak memiliki bukti, baik berupa hutang kepada Allah atau hutang kepada manusia, hal ini agar hutang tersebut tidak menjadi beban baginya setelah kematiannya. (H.R. Tirmidzi Juz 3 : 1078).

b. Wasiat Sunnah
Wasiat menjadi sunnah hukumnya bagi seorang yang seorang memiliki banyak harta dan kerabatnya yang bukan ahli waris adalah orang-orang yang membutuhkan, tapi wasiat tersebut tidak boleh melebihi sepertiga hartanya. (H.R. Ad-Daraquthni dalam Sunannya di Kitabul Washaya : 3).

c. Wasiat Makruh
Wasiat menjadi makruh hukumnya bagi seorang yang hartanya sedikit dan ahli warisnya adalah orang-orang yang membutuhkan. (H.R. Muttafaq‘alaih, Bukhari Juz 1 : 1233 dan Muslim Juz 3 : 1628).

d. Wasiat Haram
Wasiat menjadi haram hukumnya jika melebihi dari sepertiga harta atau jika wasiat tersebut di berikan kepada ahli waris. (H.R. Muttafaq‘alaih, Bukhari Juz 1 : 1233, Muslim Juz 3 : 1628, Imam Ahmad, At-Tirmidzi Juz 4 : 2120, Abu Dawud : 2870 dan Ibnu Majah : 2713).

e. Wasiat Mubah
Wasiat yang mubah adalah selain jenis wasiat di atas, misalnya seorang yang kaya dan ahli warisnya juga merupakan orang yang mampu atau seorang yang hartanya sedikit, namun ahli warisnya bukanlah orang-orang yang membutuhkan.

Akad Wasiat

Wasiat dianggap sah dengan lafazh yang terdengar dari pemberi wasiat atau melalui tulisannya, di riwayatkan dari ’Abdullah bin ’Umar Ra, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda :

“Tidak layak bagi seorang muslim yang mempunyai hak untuk di wasiatkan melewati dua malam, kecuali wasiatnya tertulis padanya.” (H.R Muttafaq‘alaihi, Bukhari Juz 3 : 2587 dan Muslim Juz 3 : 1627).

Isi Wasiat

Hendaknya isi wasiat di awali dengan :
a. Menyebutkan pihak yang di beri wasiat.
b. Pesan dua kalimat Syahadat.
c. Mengingatkan tentang datangnya Hari Kiamat.
d. Pesan ketaqwaan, memperbaiki hubungan kekerabatan dan agar mentaati Allah dan Rasul-Nya.
e. Pesan agar berpegang teguh kepada agama Islam, hingga datangnya kematian. (H.R. Al-Baihaqi Juz 6 : 12463 dan Ad-Daraquthni).

Pembatal Wasiat

Hal-hal yang dapat membatalkan wasiat, antara lain adalah :
a. Pemberi wasiat menarik wasiatnya.
b. Harta yang di wasiatkan hilang atau musnah.
c. Penerima wasiat gila.
d. Penerima wasiat meninggal dunia sebelum pemberi wasiat.
e. Penerima wasiat menolak.
f. Penerima wasiat membunuh pemberi wasiat.

Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw, kepada keluarganya dan para sahabatnya dan sebagai penutup do’a kami, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Baca juga...  Pengertian Musaqah (Merawat Pohon) dan Muzara'ah (Menggarap Tanah)

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru