oleh

Pengertian ‘Iddah

APA ITU ‘IDDAH?
’Iddah adalah masa wanita menunggu dan menahan diri dari menikah setelah wafatnya suami atau perpisahan dengannya. ’Iddah hukumnya adalah wajib atas wanita jika terpenuhi sebab-sebabnya.
 

Macam-macam ‘Iddah.
Ada beberapa macam ‘iddah, antara lain :


a. ’Iddah dengan hitungan quru’
Quru’ adalah haidh. Ini adalah pendapat Ibnu Mas’ud dan Muadz, Imam Abu Hanifah, Ishaq dan Imam Ahmad, ada beberapa kondisi yang menjadikan seorang wanita ber’iddah dengan hitungan quru’, yaitu :
1. Wanita yang telah dijima’i oleh suaminya, lalu dijatuhi talak dan ia masih mengalami haidh, maka ‘iddahnya adalah dengan tiga kali haidh. (Q.S. Al-Baqarah : 228).
2. Wanita yang mengajukan khulu’, maka ‘iddahnya adalah dengan satu kali haidh ‘Iddah bagi wanita yang mengajukan khulu’ kepada suaminya adalah dengan satu kali haidh. Ini adalah pendapat ‘Utsman, Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas. Ini juga pendapat Imam Ahmad, Ishaq, Ibnul Mundzir dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
3. Wanita yang dili’an ‘iddahnya sama dengan wanita yang ditalak. Ini adalah madzhab Jumhur ahli fiqih.
4. Wanita yang dipisahkan dari suaminya, karena ia memeluk Islam sementara suaminya tetap dalam kekufuran, maka ia ber‘istibra adalah dengan satu kali haidh, ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
 

b. ’Iddah dengan hitungan bulan.
Ada beberapa kondisi yang menjadikan seorang wanita ber’iddah dengan hitungan bulan, yaitu :
1. Wanita yang ditalak oleh suaminya yang tidak haidh, baik karena belum haidh atau karena sudah tidak haidh, maka ‘iddahnya adalah tiga bulan. (Q.S. Ath-Thalaq : 4).
2. Wanita yang ditalak dalam keadaan mustahadhah dan ia termasuk wanita yang mutahayyirah, maka ‘iddahnya adalah selama tiga bulan. Ini adalah pendapat Jumhur ulama’ dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.


c. ’Iddah dengan melahirkan kandungan.
Wanita yang ditalak dalam keadaan hamil, baik itu talak raj’i atau talak talak bain atau wanita yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil, maka ‘iddahnya adalah sampai melahirkan.


d. ’Iddah karena wafat.
Wanita yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan tidak hamil, baik ia telah jima’ dengan suaminya atau belum, baik ia masih kecil atau sudah dewasa, maka ‘iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari.


Seorang wanita yang ditinggal mati suaminya selama masa ’iddah ia harus berihdad (berkabung), dengan berdiam diri di rumah suaminya dan tidak menggunakan sesuatu yang dapat mendorong kepada jima’, sehingga wanita yang berihdad tidak diperbolehkan untuk memakai celak mata, wangi-wangian dan tidak diperbolehkan untuk menggunakan perhiasan. Hal ini sebagaimana hadits dari Ummu ‘Athiyah i, bahwa Rasulullah Saw bersabda tentang wanita yang berihdad, yaitu : “Ia tidak boleh memakai celak dan tidak boleh memakai wangi-wangian.” (H.R. Imam Muslim).

Baca juga...  Maryam Binti Jash

Perpindahan Masa ‘Iddah.
Dalam kondisi tertentu terkadang terjadi perpindahan masa ‘iddah, antara lain yaitu :

a. Berpindah dari hitungan quru’ menjadi hitungan bulan, jika seorang wanita mengalami haidh dan ia sedang menjalani masa ‘iddahnya, lalu tiba-tiba ia tidak haidh lagi, maka ia harus menjalani masa ‘iddahnya dengan hitungan bulan dan ia harus mengulang ‘iddahnya dari awal dengan hitungan bulan, karena tidak diperbolehkan menyatukan dua jenis masa ‘iddah. Ini adalah pendapat Jumhur ulama’.


b. Berpindah dari hitungan bulan menjadi hitungan quru’, jika seorang wanita belum pernah mengalami haidh dan ia sedang ber’iddah dengan hitungan bulan, lalu tiba-tiba ia mengalami haidh sebelum habis masa ‘iddahnya tersebut, walaupun hanya sesaat, maka ia wajib menjalani ‘iddah dengan hitungan quru’ dan ia harus mengulang ‘iddahnya dari awal lagi dengan hitungan quru’, karena perhitungan dengan bulan hanya sebagai pengganti perhitungan quru’. Adapun jika ‘iddahnya dengan hitungan bulan sudah selesai, lalu ia mengalami haidh, maka ia tidak wajib untuk mengulang ‘iddahnya dengan hitungan quru’.
Wanita yang sudah tidak haidh (menopause) dan ia sedang ber’iddah dengan hitungan bulan, lalu tiba-tiba keluar darah (dari kemaluannya), jika darah yang keluar tersebut benar-benar darah haidh, maka ia pun harus menjalani ‘iddah dengan hitungan quru’ dan ia harus mengulang ‘iddahnya dari awal lagi dengan hitungan quru’, namun jika darah yang keluar tersebut bukanlah darah haidh, maka ia tidak perlu berpindah hitungan.


c. Berpindah dari ‘iddah karena talak menjadi ‘iddah karena wafat, jika seorang wanita telah ditalak raj’i dalam kondisi tidak hamil dan ia sedang menjalani masa ‘iddah, baik dengan hitungan quru’ atau dengan hitungan bulan, lalu suaminya meninggal dunia, maka ‘iddahnya berpindah menjadi ‘iddah karena wafat (yaitu empat bulan sepuluh hari), terhitung sejak kematian suaminya tersebut, karena ia masih berstatus sebagai isteri. Adapun jika talaknya adalah talak bain, maka ‘iddah isteri tersebut tidak berpindah pada ‘iddah karena wafat, karena telah terputus ikatan pernikahan di antara kedua suami isteri tersebut, sejak dijatuhkannya talak bain.


d. Berpindah dari hitungan quru’ atau hitungan bulan menjadi melahirkan, jika seorang wanita sedang menjalani ‘iddah dengan hitungan quru’ atau dengan hitungan bulan, lalu
ternyata wanita tersebut terbukti hamil, maka ‘iddahnya berpindah menjadi ‘iddah melahirkan dan hitungan quru’ atau hitungan bulan yang telah berlalu menjadi gugur, karena melahirkan kandungan adalah bukti yang paling kuat atas kosongnya rahim dari pengaruh penikahan yang telah berakhir, inilah pendapat Jumhur ahli fiqh.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru