oleh

Pengertian Khulu’

Apa itu khulu’?

Khulu’ adalah perceraian antara suami dan isteri dengan tebusan yang diberikan oleh isteri kepada suaminya. Allah berfirman : “Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami isteri)
tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.” (
Q.S. Al-Baqarah : 229).

Hukum Khulu’
Hukum khulu’ terbagi menjadi tiga, yaitu :
 

1. Mubah
Jika seorang isteri tidak menyukai untuk tetap bersama dengan suaminya, baik karena buruknya akhlak atau perilaku suaminya atau karena buruknya wajah atau fisik suaminya, sehingga ia khawatir tidak dapat menjalankan hak-hak suaminya yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka dalam kondisi semacam ini isteri boleh mengajukan khulu’ kepada suaminya. (H.R. Imam Bukhari).

2. Mustahab
Jika suami melalaikan hak-hak Allah, seperti suaminya meninggalkan shalat, suaminya melakukan hal-hal yang dapat membatalkan keislamannya dan yang semisalnya, maka isteri dianjurkan untuk mengajukan khulu’. Ini adalah pendapat ulama’ Hanabilah.
 
3. Haram
Jika isteri mengajukan khulu’ kepada suaminya bukan karena alasan yang syar’i, maka khulu’ tersebut menjadi haram hukumnya.
(H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rukun-rukun Khulu’
Rukun khulu’ ada empat, antara lain :


1. Adanya mukhali’.
Mukhali’ adalah orang melepaskan ikatan pernikahan dan mukhali’ adalah seorang yang memiliki hak talak, yaitu suami.


2. Adanya mukhtali’ah.
Mukhtali’ah adalah orang yang mengajukan khulu’, yaitu isteri. Syarat mukhtali’ah ada dua, yaitu :
a. Ia adalah isteri secara syar’i bagi mukhali’, sehingga isteri yang sedang menjalani masa ‘iddah karena talak raj’i, maka ia boleh mengajukan khulu’. Bukan karena buruknya akhlak atau perilaku suaminya, bukan karena buruknya wajah atau fisik suaminya, sehingga ia khawatir tidak dapat menjalankan hak-hak suaminya yang telah ditetapkan Allah kepadanya atau bukan karena suaminya melalaikan hak-hak Allah. Karena isteri yang menjalani ‘iddah dari talak raj’i masih berstatus sebagai isteri. Adapun isteri yang menjalani
masa ‘iddah dari talak bain, maka khulu’nya tidak sah, sebab suaminya sudah tidak memiliki ikatan pernikahan dengannya.
 

b. Ia mampu untuk menggunakan hartanya.
Mukhtali’ah haruslah seorang yang baligh, berakal dan memiliki kedewasaan, sehingga ia mampu untuk menggunakan hartanya, jika mukhtali’ah belum baligh atau gila, maka khulu’nya tidak sah.
 

3. Adanya iwadh.
Iwadh adalah harta yang diambil oleh suami dari isterinya sebagai tebusan, karena ia melepaskan isterinya, semua yang sah untuk mahar, maka ia sah pula untuk iwadh, diperbolehkan memberikan kadar iwadh di atas atau di bawah mahar, jika kedua belah pihak (suami dan isteri) sama-sama ridha. Ini adalah pendapat Ibnu ’Umar dan Ibnu ’Abbas. Ini juga madzhab Jumhur ulama’, di antaranya; Mujahid, Ikrimah, An-Nakha’i Imam Malik, Asy-Syafi’i dan Ibnu Hazm, namun hendaknya suami tidak mengambil iwadh melebihi dari kadar mahar yang dahulu telah ia berikan kepada isterinya tersebut. Ini adalah pendapat Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri.
 

4. Adanya shighat khulu’.
Shighat khulu’ dapat dilakukan dengan ungkapan apapun yang bermakna khulu’, dan tidak ada lafazh khusus untuk khulu’. Di antara shighat khulu’ adalah : Khala’tuki (aku mengkhulu’mu), bara’tuki (aku membebaskanmu), faraqtuki (aku memisahkanmu) dan yang semisalnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru