Apa itu maqam dan martabat dalam kajian?

Dalam ilmu thariqat menuju pendalaman bertasawuf ada di kenal istilah “maqam”, maqam di sini bukanlah bermaksud makam atau kuburan, akan tetapi maknanya adalah suatu tempat kedudukan sasaran saat seseorang hamba berdzikir atau bertawajjuh terhadap Allah.

Secara dasarnya maqam merupakan tingkatan martabat seseorang hamba terhadap khalik-Nya, yang juga merupakan sesuatu keadaan tingkatannya seseorang sufi di hadapan tuhannya pada saat dalam perjalanan spritual dalam beribadah kepada Allah.

Maqam ini terdiri dari beberapa tingkat atau tahapan seseorang dalam hasil ibadahnya yang di wujudkan dengan pelaksanaan dzikir pada tingkatan maqam tersebut, secara umum dalam thariqat naqsyabandi tingkatan maqam ini jumlahnya ada 7 (tujuh), yang di kenal juga dengan nama martabat tujuh, seseorang hamba yang menempuh perjalanan dzikir ini biasanya melalui bimbingan dari seseorang yang alim yang paham akan isi dari maqam ini setiap tingkatnya.

Seseorang hamba tidak di benarkan sembarangan menggunakan tahapan maqam ini sebelum menyelesaikan atau ada hasilnya pada riyadhah dzikir pada setiap maqam, ia harus ada mendapat hasil dari amalan pada maqam tersebut, jika memang layak berpindah kepada maqam selanjutnya menurut keterangan guru pembimbing tersebut, barulah ia boleh naik dzikirnya pada maqam yang selanjutnya atau di atasnya, begitu seterusnya. 

Maqamat ini mempunyai arti dan makna yang sangat luas dan mengandung sesuatu yang serba rahasia, namun ia pada dasarnya adalah sebagai sarana pengobatan penyakit hati (sifat madzmumah atau buruk), agar seseorang hamba tersebut dapat mengerti akan beberapa sifat kebaikan yang di anjurkan oleh Al-Qur’an dan Hadist Rasulullah Saw.

Tingkatan maqam ini jika berhasil amalan dzikirnya dapat menjadikan seseorang hamba mempunyai sifat dan budi pekerti yang baik dan di ridhai oleh Allah, seperti ; taat, sabar, wara’, tawakkal, tawaddu’, ridha dan fanafillah, yang dapat pada akhirnya membuat seseorang ma’rifat dan mahabbah terhadap tuhannya.

Martabat tujuh atau maqam yang 7 (tujuh) harus di lalui oleh seseorang hamba yang ingin mendekatkan dirinya kepada tuhannya, beberapa aliran thariqat sufi memang berbeda dalam menuntun pelajaran amalan dzikir ini kepada para jama’ahnya, lain thariqat lain pula caranya, namun tujuan tetap satu, yaitu menuju kepada Allah dan hanya mengharapkan keridhaan-Nya semata.

Jika keseluruhan maqam ini berhasil di lalui oleh seseorang salik, maka salik tersebut akan mendapatkan perasaan khauf dan raja’, artinya timbul rasa takut dan timbul pengharapan kepada Allah, ini rentetannya adalah bisa mencapai kepada mukasyafah, musyahadah dan timbul haqqul yakin yang sebenarnya terhadap Allah.

Tingkat martabat seseorang hamba di hadapan Allah mesti melalui beberapa proses sebagai berikut : 

  1. Taubat;
  2. Memelihara diri dari perbuatan yang makruh, syubhat dan apalagi yang haram;
  3. Merasa miskin diri dari segalanya;
  4. Meninggalkan akan kesenangan dunia yang dapat merintangi hati terhadap tuhan yang maha esa;
  5. Meningkatkan kesabaran terhadap takdirNya;
  6. Meningkatkan ketaqwaan dan tawakkal kepadaNya;
  7. Melazimkan muraqabah (mengawasi atau instropeksi diri);
  8. Melazimkan renungan terhadap kebesaran Allah;
  9. Meningkatkan hampir atau kedekatan diri terhadapNya dengan cara menetapkan ingatan kepadaNya;
  10. Mempunyai rasa takut, dan rasa takut ini hanya kepada Allah saja.

Dengan melalui latihan di atas melalui amalan dzikir pada maqamat, maka seseorang hamba akan muncul sifat berikut : 
1. Ketenangan jiwa; 
2. Harap kepada Allah; 
3. Selalu rindu kepadaNya dan suka meningkatkan ibadahnya; 
4. Muhibbah, cinta kepada Allah. 

Untuk mendapatkan point di atas, seseorang hamba harus melalui beberapa tingkatan maqam di bawah ini, tetapi melaluinya adalah amalan dzikir pada maqam yang 7 (tujuh), adapun hasilnya akan dapat di uraikan dengan beberapa maqam sifat, yaitu : 

  1. Taubat;
  2. Zuhud;
  3. Sabar;
  4. Syukur;
  5. Khauf (takut);
  6. Raja’ (harap);
  7. Tawakkal;
  8. Ridha;
  9. Muhibbah.

Uraian Ma’rifat

Mengenal akan dirinya secara awal dan akhir dari segala setiap perbuatan adalah di namakan dengan Ma’rifat, yang berarti juga secara singkat adalah kenal, wujud ma’rifat ini adalah ketetapan hati untuk mulai beribadah kepada-Nya, apabila seseorang hamba mau beribadah kepada Allah Swt dengan mengagungkan dan mensucikannya dari yang lain dan mengakui akan ke-ESA-an Allah, maka ini di namakan dengan ma’rifat atau kenal.

Kami berpendapat bahwa ma’rifat adalah awal dari segala perjuangan seseorang hamba menuju kepada tuhannya, sebab dengan mengenal ketuhananlah makanya seseorang hamba mau beribadah kepada-Nya, jika seseorang hamba belum kenal akan tuhan walaupun hanya sebatas pengakuan saja maka sudah tentu ia tidak akan mau beribadah alias ingkar, oleh karena itu kami berpendapat bahwa ma’rifat awal dari seseorang hamba menuju tuhannya, sedangkan yang akhir adalah Hakikat yang artinya Mengerti akan hal yang sebenarnya segala sesuatu.

Pada dasarnya dalam hati setiap manusia terselip akan kebenaran Allah atas alam ini, tetapi hal ini di tutup oleh segala penyakit bathin yang di tiupkan oleh iblis dan syaithan, makanya dalam menuju kepada Allah memerlukan perjuangan yang berat dalam melawan peperangan hawa, nafsu, syaithan dan dunia.

Setiap manusia jika mau beribadah sudah tentu nafsunya saat itu tenang, maka ini adalah termasuk kategori ma’rifat juga, sebab jika tiada ketenangan maka seseorang hamba tidak jua akan mau beribadah, oleh karena itu sudah sepatutnya seseorang hamba jika sudah ada berkeinginan untuk beribadah, maka sesungguhnya itu adalah hidayah dari-Nya, maka hendaklah di ambil kesempatan tersebut untuk berbuat taat yang kuat, agar dapat menyingkap kebenaran dari setiap kebesaran Allah, di karenakan dengan hasil riyadhah yang sungguh-sungguh hal ini dapat di ketahui.

Keadaan yang kosong saat memasuki hakikat akan di isi oleh Allah berupa ilmu pengetahuan yang tidak di sangka-sangkanya, ini merupakan tujuan akhir seseorang sufi bertasawuf untuk mengenal-Nya, dan atas segala sesuatu tersebut adalah karunia dan hidayah dari-Nya. 

Uraian Taubat

Dasar amalan yang harus di lalui oleh seseorang dalam menuju tuhannya adalah sebagai awalnya yaitu maqam taubat, sebelum bertaubat secara sungguh-sungguh kepada Allah, tidak akan bisa seseorang naik kepada maqam berikutnya, karena ia masih banyak mempunyai dosa-dosa hasil maksiat baik di sengaja maupun tidak.

Taubat menurut sufi adalah senantiasa tafakkur dan khalwat menyepikan diri untuk menyadari akan segala kesalahan yang di perbuat kepada Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Menyadari bahwa maksiatnya banyak dan istighfar dengan sesungguhnya, taubat akan segala dosa, taubat akan segala tipu daya hawa dan nafsu dunia serta meningkatkan amal ibadah sebanyak-banyaknya guna menunjukkan bakti taubat yang sebenarnya. Jangan suka atau selalu berburuk sangka kepada Allah bahwa taubatnya tidak di terima, namun dengan keyakinan penuh harus yakin bahwa taubatnya di terima, karena Allah Maha Penerima taubat hamba-Nya yang sungguh-sungguh.

Uraian Zuhud

Zuhud ini ada 2 (dua) macam, yaitu : 

  1. Zuhud Zhahir, yakni zuhud dari cara yang berlebih-lebihan pada dunia dan pada segala perhiasan dunia, apalagi pada yang haram, makruh dan mubah.
  2. Zuhud Bathin, yakni zuhud dari segala kebutuhan bathin yang bersifat penampilan zahir pada dunia, seperti mengejar jadi pemimpin yang otomatis akan menghela kepada hawa, nafsu dan dunia, hal ini adalah pantangan yang sangat besar bagi seseorang sufi yang bertasawuf.

Zuhud ini dapat di timbulkan dengan melalui tafakkur dan merenung atau berpikir akan kebesaran Allah, jika ia benar-benar memikirkan hal ini, maka ia akan dapat kesimpulan bahwa dunia hanya tempat bagi manusia yang selain Allah tujuannya, dia menyadari bahwa dunia hanyalah sebagai persinggahan dan berupa ladang sebagai pencari bekal bagi akhirat yang kekal, tiada yang lain di dunia ini hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan, serta terbuai akan tipu daya syaithan.

Maqam zuhud tidak akan dapat di capai oleh seseorang jika di hatinya masih ada sifat keduniaan yang berlebihan, cintanya hanya pada kenikmatan dunia tanpa di sadari bahwa nikmat dunia itu hanyalah di berikan Allah sebagai sarana untuk ibadah kepada-Nya.

Seseorang hamba yang ingin menuju kepada Allah, harus bisa menafikan dunia dan isinya yang berlebihan itu hanya kepada Allah saja, jika tidak maka ia tidak akan dapat mengenal dirinya apalagi mengenal-Nya, sirnakanlah sifat keduniaan yang berlebihan agar dapat merasakan nikmatnya maqam zuhud ini dalam menuju Allah.

Uraian Sabar

Sabar terbagi 3 (tiga), yaitu : 

  1. Sabar akan kehidupan dunia dari yang haram, dan menahannya atas dari segala sifat berlebihan;
  2. Sabar dalam menjalankan kewajiban terhadap Allah berikut ujian dan cobaan-Nya;
  3. Sabar atas segala khayal dan angan-angan yang muncul saat menjalankan kewajiban taat tersebut.

Sabar ini sangat luas maknanya, namun yang paling penting adalah sabar akan ketetapan Allah terhadap kehidupan dunianya, jika ini dapat di atasi maka akan memperoleh kemenangan dunia dan akhirat, dalam menjalankan ibadah kepada-Nya juga di tuntut kesabaran yang penuh, karena tidak juga terlepas dari ujian dan cobaan-Nya dalam menguji hamba-Nya yang menuju kepada-Nya, hijrahlah dari sifat buruk kepada sifat yang baik, ini memerlukan perjuangan bathin yang berat, sebab syaithan senantiasa membuat tipu daya walaupun dengan berlindung dari ketaatan dengan cara menyelipkan syirik dalam beribadah.

Bersabar terhadap yang haram, ini juga berat, sebab dalam kehidupan dunia, yang sifatnya haram adalah nikmat dan asyik, sementara pada beramal ibadah sangat terasa berat baginya, ini di tuntut kesabaran penuh juga, agar dapat menjalankan ibadah secara rutin tanpa ada gangguan yang bersifat ingkar kepada Allah, jika seseorang hamba dengan penuh perjuangan menempuh alam kesabaran ini, maka Allah akan menariknya kepada-Nya dengan menambah tingkat kesabaran hamba-Nya tersebut. Hati-hatilah dalam beribadah, karena saat menjalankan ibadah sangat banyak di temui khayal dan angan-angan yang merupakan selain-Nya, ini tidak lain adalah kerjaannya para iblis, jin dan syaithan, mintalah selalu perlindungan kepada Allah akan hal ini.

Uraian Syukur

Syukur juga terbagi 3 (tiga) bagian, yaitu :

  1. Syukur secara lisan, maksudnya mengucapkan syukur terhadap Allah Swt secara langsung melalui ucapan;
  2. Syukur secara jasmani, maksudnya menyampaikan rasa syukur dengan bersifat ketaatan kepada Allah;
  3. Syukur secara khafi, maksudnya syukur dengan mengakui bahwa Allah maha pemberi nikmat atas segala makhluk ciptaan-Nya dan mengakui hanya daripada-Nya nikmat tersebut datang kepadanya, ini di buktikan dengan ketaatan dan pengakuan secara bathin.

Syukur ini berbentuk taat pada Allah bagi orang yang berilmu, ia semakin meningkatkan ketaatannya kepada Allah Swt dengan perbuatan dzahir dan bathin, syukur merupakan anugerah tuhan yang tak terhingga, ruang lingkupnya sangat luas, mulai dari keduniaan sampai pada amal ibadah, sadarilah bahwa sesungguhnya yang memberi kekuatan untuk beribadah kepada-Nya adalah Allah, bukanlah merupakan kekuatan dan kekuasaan diri sendiri akan perbuatan tersebut.

Manfaat Syukur ini sangat besar nilainya di sisi Allah, jika seseorang hamba dapat menunjukkan Syukur ini secara ikhlas maka Allah akan senantiasa menambah karunia-Nya terhadap hamba yang mau bersyukur. Kenikmatan pada hakikatnya adalah dari Allah, jangan sampai seseorang hamba melupakan akan hal ini, jika ia lupa maka ia tidak akan sampai pada tujuannya untuk menuju kepada-Nya, karena hal ini adalah salah satu syarat untuk sampai kepada Allah. Jika seseorang hamba dapat menunjukkan rasa syukur yang suci murni alias ikhlas kepada-Nya, maka Allah akan menambah kenikmatan berupa mengerti akan diri-Nya, ini adalah karunia terbesar bagi seseorang hamba yang mengaku bahwa tiada tuhan selain Allah.

Uraian Khauf

Seseorang hamba yang pada maqam bathinnya mulai bersih dari segala sifat yang buruk, maka akan menimbulkan rasa takut, dan rasa takut ini harus di tekankan adalah hanya takut pada Allah saja, bukan pada yang lainnya, takut ia akan tersalah, baik tersalah akan dunianya apalagi tersalah akan amal ibadah kepada Allah.

Takutlah kepada Allah akan hukumnya yang sangat adil kelak, karena Allah sangat adil dalam menghisab setiap amal perbuatan manusia yang baik ataupun buruk, tunjukkanlah rasa takut tersebut dengan lebih meningkatkan ibadah kepada-Nya, takut ini sangat dekat pengaruhnya pada khayal dan angan-angan pada diri bathin manusia.

Hal sangat mudah di intervensi oleh iblis dan syaithan bagi seseorang hamba yang tidak beriman, munculnya rasa takut adalah sesungguhnya karunia-Nya juga, agar manusia dapat mengerti akan bagaimana rasa takut terhadap khalik-Nya tersebut.

Perasaan ini tidak dapat di buat-buat, jika muncul maka pindahkanlah rasa takut tersebut hanya kepada Allah, jika demikian maka Allah akan dapat menambah karunia nikmatnya berupa kedekatan kepada-Nya, karena dia adalah dzat maha pelindung bagi hamba-Nya.

Uraian Ridha

Meningkatkan tawakkal kepada Allah adalah merupakan ibadah yang besar nilainya di sisi Allah, dengan perjuangan berat menetapkan ibadah dengan istiqamah akan menghasilkan pengertian ridha akan setiap Allah terhadap dirinya, Allah maha menentukan atas hamba-Nya, hamba yang sudah ikhlas amal ibadahnya akan menimbulkan sifat ridha, ini adalah karunia Allah terhadap hamba-Nya yang shaleh dan taat.

Ia menyadari bahwa setiap segala sesuatu atas dunia dan pada dirinya adalah pada dasarnya merupakan kehendak Allah, ia ridha akan kehidupan dunianya, tabah atas segala ujian dan cobaan-Nya, pasrah akan perjalanan takdirnya tanpa memohon untuk merubahnya kepada Allah. Hamba yang sudah mencapai tahap maqam ridha ini akan selalu merasa bahwa Allah selalu bersamanya, segala gerak dan diamnya adalah merupakan kehendak dan karunia Allah, ia tidak akan merasa susah walaupun dunianya susah, ia lebih memerlukan kehidupan akhiratnya yang kekal, di sanalah setiap akhir dari segala sesuatu ciptaan-Nya.

Uraian Muhibbah

Perasaan tertinggi yang di karuniakan oleh Allah terhadap hamba-Nya adalah cinta (muhibbah), martabat ini muncul setelah segala tingkat sifat yang buruk sudah menjadi sifat yang baik dari hasil akhir mal ibadah dzikir pengibatan penyakit bathin oleh seseorang hamba. Segala sifat baik tersebut bisa menjelma menjadi sifat cinta hanya kepada Allah saja, setiap amal perbuatannya hanya berdasarkan cinta kepada Allah tanpa mengharapkan pamrih apapun juga, sebab segala sesuatu ibadah baginya adalah kebutuhan utamanya, sementara dunia baginya adalah sekedar sarana untuk beribadah semata, setiap rezeki telah di jamin secara nyata di dunia ini oleh Allah, segala gerak lakunya adalah ibadah, ini menunjukkan cinta yang tinggi terhadap khalik-Nya.

Senantiasa menjaga yang haram atas zahirnya, baik mata, telinga, kaki, tangan dan lain sebagainya, bathinnya selalu berkekalan ingat dan dekat padaNya, penjagaan Allah atas seseorang hamba tingkat ini adalah merupakan suatu karunia tiada ternilai harganya bagi manusia di dunia. Jadikanlah ibadah merupakan makanan pokok di dunia, maka atas izin-Nya kita akan mendapatkan rasa cinta terhadap Allah ini dengan sebenarnya cinta tanpa ada campuran cinta dunia, sebab jika di hati seseorang hamba masih ada cinta dunia, maka belumlah dapat di katakan hamba tersebut pada tingkat maqam muhibbah.

Uraian Hakikat

Hakikat bisa di artikan dengan “yang sebenarnya atas sesuatu”, ini merupakan ciri-ciri seseorang hamba yang sudah mengerti akan dirinya yang sebenarnya dengan mata hatinya yang bersih dari kotoran dunia dan penyakit bathin, jika penyakit bathin masih melekat pada hatinya maka ia tidak akan mengerti pada dirinya apalagi terhadap tuhannya.

Penyaksian dan pengertian atas segala sesuatu yang telah di tentukan dan di takdirkan Allah pada setiap sesuatu di alam semesta dan isinya berikut rahasia-rahasia-Nya adalah di namakan dengan hakikat, ini di dapatkan oleh seseorang hamba yang telah di berikan oleh Allah atas segala riyadhahnya dalam beramal ibadah kepada-Nya untuk meningkatkan keyakinan seseorang hamba terhadap khalik-Nya.

Mengerti akan hakikat ini di dasarkan dari hal sebagai berikut :

  1. Yakin akan segala ciptaanNya dan benar adalah Allah yang menciptakan alam beserta isinya, ini di namakan dengan ‘Ainul Yakin’.
  2. Yakin dengan dasar pemikiran yang jernih akan melihat kebesaran Allah pada alam beserta isinya, ini di namakan dengan Ilmul Yakin.
  3. Yakin dengan di dasari dengan hati yang bersih dari kotoran atas kebesaran Allah atas segala ciptaan-Nya, dan kebenaran ini di saksikan langsung oleh hatinya bersama keimanan yang teguh berdasarkan juga atas keputusan yang masuk akal, artinya zahir dan bathin yakin dengan sepenuhnya atas kebesaran Allah, ini di namakan dengan Haqqul Yakin.

Hal inilah tujuan daripada sufi dengan bertasawuf yang menghasilkan mata hati yang jernih akan kebesaran Allah atas segala af’al, sifat, asma, dzat dan tajallinya pada alam dan segala ciptaan-Nya dengan tingkat iman tertinggi dari seseorang hamba, ini merupakan karunia hidayah Allah terhadap hamba-Nya yang ridha akan segala ketentuan-Nya atas dirinya, atas pengalaman bathin ini maka akan dapat mempertahankan tingkat keimanan seseorang hamba.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai pembahasan maqamat tingkatan martabat seseorang hamba yang harus di lakukan untuk menuju Allah dan keridhaan-Nya.

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: