oleh

Pengertian dan Hukum Zhihar

Pengertian Zhihar

Zhihar adalah suami menyamakan isterinya atau sebagian anggota tubuh isterinya dengan wanita yang haram untuk di nikahinya selama-lamanya.

Seperti ucapan, ”Engkau bagiku adalah seperti punggung ibuku.” atau “Engkau bagiku adalah seperti punggung saudara perempuanku,” dan yang semisalnya.

Hukum Zhihar

Zhihar hukumnya adalah haram dan Allah mencela para pelakunya. (Q.S. Al-Mujadilah : 2).

Unsur Zhihar

Zhihar dapat terjadi jika terpenuhi beberapa unsur-unsur sebagai berikut :

1. Adanya muzhahir (orang yang menzhihar, suami)
Zhihar hanya dapat di lakukan oleh suami. (Q.S. Al-Mujadilah : 2).

Sehingga jika seorang isteri menzhihar suaminya, maka zhiharnya sia-sia (tidak sah), ini adalah pendapat Jumhur ulama’, Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i.

2. Adanya muzhahar minha (orang yang dizhihar, isteri)
Di syaratkan pada orang yang di zhihar bahwa ia adalah isteri yang sah secara syar’i dari suami yang menzhiharnya.

Yaitu isteri tersebut terikat dengan akad nikah yang sah dan ikatan pernikahan di antara keduanya masih berjalan, sehingga misalnya ada seorang laki-laki yang mengatakan kepada seorang wanita, “Jika aku menikahimu, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku.”

Ucapan tersebut tidak di nilai sebagai zhihar, karena ia mengatakan kepada seorang yang belum berstatus sebagai isterinya.

3. Adanya muzhahar bihi (objek zhihar, yaitu ibu, nenek dan yang semisalnya)
Yaitu suami menyerupakan isterinya dengan wanita yang haram untuk di nikahinya selama-lamanya, seperti : ibunya, neneknya, saudari perempuannya dan yang semisalnya.

4. Adanya shighat zhihar (ungkapan zhihar)
Ungkapan zhihar dapat di lihat dari tiga sisi, antara lain :

a. Dari sisi lafazhnya
Ungkapan zhihar di lihat dari sisi lafazhnya terbagi menjadi dua, yaitu :

– Lafazh sharih
Lafazh sharih adalah lafazh yang jelas menunjukkan maksud untuk menjatuhkan zhihar, misalnya seorang suami mengatakan kepada isterinya, ”Engkau bagiku seperti pungggung ibuku” atau ”Engkau bagiku seperti perut ibuku” dan yang semisalnya.

Baca juga...  Al-Khatharat (Pikiran yang Terlintas Di hati)

– Lafazh kinayah
Lafazh kinayah adalah lafazh yang mengandung makna zhihar dan mengandung makna yang selainnya, sehingga memerlukan niat untuk menjatuhkan zhihar, misalnya seorang suami mengatakan kepada isterinya, ”Engkau bagiku seperti ibuku.”

Jika suami meniatkan sebagai zhihar, maka jatuhlah zhihar dan jika suami
meniatkannya sebagai penghormatan kepada isterinya (bukan zhihar), maka itu bukanlah zhihar.

b. Dari sisi berlakunya
Ungkapan zhihar di lihat dari sisi berlakunya terbagi menjadi dua, yaitu :

– Langsung (tanjiz)
Pada asalnya hukum zhihar adalah langsung, artinya selama zhihar tersebut tidak di kaitkan dengan syarat atau waktu tertentu, maka zhihar langsung berlaku, misalnya seorang suami mengatakan kepada isterinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”

Maka saat itu juga berarti isterinya telah di jatuhi zhihar dan berlaku hukum-hukum zhihar.

– Syarat
Jika suami mengkaitkan zhihar dengan syarat atau waktu tertentu, maka berlakunya zhihar adalah jika terpenuhi syaratnya atau telah tiba waktu yang telah di tentukan.

Misalnya seorang suami mengatakan kepada isterinya, ”Jika engkau masuk rumah, maka engkau bagiku seperti punggung ibuku” atau ”Bulan depan,
engkau bagiku seperti punggung ibuku.”

c. Dari sisi batasan waktunya
Ungkapan zhihar di lihat dari sisi batasan waktunya terbagi menjadi dua, yaitu :

– Tidak terbatas
Selama suami tidak membatasi waktu dalam menzhihar isterinya, maka zhihar tersebut berlaku selamanya, misalnya suami mengatakan kepada
isterinya, “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.” Maka zhihar tersebut berlaku selamanya.

– Di batasi waktu
Jika suami membatasi waktu dalam menzhihar isterinya, maka zhihar hanya berlaku pada waktu yang di tentukan saja, misalnya seorang suami mengatakan kepada isterinya, ” Engkau bagiku seperti pungggung ibuku, selama satu bulan.”

Baca juga...  Zakat Sebagai Upaya Latihan Kepemilikan Materi

Kaffarah Zhihar

Seorang suami yang telah menzhihar isterinya, maka ia di haramkan untuk jima’ dan bersenang-senang dengan isterinya tersebut hingga di tunaikan kaffarahnya.

Dan kaffarah tersebut harus di bayarkan sebelum suami menggauli isterinya. Kaffarah zhihar wajib di tunaikan jika terdapat dua hal; adanya ucapan zhihar dan suami menarik kembali ucapan zhihar tersebut. (Q.S. Al-Mujadilah : 3).

Adapun kaffarah zhihar secara berurutan adalah :
1. Memerdekakan hamba sahaya yang beriman.
2. Jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut.

Udzur yang syar’i, seperti sakit, dua hari raya, haidh dan yang semisalnya- tidak di anggap sebagai pemutus keberurutan.

3. Jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh fakir miskin dari makanan pokok negerinya, jika di lakukan dengan memberi makan pagi atau makan malam kepada mereka, maka itu di anggap cukup. (Q.S. Al-Mujadilah : (3-4).

Berakhirnya Zhihar

Zhihar berakhir dengan salah satu di antara hal-hal berikut :
1. Melaksanakan kaffarah yang di wajibkan
Setelah kaffarah di tunaikan, maka berarti zhihar tersebut telah berakhir.

2. Berlalunya waktu zhihar
Jika seorang suami menzhihar isterinya dalam waktu tertentu, lalu suami tetap memenuhi perkataannya (tetap tidak jima’ dengan isterinya), maka setelah waktu tersebut berlalu isteri tersebut kembali halal baginya dan tidak ada kewajiban apa-apa baginya.

3. Meninggalnya suami atau isteri
Jika suami menzhihar isterinya, lalu salah satu dari keduanya meninggal dunia, maka berakhirlah pula hukum zhihar, ini adalah ijma’ pada fuqaha’.

Adapun jika seorang suami menzhihar isterinya lalu ia menjima’i isterinya dan sebelum membayar kaffarah ia meninggal dunia, maka kewajiban kaffarah tidak gugur dengan kematiannya, bahkan wajib di tunaikan oleh ahli warisnya dengan mengambilkan harta peninggalannya. (H.R. Bukhari Juz 2 : 1852).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru