oleh

Pengertian Nusyuz

Apa itu Nusyuz?

Nusyuz dalam Islam adalah pembangkangan seorang isteri terhadap suaminya di dalam hal-hal yang di wajibkan oleh Allah kepada isteri atas suaminya, karena isteri merasa tinggi dan sombong kepada suaminya dan nusyuz hukumnya adalah haram.

Menyikapi Isteri yang Nusyuz

Cara suami dalam menyikapi isterinya yang nusyuz berdasarkan Q.S. An-Nisa’ : 34 adalah dengan tiga tahapan berikut :

1. Menasihatinya
Hendaknya suami menasihati isterinya tersebut dengan mengingatkan kewajiban-kewajiban yang telah di tetapkan Allah kepadanya, memberinya motivasi berupa pahala dari Allah jika isteri menjalankan kewajibannya tersebut dan memberikan ancaman berupa siksaan dari Allah jika isteri melalaikan kewajibannya.

2. Menghajrnya (bukan menghajar, tapi hajr) atau menjauhinya di tempat tidurnya

Jika dengan nasihat isteri belum juga mentaati suaminya (dengan melakukan kewajiban-kewajibannya), maka suami dapat menjauhinya di tempat tidur, dengan tidak menjima’nya, tidak bersanding di dekatnya, tidak mengajaknya berbicara, untuk memberikan pelajaran kepada isteri dengan harapan agar isteri mengetahui kesalahannya dan bersedia kembali mentaati suaminya serta menjalankan kewajiban-kewajibannya.

Tidak ada batasan waktu menghajr isteri, hajr dapat di lakukan oleh suami hingga isterinya sadar, ini adalah pendapat Jumhur ulama’ dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

3. Memukulnya
Jika setelah di hajr isteri tersebut belum juga sadar, maka suami diperbolehkan untuk memukulnya, dengan syarat :

  • Di yakini dengan pukulan tersebut dapat menjadikan isteri jera, karena tujuan memukul hanyalah sarana untuk memperbaiki isteri.
  • Jika dengan di pukul tidak yakin bahwa isteri akan sadar, maka tidak boleh memukulnya.
  • Pukulan tersebut tidak melukai, seperti tidak mematahkan tulang, tidak merusak daging dan yang semisalnya. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1163 dan Ibnu Majah : 1851).
  • Tidak memukul wajah dan bagian-bagian yang membahayakan. (H.R. Abu Dawud : 2142 dan Ibnu Majah : 1850).
  • Pukulan tersebut tidak lebih dari sepuluh kali pukulan. (H`R. Bukhari Juz 6 : 6458 dan Muslim Juz 3 : 1308).
  • Pukulan tersebut tidak di jadikan sebagai kebiasaan, tidak selayaknya seorang suami terbiasa memukul isterinya, meskipun karena nusyuz, karena itu bukanlah petunjuk dari Nabi Saw. (H.R. Muslim Juz 4 : 2328 dan Ibnu Majah : 1984).
Baca juga...  Tentang Pakaian Muslimah

Menyikapi Suami yang Nusyuz

Jika nusyuz (pembangkangan) di lakukan oleh suami, maka hendaknya di lakukan perdamaian (musyawarah) di antara kedua suami isteri tersebut. (Q.S. An-Nisa’ : 128).

Mengutus Juru Damai

Jika suatu permasalahan di antara suami isteri belum juga dapat di selesaikan bahkan semakin memanas, maka hendaknya di utuslah dua orang juru damai seorang wakil suami (dari pihak keluarganya) dan seorang wakil isteri (dari pihak keluarganya).

Jika dari pihak keluarga tidak ada yang layak untuk menjadi juru damai, maka di perbolehkan mengambil juru damai dari orang di luar
keluarga mereka, ini adalah pendapat Jumhur ulama’.

Dan hendaknya kedua juru damai tersebut berupaya semaksimal mungkin untuk mengadakan perdamaian di antara suami isteri dan menghilangkan pertikaian di antara keduanya. (Q.S. An-Nisa’ : 35).

Hendaknya di antara suami isteri saling menyadari kewajibannya masing-masing atas yang lainnya dan hendaknya keduanya berupaya untuk tetap menjaga keutuhan rumah tangga mereka.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru