oleh

Pencerahan Spiritual

-Tasawuf-0 views

Pencerahan Spiritual

Dengan mujahadah dan dzikir yang dilaksanakan oleh seorang salik sebagai pelaksanaan thariqat secara istiqamah, akal (rasio) akan selalu mendapatkan pencerahan dari hati dengan nur hidayah, nur hidayah tersebut adalah buah dzikir yang dijalani. Hasilnya, aktifitas akal yang terkadang suka kebablasan dapat terkendali dengan kekuatan aqidah (spiritual) yang benar.

Dengan dzikir itu, seperti meditasi, orang beriman hendaknya mampu mengosongkan irodah dan qudroh basyariyah yang hadits (baru) untuk dihadapkan kepada irodah dan qudroh Allah Ta‘ala yang azaliah, maksudnya, obsesi, rencana dan kemampuan diri untuk mengatur kehidupan kedepan, baik urusan dunia maupun urusan akhirat, saat itu, dengan kekuatan dzikir yang dilaksanakan tersebut, dilepas sementara dari bilik akalnya, kebutuhan hidup tersebut dihadapkan dan diserahkan kepada perancanaan Allah bagi setiap hamba-Nya sejak zaman azali serta kepada kemampuan-Nya yang Maha Kuasa untuk memberikan solusi dan pertolongan kepada hamba-Nya, ketika dengan pelaksanaan meditasi islami tersebut, rasio berhasil dikosongkan dari kemampuan secara basyariyah, terlebih apabila pengosongan itu buah ibadah dan tawassul adalah merupakan buah syukur yang diekspresikan di dalam bacaan dzikir, hasil yang diharapkan, yang masuk setelah pengosongan itu adalah rahasia bacaan dzikir yang dilakukan tersebut. 

Rahasia yang terkandung di dalam kalimat La Ilaaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) yang dilafazdkan berkali-kali secara istiqomah itu. Rahasia bacaan yang masuk tersebut adalah ilham dan inspirasi spontan di dalam hati seorang hamba yang akan mampu memberikan solusi dan jalan keluar untuk menyelesaikan setiap kesulitan yang sedang dihadapi.

Itulah rahasia Nubuwah yang dahulu diberikan kepada para Nabi, kemudian menjadi Walayah ketika diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh, sejatinya adalah wahyu yang disampaikan : “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu.” (Q.S. 42/51), ketika rahasia Nubuwah itu telah meresap di dalam hati (spiritual). 

Seperti air yang mengalir dari cabang-cabang anak sungai, ketika keluar dari muara, air itu kemudian melebur di dalam samudera yang tidak terbatas, maka yang asalnya kotor seketika menjadi bersih, yang asalnya najis menjadi suci. Seperti itulah pencerahan akal dari rahasia dzikir, sehingga hati yang asalnya susah langsung menjadi gembira : “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra‘d/28).

Dengan itu, manusia tidak sekedar menjadi pintar saja, tapi juga cerdas. Mereka siap menjawab segala pertanyaan dan teka-teki yang ditampilkan kehidupan dengan benar dan rahmatan lil alamin, karena akal mereka senantiasa mendapatkan pencerahan dari hati. Itulah hasil perpaduan antara dzikir dan fikir. Karena demikian pentingnya pelaksanaan dzikir ini, maka Allah Ta‘ala telah membuat persaksian dengan firman-Nya : “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran/191).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya