Al-Qur’an adalah sebuah kitab suci bagi orang Islam, baik ketika masih hidup Rasullullah Saw maupun sesudah beliau wafat sampai sekarang, baik yang ada di kawasan timur tengah sampai ke benua Eropa, Al-Qur’an yang dulu sampai sekarang masih tetap sama, para sejarawan dan kritikus sejarah, baik yang orientalis maupun dari ilmuan Islam sendiri mencoba melakukan penelitian, menulis dan mengangkat tema sentral, yaitu Al-Qur’an dengan berbagai sudut padang. 

Ada yang melihat dari sudut bahasa dan sastranya, ada yang melihat dari sudut bentuk dan huruf yang di gunakannya, ada yang melihat dari sudut pandang apa yang di kandungnya dan ada yang melihat dari sudut pandang kronologis turunnya surah dan ayat, kesemuanya itu memberikan gambaran, bahwa Al-Qur’an bagaikan lautan luas yang dalam dan pasti tidak akan pernah selesai dalam memperbincangkannya.

Al-Qur’an Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya di tentukan oleh Allah, dengan cara tawqifi yaitu cara yang pengerjaannya tidak di buat-buat atau asal jadi, atau memberikan tambahan di dalamnya sesuai dengan kehendak manusia, penggunakan metode sebagaimana metode penyusunan buku-buku ilmiah,seperti membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan di bagi dalam bab-bab dan pasal-pasal, metode ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti di terangkan.

Persoalan aqidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik, sejarah umat-umat yang lalu di satukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta, terkadang pula, ada suatu persoalan atau hukum yang sedang di terangkan tiba-tiba timbul persoalan lain, sepintas tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya, misalnya, apa yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah 2 : 216-221, yang mengatur hukum perang berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim dan perkawinan dengan orang-orang musyrik, di maksudkan agar memberikan kesan, bahwa ajaran-ajaran Al-Qur’an dan hukum yang tercakup di dalamnya, merupakan satu kesatuan yang harus di taati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lain.

Demikian ini membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak dapat di persamakan dengan kitab-kitab yang di kenal manusia, tujuan Al-Qur’an juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah, untuk memahaminya, terlebih dahulu harus di ketahui periode turunnya Al-Qur’an, mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Qur’an akan lebih jelas.

Pendekatan yang dilakukan dalam makalah ini adalah pendekatan antropologis, yaitu mencoba memahami Al-Qur’an dengan menggunakan kerangka yang bertolak dari pemahaman, bahwa manusia memiliki prilaku dan cara berfikir dan bertingkah laku yang berbeda dengan manusia lainnya dan memiliki keaneka ragaman, sekaligus menggunakan pendekatan sejarah (Historical Approach), yaitu di dalamnya di bahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang dan pelaku dari peristiwa tersebut.

Dengan menggunakan pendekatan ini, segala peristiwa dapat di lacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut, pendekatan kesejarahan ini amat di butuhkan dalam memahami Al-Qur’an, karena Al-Qur’an itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. 

Dalam hubungan ini terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut pendekatan sejarah, ketika ia mempelajari Al-Qur’an ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa pada dasarnya kandungan Al-Qur’an itu terbagi menjadi dua bagian. 

Bagian pertama, berisi konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan, oleh karena itu, dari uraian di atas menimbulkan permasalahan yang perlu pengkajian mendalam, khususnya pada tahapan penulisan Al-Qur’an pada masa Rasulullah Saw sampai pada masa khulafaurrasyidin dan cara memelihara Al-Qur’an sampai saat ini.

%d blogger menyukai ini: