oleh

Pengertian Suluk Dalam Thariqat

-Tasawuf-11 views

Suluk…jelas mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan thariqat, orang yang melaksanakan thariqat di sebut salik dan perbuatan ibadahnya di sebut suluk, yang berarti perjalanan seseorang menuju Allah.

Kaum sufi yang sedang merasakan kerinduan kepada Tuhan, kemudian berusaha mencari dan mendekati-Nya dan menyebut dirinya sebagai pengembara (salik).

Mereka melangkah maju dari satu tingkat (maqam) ke tingkat yang lebih tinggi, jalan yang mereka tempuh ini di namakan thariqat, sedangkan tujuan akhir perjalanannya adalah mencapai penghayatan fana fillah, yakni kesadaran leburnya diri dalam samudera kemahabesaran Ilahi, jalan tasawuf ini sering di namakan suluk.

Suluk atau khalwat (dalam bahasa Parsi di sebut cilla yang berarti empat puluh) yang merupakan kegiatan mengasingkan diri ke sebuah tempat tertentu (rumah suluk) dari kesibukan duniawi untuk sementara waktu di bawah pimpinan seorang mursyid, agar dapat beribadah lebih khusyu’ dan sempurna.

Dalam prakteknya, suluk dapat di lakukan selama 3, 7, 10, 20 dan 40 hari, jumlah yang terakhir ini adalah masa yang terbaik dalam pelaksanaan suluk, meskipun demikian, suluk ini tidak di wajibkan, namun dalam Thariqat An-Naqsyabandi, khususnya di daerah Sumatera, Riau dan sebagian Jawa, hal ini sangat di anjurkan.

Mengerjakan suluk janganlah jemu,

   Dari kecil sampai besarmu,

   Pengajaran ini daripada hamba,

   Kepada adik dan kakak bersama-sama.

   Mendirikan suluk di Batubara,

   Karena berhajat sanak saudara,

   Datanglah faqir dengannya segera,

   Dari negeri Langkat si Tanjung Pura. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Suluk, pada hakikatnya adalah mengosongkan diri dari sifat-sifat buruk (as-shifat al-madzmumat) dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji (as-shifat al-mahmudah).

Hal ini adalah merupakan perjalanan hati menuju kelurusan akhlak dan keimanan serta pen-tahqiq-an peringkat keyakinan kepada-Nya, perjalanan hati ini harus mendaki dari satu maqam ke maqam yang lain yang lebih tinggi secara terus menerus tanpa henti.

Inilah perjalanan batin di atas perjalanan batin.

Baca juga...  Tahapan Mursyid Atau Chalifah Syaikh Thariqat An-Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah

Jadi, suluk adalah merupakan usaha seorang hamba untuk dapat menemukan hakikat iman yang tidak dapat di capai kecuali dengan membersihkan hati, yang merupakan tempat iman dan tempat penilaian Tuhan terhadap amal hamba-Nya.

Allah berfirman dalam Q.S. An-Nahl 69 : “Maka berjalanlah di atas jalan-jalan Tuhanmu dengan patuh.”

Pelaksanaan suluk akan mendatangkan banyak manfaat bagi salik antara lain adalah untuk mendapatkan nikmat dunia dan akhirat serta memperoleh limpahan kurnia dan cahaya Nur Ilahi.

Suluk akan mengangkat derajat seseorang kepada tingkatan yang lebih tinggi apabila memenuhi berbagai persyaratan yang telah telah di tentukan, antara lain niat yang ikhlas hanya karena Allah dan taubat dari segala maksiat lahir dan batin.

Di samping itu, suluk harus di bawah bimbingan seorang guru yang mursyid yang ahli ma’rifah, “thabib yang pandai obat” agar tidak menyimpang dari jalan menuju Tuhan sehingga mendatangkan mudharat atau kerusakan atau kehancuran.

   Maka bersuluk karena derajat,

   Karena jalan mengampuni taubat,

   Di carilah thabib yang pandai obat,

   Supaya jangan menjadi mudharat. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Dalam menjalankan suluk, di perlukan sikap aktif seorang salik serta penolakan terhadap apa saja yang dapat menghambat aktifitas suluk, sikap-sikap ini akan menumbuhkan semangat yang kuat dan sekaligus untuk menghilangkan kemalasan dan keengganan dalam bersuluk, agar tasbih yang di pegang, tidak di lepaskan lagi, artinya akhlaknya tidak kembali kepada keduniaan lagi secara total.

   Jikalau tiada kuat bertanya,

   Mana yang dapat segera hilangnya,

   Datanglah segan mengerjakannya,

   Tasbih di pegang di lepaskannya. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Rasa malas, segan dan lelah dapat mendera seorang salik dalam perjalanan spiritualnya menuju kedekatan kepada Allah (taqarrub), karena itu Syaikh Abdul Wahab Rokan memberikan tiga resep kunci, yakni memperbanyak dzikir kepada Allah, sabar atas cobaan yang di berikan-Nya serta men-dawam-kan istighfar, memohon ampunan kepada-Nya.

Baca juga...  Urgensi Akhlak Tasawuf Di Kehidupan Muslim

   Jikalau datang segan dan lelah,

   Di banyakkan ingatan kepada Allah,

   Datang cobaan di sabarkanlah,

   Meminta ampun barang yang salah. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Dalam pelaksanaan suluk, seorang murid berada di bawah bimbingan guru yang mursyid secara penuh untuk sampai kepada Allah, Mursyid akan memberikan petunjuk dan aturan yang harus di jalankan, murid tidak boleh menyembunyikan dari mursyid  sesuatu yang di rasakannya,  seperti getaran kalbu,  lintasan hati,  peristiwa-peristiwa ajaib, maupun tersingkapnya hijab.

Apabila seorang murid memperoleh keajaiban dalam amalannya, hendaklah di beritahukan kepada mursyid dengan sebenarnya, seluruh perjalanan yang di lihat dan di rasakan harus di sampaikannya kepada mursyid secara utuh, murid dalam hal ini, tidak boleh menyembunyikan sedikitpun atau sebaliknya, juga tidak boleh menambah-nambahi penglihatan atau perasaannya.

   Jikalau guru datang bertanya,

   Hendaklah di khabarkan dengan sebenarnya,

   Jangan di kurangi jangan di lebihinya,

   Sebanyak yang di lihat itu di khabarkannya. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Bagi seorang murid, mursyid merupakan wasilah untuk sampai kepada Tuhan, ia tidak hanya sekedar memerlukan bimbingan mursyid-nya, tapi lebih dari itu membutuhkan campur tangan aktifnya sebagai pembimbing spiritual dan para pendahulu sang pembimbing termasuk yang paling utama.

Rasulullah Saw, dalam hal silsilah ini menunjukkan rantai bersambung yang menghubungkan seseorang dengan Nabi dan melalui ia sampai kepada Tuhan.

Pemahaman terhadap silsilah ini dalam Thariqat An-Naqsyabandi, membawa pada teknik rabithah mursyid, yang berarti mengadakan hubungan batin dengan sang pembimbing sebagai pendahuluan dzikir dalam suluk.

Rabithah ini di lakukan melalui penghadiran mursyid, membayangkan hubungan yang sedang di jalin yang seringkali dalam bentuk seberkas cahaya yang memancar dari sang mursyid.

Barangsiapa banyak was-wasnya,

   Di hadirkan rabithah rupa gurunya,

   Jikalau tidak sempurna hadirnya,

   Tiadalah faedah menolaknya. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Me-rabithah, yakni menghadirkan wajah (rupa guru) mursyid bagi seorang murid sangat di anjurkan, terutama bagi mereka yang selalu di hinggapi was-was (keragu-raguan yang selalu muncul di dalam hati) dalam perjalanan suluknya.

Baca juga...  Beberapa Tingkatan Taqwa

Dalam imajinasi murid, hatinya dan hati mursyid saling berhadapan, murid harus membayangkan bahwa hati sang mursyid bagaikan samudera karunia spiritual yang akan melimpah ke hatinya sehingga membawa pada pencerahan.

Apabila murid  membiasakan fana pada mursyid yang menjadi rabithah-nya, maka ia akan sampai pada tingkatan muqabalah, yaitu taraf ruhani, di mana seorang salik berhadap-hadapan dengan Sang Khaliq yang wajib al-wujud.

   Menghadirkan rabithah itu banyak faedah,

   Ialah membawa kepada limpah,

   Melazimkan fana kepada rabithah,

   Itulah membawa kepada muqabalah. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Orang yang senantiasa menjalankan suluk akan memperoleh manfaat, yaitu :

Pertama, mempunyai pengalaman yang banyak dan pandangan yang jauh.

Kedua, mempunyai pemahaman yang mendasar dan akhlak yang baik.

Ketiga, mempunyai jiwa yang rela dan akal yang bersih.

   Ayuhal ikhwan hendaklah tilik,

   Inilah kesudahan perjalanan suluk,

   Perjalanan laju tidak bertuluk,

   Karena Allah Tuhan yang Khaliq. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Akhir perjalanan suluk adalah penyaksian akan kebesaran dan kekuasaan Allah yang Maha Agung dan Sempurna yang merupakan pemberian (mauhibah) dari DIA sendiri.

Hati yang putih bersih dan di penuhi dengan cahaya Ilahi akan merasakan musyahadah, yakni melihat dan menyaksikan Allah dengan mata hari (sirr) tanpa terhalang dengan apapun.

Musyahadah ini dapat terjadi dalam waktu yang sebentar, namun dapat pula berkepanjangan secara terus menerus sepanjang hayat, inilah biasanya yang menjadi idaman dari seorang salik.

   Kurnia Allah Tuhan yang baqi,

   Kepada hamba-Nya yang putih hati,

   Tafakur musyahadah tiada berhenti,  

Daripada hidup sampai ke mati. (Baca : Sya’ir Sindiran)

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya