oleh

Pengertian Sumpah Dalam Islam

Definisi Sumpah

Sumpah adalah memperkuat suatu perkara dengan menyebut nama Allah atau salah satu sifat-Nya dan sumpah di syari’atkan di dalam Islam.

Sebagaimana Firman Allah : “Dan jagalah sumpah-sumpah kalian.” (Q.S. Al-Ma’idah : 89).

Adapun nadzar adalah menetapkan suatu kewajiban untuk diri sendiri dengan sesuatu yang sebelumnya bukan merupakan kewajiban dan kewajiban tersebut di lafazhkan dengan lafazh yang mengisyaratkan hal tersebut.

Allah mensifati penghuni syurga adalah orang-orang yang menunaikan nadzar mereka ketika di dunia, sebagaimana firman-Nya : ”Mereka menunaikan nadzar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (Q.S. Al-Insan : 7).

SUMPAH

Sumpah harus dengan menyebut nama Allah atau salah satu sifat-Nya, seperti mengatakan : Wallahi, Billahi, Tallahi (Demi Allah), Demi Ar-Rahman, Demi Keagungan Allah, Demi kemuliaan-Nya dan yang semisalnya.

Di antara dalil bahwa bersumpah harus dengan nama Allah, adalah sebagaimana hadits yang di riwayatkan dari Ibnu ‘Umar Ra, Rasulullah Saw bersabda :

“Barangsiapa bersumpah, hendaknya bersumpah dengan Nama Allah atau diam.” (H.R. Muttafaq ‘alaih, Bukhari Juz 2 : 2533 dan Muslim Juz 3 : 1646).

Adapun dalil tentang bersumpah dengan sifat-sifat Allah, adalah sebagaimana hadits yang di riwayatkan pula dari Ibnu ’Umar Ra, ia berkata : “Nabi Saw bersumpah (dengan mengatakan), “Tidak demi (Dzat) yang membolak-balikkan hati.” (H.R. Bukhari Juz 6 : 6253).

Hukum Sumpah

Hukum sumpah terbagi menjadi lima, antara lain :

a. Sumpah yang wajib, seperti sumpah seorang yang tidak bersalah agar selamat dari kebinasaan.

b. Sumpah yang sunnah, seperti; sumpah ketika mendamaikan pihak yang bertikai.

c. Sumpah yang mubah, seperti bersumpah melakukan atau meninggalkan perbuatan mubah atau untuk menegaskan suatu perkara.

d. Sumpah yang makruh, seperti bersumpah melakukan hal yang makruh atau meninggalkan hal yang di anjurkan, termasuk sumpah yang makruh adalah bersumpah dalam jual beli.

Baca juga...  Istighfar Tingkatkan Keridhaan

Hal sebagaimana hadits yang di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : ”Sumpah menjadikan barang dagangan laris, namun menghilangkan keberkahan.” (H.R. Bukhari Juz 2 : 1981 dan Muslim Juz 3 : 1606).

e. Sumpah yang haram, seperti bersumpah secara dusta dengan sengaja, bersumpah untuk melakukan kemaksiatan atau bersumpah untuk meninggalkan yang wajib.

Macam-macam Sumpah

Sumpah terbagi menjadi tiga macam, antara lain :

1. Sumpah palsu (al-yaminul ghamus), Sumpah palsu yaitu sumpah secara dusta dengan sengaja untuk mengambil harta atau hak orang lain atau untuk suatu dosa dan pengkhianatan. (H.R. Bukhari Juz 6 : 6522).

Sumpah palsu merupakan salah satu dosa besar. (H.R. Bukhari Juz 6 : 6298), karena demikian besar dosa sumpah palsu, sehingga tidak ada kaffarah untuk sumpah palsu.

Namun pelakunya wajib bertaubat dan mengembalikan hak-hak kepada yang berhak menerimanya, ini adalah pendapat jumhur ulama’, yaitu : Hanafiyah, Malikiyah dan Hanabilah.

2. Sumpah yang tidak di maksudkan sumpah (Al-yaminul laghwi), sumpah yang tidak di maksudkan sumpah, yaitu ucapan sumpah yang tidak di niatkan untuk sumpah.

Seperti ucapan, “Tidak demi Allah, Ya demi Allah, Demi Allah engkau harus makan dan semisalnya, sumpah jenis ini tidak sah, jika melanggarnya tidak ada kewajiban kaffarah dan pelakunya tidak berdosa. (Q.S. Al-Maidah : 89).

3. Sumpah yang di anggap sah (Al-yaminul mun’aqidah), sumpah yang di anggap sah yaitu sumpah yang di sengaja dengan tujuan untuk menguatkan suatu perkara yang akan datang, jika sumpah ini di langgar, maka wajib membayar kaffarah.

Kaffarah Sumpah

Seorang yang melanggar sumpah, maka di wajibkan untuk memilih salah satu dari kaffarah sumpah berikut ini, yaitu :

Baca juga...  Cara Tidur Rasulullah Saw

1. Memberi makan sepuluh orang miskin, dengan makanan yang biasa di berikan untuk keluarganya, ukuran makanan tersebut adalah berdasarkan ’urf (kebiasaan) daerah tersebut, ini adalah pendapat Ibnu Taimiyyah.

Islam Ibnu Taimiyyah berkata : ”Semua yang tidak di tentukan oleh pembuat syari’at, maka ia di kembalikan kepada ’urf (kebiasaan) dan dalam masalah ini pembuat syari’at tidak menentukan kadar atau ukuran(nya), maka ia di kembalikan kepada ’urf, apalagi ada pendukung dari Firman Allah, ”Yaitu dari makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian.”

2. Memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, dengan pakaian yang dapat menutup aurat ketika shalat, ini adalah pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad.

3. Memerdekakan hamba sahaya, yang muslim, ini adalah pendapat Jumhur ulama’.

4. Jika seorang tidak mampu melakukan salah satu dari ketiga hal di atas, maka kaffarahnya dengan berpuasa tiga hari. (Q.S. Al-Ma’idah : 89).

Sumpah yang tidak di maksudkan sumpah yaitu ucapan sumpah yang tidak di niatkan untuk sumpah, seperti ucapan, “Tidak demi Allah, Ya demi Allah, Demi Allah engkau harus makan dan semisalnya.

Sumpah jenis ini tidak sah, jika melanggarnya tidak ada kewajiban kaffarah dan pelakunya tidak berdosa. (Q.S. Al-Maidah : 89).

3. Sumpah yang di anggap sah (Al-yaminul mun’aqidah), sumpah yang di anggap sah, yaitu sumpah yang di sengaja dengan tujuan untuk menguatkan suatu perkara yang akan datang, jika sumpah ini di langgar, maka wajib membayar kaffarah.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya