Pengertian Dan Apa Itu Ma’iyah Fid Daarid Dunya

Ma’iyah Fid Daarid Dunya maksudnya adalah “kebersamaan di kehidupan dunia”, ketika tawasul yang dilaksanakan oleh seorang murid kepada guru mursyidnya telah membuahkan hasil, karena jalan ibadah yang telah berjalan sesuai aturan.

Ibadah itu berhasil merontokkan hijab-hijab basyariah dan membuka tabir penutup mata, sehingga pertemuan secara ruhani mendapat kemudahan, lalu hasil yang pertama didapatkan adalah, dengan itu seorang murid mengenali karakter guru ruhaninya.

Selanjutnya, kebersamaan antara dua karakter didunia fana, meski itu berjalan di dalam dua alam yang berbeda, pertemuan itu akan membuahkan kenikmatan hakiki yang tiada terkira.

Itulah perjalanan ruhaniah, dengan itu semakin lama akan semakin menumbuhkan cinta, pertama kepada guru-guru mursyid yang suci dan orang tua asuh sejati, kemudian kepada sang guru yang mulia, yaitu Nabi akhir zaman.

Penghulu Nabi yang pertemuannya sangat dirindui walau hanya di dalam alam mimpi. Adalah syafa‘atnya, yang diturunkan dialam dunia, sebagai minuman ruhani yang ditegukkan oleh para guru mursyid di dalam perjalanan yang dilalui, akan menumbuhkan rasa cinta dan ma‘rifat kepada yang dicari sebagai tujuan yang paling utama, yaitu Ilahi Rabbi Sang Maha Pengasih.

Cinta yang hakiki, ketika telah semakin mematri di dalam hamparan isi hati, maka kerinduan seorang hamba kepada Sang Junjungan akan selalu muncul didalam sanubari.

Rindu yang mampu membangkitkan semangat pengabdian dan pengorbanan yang menggelora, maka halangan yang terpampang di depan mata menjadi tantangan yang harus ditundukkan, kesulitan yang membelit menjadi latihan yang tidak sulit, musibah yang datang menjadi ujian yang dibutuhkan, bahkan kematian menjadi pintu pertemuan. Sebagai buah cinta yang dapat dipetik, maka perjalanan panjang di dalam pengembaraan terasa lebih ringan dan menyenangkan.

Sebabnya, kenikmatan syurgawi yang selalu terbayang di dalam harapan di saat pertemuan dan kebersamaan dengan teman seperjalanan, meski perjalanan itu terjadi antara dua alam yang berbeda, dengan kerinduan yang membara, seakan-akan terjadi di dalam kenyataan.

Kebersamaan di dalam kehidupan dunia dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

1. Ma’iyah bil Maknawiah, artinya apa saja yang dilaksanakan oleh seorang murid, baik ilmu pengetahuan, amal ibadah maupun akhlak karimah, itu semua adalah sesuatu yang diwariskan oleh para pendahulunya, yaitu para shalihin, para Syuhada’, para Shiddiqqin dan para Nabiyyin.

Semuanya itu diamalkan, baik di dalam pelaksanaan pengabdian secara vertikal maupun horizontal, mengikuti apa yang sudah dicontohkan oleh mereka. Itulah yang disebut oleh para ulama‘ ahli thariqat dengan istilah Rabithatul A‘mal.

2. Ma’iyah bil Hissiyah atau kebersamaan di dalam rasa (Interaksi Ruhaniah). Artinya adalah pelaksanaan amaliah seorang murid dalam mengimplementasikan ilmu pengetahuan dengan mengerjakan ibadah yang dihiasi dengan akhlak karimah, dilaksanakan dengan upaya menghadirkan guru-guru yang mulia didalam rasa ruhaniah.

Seakan-akan guru-guru itu sedang mendampingi ibadahnya, baik sebagai teman yang baik ataupun sebagai saksi atas amalan yang sedang dikerjakan, pendampingan itu layaknya sedang belajar kepada mereka, berkesinambungan, dari para Shalihin, para Syuhada’, dan para Shiddiqqin sampai dengan kepada Rasulullah Saw yang demikian itu disebut dengan istilah Rabithatul Mursyid.

Demikian itu adalah pelaksanaan perintah yang termaktub dari sebuah ayat, sungguh benar Allah dengan segala firman-Nya : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama dengan orang yang shiddiq.” (Q.S. At-Taubah/9 : 119).

Maksud ayat, bahwa kebersamaan orang-orang beriman dengan Ash-Shiddiq di setiap kali mereka melaksanakan ibadah dan mujahadah dijalan Allah, itu adalah perwujudan pelaksanaan takwa yang sekaligus merupakan implementasi tawasul seorang hamba kepada-Nya.

Tawasul seperti yang dimaksud, tidak hanya dilaksanakan secara lahir saja, tetapi juga lahir maupun batin, jasmaniah maupun ruhaniah, maknawiah maupun hissiyah. Itulah hakekat tawasul.

Kebersamaan yang tidak hanya dilaksanakan secara amaliah saja, tapi juga secara ruhaniah, demikian itu adalah perintah Allah, kalau tidak dilaksanakan, boleh jadi seorang pengembara (salik) akan tersesat di tengah jalan, karena syetan sudah menghadang di setiap persimpangan jalan.

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: