oleh

Pengertian Orang Kafir

-Tauhid-3 views

Endapan lumpur hawa nafsu,
Saat berkolaborasi dengan lamunan,
Menjadi karat,
Yang lengket dalam hati,
Bagaikan mendung pekat,
Yang menyelimuti matahari,
Menjadikan gelap mata,
Dan lupa diri bahwa sesungguhnya ia adalah
Seorang qudwah atau orang yang di ikuti.

Menurut istilah agama, yang di maksud orang kafir adalah orang yang sama sekali tidak percaya adanya Tuhan, orang kafir itu beranggapan bahwa alam semesta ini dan juga dirinya, “ada” dengan sendirinya oleh proses kejadian alam, tanpa ada yang menciptakan.

Dia mengira hanya ibu dan bapaknya yang menyebabkan dirinya “ada” di dunia, bukan Tuhan yang menciptakannya melalui pertemuan antara ibu dan bapaknya itu, oleh karena itu orang kafir itu tidak merasa perlu mengabdi kepada Tuhan.

Itulah pertanda orang yang proses pembentukan karakter dalam jiwanya telah gagal, hal tersebut di sebabkan, karena fungsi ruh dan akal manusia, yang semestinya merupakan sarana bagi manusia untuk mengenal Tuhannya, ternyata gagal menjalankan fungsinya.

Ketika ruh dan akal tidak berfungsi sebagaimana mestinya, berarti hikmah penciptaannya sebagai manusia telah gagal total, oleh karena itu orang tersebut disebut orang kafir karena arti kafir itu adalah tertutup, yakni orang yang mata hatinya tertutup dari hidayah Allah.

Apabila orang percaya bahwa Tuhannya adalah Allah, namun ia juga percaya adanya tuhan selain Allah, orang tersebut bukan di sebut orang kafir tapi orang musyrik, oleh karena itu orang Nasrani dan orang Yahudi di sebut orang musyrik bukan orang kafir, karena mereka telah menyekutukan Allah dengan manusia, yaitu Nabi Isa Isa dan Nabi Uzair.

Karena kedua Nabi itu dianggap anak Tuhan dan di tuhankan, adapun arti kafir menurut istilah bahasa adalah menutupi, atau menutupi diri sendiri dari pendapat orang lain. Jadi, orang yang tidak percaya kepada pendapat orang lain bisa di katakan orang kafir, yaitu kafir kepada orang itu. Apabila orang sudah tidak percaya, maka sama saja, di beri peringatan ataupun tidak, tetap saja mereka tidak mau percaya.

Baca juga...  Alam Kubur (Barzah)

Oleh karena itu, orang yang tidak percaya kepada Ulama pewaris Nabi berarti tidak percaya kepada Nabi dan orang yang tidak percaya kepada Rasulullah Saw berarti juga tidak percaya kepada Allah.

Akibatnya, orang tersebut akan menjadi orang yang merugi, karena hakekatnya telah menutup diri sendiri dari kebaikan yang didatangkan Allah untuk dirinya sendiri.

Allah telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka di tutup dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Q.S. Al-Baqarah (2) : 6-7).

Konkritnya, orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya itu adalah orang yang menutup jalan keberuntungan hidupnya sendiri dengan akalnya sehingga hatinya tidak dapat menerima petunjuk yang datang dari Tuhannya, yang demikian itu karena hakikatnya Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka di tutup.” (Q.S. (2) : 6-7).

Seandainya mereka mau membuka penutup pintu akalnya, dalam arti menerima dan mempercayai pendapat orang lain, karena itu adalah bagian amal yang harus di lakukan manusia di dunia, maka dengan sendirinya pintu hatinya akan terbuka.

Untuk membuka pintu akal tersebut, kuncinya, terlebih dahulu manusia harus mampu mengalahkan keangkuhan hawa nafsunya sendiri, mereka harus mampu membongkar dinding kesombongan yang membentengi jiwa sucinya, sehingga hati manusia menjadi tawadhu‘ dan rendah hati kepada sesama manusia serta merasa fakir kepada Tuhannya.

Itulah yang di sebut mujahadah bil hal (mujahadah hati) atau bahkan di sebut jihad akbar, dengan perjuangan yang utama itu orang beriman akan mendapatkan hidayah Allah: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami dan sesungguhnya Allah benarbenar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-`Ankabut : 69).

Baca juga...  Saksi-Saksi Di Hari Kiamat

Namun oleh karena manusia terlebih dahulu menutup diri dari kebaikan yang datang dari luarnya, baik dari Tuhannya maupun dari sesamanya, maka secara hakiki sejatinya mereka hidup di dalam kesendirian mental.

Akibat dari itu, apabila ada keberhasilan datang, keberhasilan itu cenderung datang bersama pengakuan individu, sehingga hatinya cenderung menjadi sombong dan sewenang-wenang kepada bawahan, namun ketika sedang mengalami kegagalan, kegagalan itu menjadikan hatinya cepat berkeluh kesah dan menjilat kepada atasan.

Itulah karakter bentukan yang di wariskan oleh kekafiran hati yang dapat menjadi muasal dan sebab kehancuran hidup manusia, baik di dunia terlebih di akhirat.

Sebabnya, meskipun orang kafir itu mendapatkan keberhasilan hidup, baik harta maupun tahta, setelah masa tangguh di dunia berakhir, kesenangan dunia itu sedikitpun tidak mampu memberikan kemanfaatan yang berarti bagi dirinya sendiri.

Sementara di akhirat nanti, kesenangan itu akan di ganti dengan siksa yang pedih di neraka jahannam untuk selamanya: “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri, itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam dan jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (Q.S. Ali-Imran : 196-197).

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang di sangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila di datanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang di liputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan, gelap gulita yang tindih-menindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya dan barang siapa yang tiada di beri cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (Q.S. An-Nur (24) : 39-40).

Baca juga...  Takutlah Kepada Syirik

Dengan dua ayat di atas (Q.S. (24) : 39-40), Allah membuat dua perumpamaan terhadap keadaan orang kafir, yang pertama amal perbuatannya dan yang kedua pandangan hidupnya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya