Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Usman Bin Affan Ra

oleh

Penyebaran Islam bertambah dan para penghafal Al-Qur’an pun tersebar di berbagai wilayah dan penduduk di setiap wilayah itu mempelajari qira’at (bacaan) dari qari yang dikirim kepada mereka, cara-cara pembacaan (qiraat) Al-Qur’an yang mereka bawakan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan ‘huruf’ yang dengannya Al-Qur’an di turunkan, apabila mereka berkumpul di suatu pertemuan atau di suatu medan peperangan, sebagian mereka merasa heran dengan adanya perbedaan qiraat ini.

Terkadang sebagian mereka merasa puas, karena mengetahui bahwa perbedaan-perbedaan itu semuanya di sandarkan kepada Rasulullah Saw, tetapi keadaan demikian bukan berarti tidak akan menyusupkan keraguan kepada generasi baru yang tidak melihat Rasulullah Saw sehingga terjadi pembicaraan, bacaan mana yang baku dan mana yang lebih baku dan pada gilirannya akan menimbulkan saling bertentangan bila terus tersiar, bahkan akan menimbulkan permusuhan dan perbuatan dosa.

Fitnah yang demikian ini harus segera diselesaikan, ketika terjadi perang Armenia dan Azerbaijan dengan penduduk Iraq, diantara orang yang ikut menyerbu kedua tempat itu adalah Huzaifah bin Al-Yaman Ra, beliau banyak melihat perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an, sebagian bacaan itu bercampur dengan kesalahan, tetapi masing-masing mempertahankan dan berpegang pada bacaannya, serta menentang setiap orang yang menyalahi bacaannya dan bahkan mereka saling mengkafirkan, melihat kenyataan demikian Huzaifah segara menghadap Usman dan melaporkan kepadanya apa yang telah dilihatnya.

Usman juga memberitahukan kepada Huzaifah Ra,bahwa sebagian perbedaan itu pun akan terjadi pada orang-orang yang mengajarkan qiraat pada anak-anak, anak-anak itu akan tumbuh, sedang diantara mereka terdapat perbedaan dalam qiraat, para sahabat amat memprihatinkan kenyataan ini karena takut kalau-kalau perbedaan itu akan menimbulkan penyimpangan dan perubahan.

Mereka bersepakat untuk menyalin lembaran-lembaran yang pertama yang ada pada Abu Bakar Ra dan menyatukan umat Islam pada lembaran-lembaran itu dengan bacaan tetap pada satu huruf. Usman Ra kemudian mengirimkan utusan kepada Hafsah Ra untuk meminjamkan mushaf Abu Bakar Ra yang ada padanya dan Hafsah Ra pun mengirimkan lembaran-lembaran itu kepadanya, kemudian Usman Ra memanggil Zaid bin Tsabit Ra, Abdullah bin Az-Zubair Ra, Said bin ‘As Ra dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam Ra.

Ketiga orang terakhir ini adalah orang quraisy, lalu memerintahkan mereka agar menyalin dan memperbanyak mushaf, serta memerintahkan pula agar apa yang di perselisihkan Zaid Ra dengan ketiga orang quraisy itu di tulis dalam bahasa Quraisy, karena Al-Qur’an turun dengan logat mereka.

Dari Anas Ra,”Huzaifah bin Al-Yaman Ra datang kepada Usman Ra, ia pernah ikut berperang melawan penduduk Syam bagian Armenia dan Azerbaijan bersama dengan penduduk Iraq. Huzaifah amat terkejut dengan perbedaan mereka dalam bacaan, lalu ia berkata kepada Utsman Ra,”Selamatkanlah umat ini sebelum mereka terlibat dalam perselisihan (dalam masalah kitab) sebagaimana perselisihan orang-orang Yahudi dan Nasrani.”

Utsman Ra kemudian mengirim surat kepada Hafsah Ra yang isinya, ”Sudilah kiranya anda kirimkan lembaran-lembaran yang berisi Al-Qur’an itu, kami akan menyalinnya menjadi beberapa mushaf, setelah itu kami akan mengembalikannya.” Hafsah Ra mengirimkannya kepada Usman Ra dan Usman Ra memerintahkan Zaid bin Tsabit Ra, Abdullah bin Zubair Ra, Sa’ad bin ‘As Ra dan Abdurrahman bin Haris bin Hisyam Ra untuk menyalinnya, mereka pun menyalinnya menjadi beberapa mushaf.

Usman Ra berkata kepada ketiga orang quraisy itu,”Bila kamu berselisih pendapat dengan Zaid bin Tsabit Ra tentang sesuatu dari Al-Qur’an, maka tulislah dengan logat Quraisy, karena Al-Qur’an di turunkan dengan bahasa Quraisy.”

Mereka melakukan perintah itu, setelah mereka selesai menyalinnya menjadi beberapa mushaf, Usman Ra mengembalikan lembaran-lembaran asli itu kepada Hafsah Ra, kKemudian Usman Ra mengirimkan salinan ke setiap wilayah dan memerintahkan agar semua Al-Qur’an atau mushaf lainnya di bakar dan di tahannya satu mushaf untuk di Madinah, yaitu mushafnya sendiri yang di kenal dengan nama “Mushaf Imam.”

Penamaan mushaf itu sesuai dengan apa yang terdapat dalam riwayat-riwayat di mana ia mengatakan, ”Bersatulah wahai umat-umat Muhammad dan tulislah untuk semua orang satu imam (Mushaf Al-Qur’an Pedoman).”

Ibn Jarir mengatakan berkenaan dengan apa yang telah di lakukan oleh Usman Ra, yaitu : “Ia menyatukan umat Islam dengan satu mushaf dan satu huruf, sedang mushaf yang lain di sobek. Ia memerintahkan dengan tegas agar setiap orang yang mempunyai mushaf ‘berlainan’ dengan mushaf yang di sepakati itu membakar mushaf tersebut, umatpun mendukungnya dengan taat dan mereka melihat bahwa dengan begitu Usman Ra telah bertindak sesuai dengan petunjuk dan sangat bijaksana, maka umat meninggalkan qiraat dengan enam huruf lainnya sesuai dengan permintaan pemimpinnya yang adil itu, sebagai bukti ketaatan umat kepadanya dan karena pertimbangan demi kebaikan mereka dan generasi sesudahnya.

Dengan demikian segala qiraat yang lain sudah di musnahkan dan bekas-bekasnya juga sudah tidak ada, sekarang sudah tidak ada jalan bagi orang yang ingin membaca dengan ketujuh huruf itu dan kaum muslimin juga telah menolak qiraat dengan huruf-huruf yang lain tanpa mengingkari kebenarannya atau sebagian dari padanya, tapi hal itu bagi kebaikan kaum muslimin itu sendiri.

Apabila sebagian orang lemah pengetahuan bertanya bagaimana mereka boleh meninggalkan qiraat yang telah di bacakan oleh Rasulullah Saw dan di perintahkan pula membaca dengan cara itu? Maka jawabnya adalah, bahwa perintah Rasulullah Saw kepada mereka untuk membacanya itu bukanlah perintah yang menunjukkan wajib dan fardu, tetapi menunjukkan kebolehan dan keringanan (rukshah), sebab andaikata qiraat dengan tujuh huruf itu di wajibkan kepada mereka, tentulah pengetahuan tentang setiap huruf dari ketujuh huruf itu wajib pula bagi orang yang mempunyai hujjah untuk menyampaikannya dan keraguan harus di hilangkan dari para qari.