Penulisan Hadist Pada Masa Rasulullah Saw

oleh

A. Penukilan dan Periwayatan Hadis
Berkenaan dengan penukilan hadis secara lisan di masa Rasulullah Saw dan periwayatannya dari mereka yang mendengar, langsung kepada yang tidak hadir, terdapat banyak bukti dalam kitab-kitab hadis, sekaligus menunjukkan sikap setuju Rasulullah Saw dengan bentuk penukilan hadis yang seperti ini, sebagian bukti-bukti itu adalah sebagai berikut.

1. Kelompok Syi‘ah dan Sunni meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw dalam rangka menyampaikan khutbah di haji wada’, ia berkata : “Semoga Allah membahagiakan orang yang mendengar ucapanku lalu memahaminya kemudian menyampaikannya kepada yang belum mendengarnya. Betapa banyak orang yang membawa ilmu (hukum agama) namun ia bukan fakih (ahli istinbath) dan betapa banyak para pembawa ilmu (yang fakih) yang meriwayatkan (ilmunya) kepada orang yang lebih fakih

2. Thabrani menukil dari Abi Qirshafah yang meriwayatkan dari Rasulullah Saw, bahwa beliau berkata, “Sampaikanlah kepada orang lain apa yang kalian dengar dariku dan janganlah kalian berucap kecuali yang benar. Barangsiapa yang berdusta padaku, maka akan di dirikan baginya rumah di neraka jahannam di mana ia kan tinggal di sana.” Di samping riwayat ini, sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw untuk mengakhiri setiap sabdanya dengan ucapan, “Hendaknya yang hadir (dan mendengar) menyampaikan kepada yang tidak hadir!” Beliau senantiasa menugaskan orang yang mendengar untuk menyampaikan kepada yang tidak mendengar, atau menurut beberapa riwayat lain, beliau pernah berucap dengan redaksi sebagai berikut, “Sampaikanlah apa yang dariku dan kalian tidak dilarang untuk melakukannya.” Dengan penegasan ini berarti beliau telah mengeluarkan izin bagi siapapun untuk menyampaikan sabdanya. Beliau hanya mengharamkan dan melarang siapapun yang berdusta padanya. Dalam sebuah riwayat, beliau menekankan agar penukilan hadis menjadi satu tradisi yang bersifat abadi dan terus-menerus di kalangan muslim. Riwayat itu sebagai berikut : “Ya Allah, rahmatilah para khalifahku!” Ditanyakan kepada beliau, “Siapa para khalifahmu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Mereka yang akan datang sesudahku dan meriwayatkan sabda-sabdaku lalu mengajarkannya kepada umat manusia.” Setelah menyebutkan hadis ini, Qasimi memberikan penjelasan “Sabda Rasul ini menjadi sebab atau alasan mengapa sebagian muhadis seperti Sufyan Tsauri, Ibnu Rahawiyah, Bukhari, diberi julukan ‘Amirul Mukminin‘. Karena beliau telah menamakan pembawa dan penukil hadis sebagai khalifahnya.“ Dari beberapa riwayat di atas, dapat disimpulkan bahwa penukilan hadis secara lisan di zaman Rasulullah Saw merupakan sebuah tradisi. Bahkan sangat dianjurkan oleh beliau. Kaum muslim hanya diberi peringatan dan larangan dalam hal memalsukan hadis atau melakukan distorsi atasnya.

B. Penulisan dan Pembukuan Hadis
Sebagian sahabat Rasulullah Saw, sepanjang kehidupan beliau, telah membuat catatan-catatan seputar sabda-sabda beliau. Pekerjaan ini ada yang memang merupakan perintah langsung dari Rasulullah Saw dan ada juga yang berasal dari inisiatif para sahabat itu sendiri. Mengenai hal ini, terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa beliau setuju dengan penulisan dan pembukuan hadis. Berikut ini adalah beberapa di antaranya.

1. Rasulullah Saw selalu mengabadikan berbagai macam perjanjian dengan kabilah-kabilah Arab dalam bentuk dokumen-dokumen tertulis. Bahkan sebagian juru tulis beliau, hanya bertugas untuk mencatat perjanjian-perjanjian. Sebagiannya telah termaktub dalam buku-buku sirah. Sebagai contoh dari perjanjian-perjanjian beliau di antaranya adalah pasca hijrahnya ke Madinah, telah dibuat sebuah perjanjian antara Muhajirin, Anshar dan orang-orang Yahudi yang tinggal di Madinah, dalam perjanjian itu telah dijelaskan hak-hak dari masing-masing kelompok. Perjanjian ini berupa sebuah dokumen tertulis. Mereka yang menerima butir-butir perjanjian itu dikenal dengan sebutan Ahlu Hadzhish Shahifah, beberapa bagian dari perjanjian ini yang telah direkam dalam sirah Ibnu Hisyam’ sebagai berikut. Perjanjian ini di dalam kitab-kitab riwayat Syi’ah, juga telah dimuat bagian per bagian. Dengan mengamatinya dapat dipahami bahwa perjanjian tersebut telah disusun dalam bentuk dokumen tertulis lebih dari itu, dapat ditemukan dalam kitab-kitab sejarah banyak surat dan fakta politik Rasulullah Saw pada masa awal Islam, bahkan surat-surat dan pakta-pakta politik tersebut telah dikumpulkan oleh sebagian peneliti dalam kitab-kitab tersendiri. Di antara bukti-bukti yang paling orisinal tentang penulisan hadis di masa hayat Rasulullah Saw adalah protes yang dilakukan oleh para pemuka Quraisy terhadap Abduilah bin Amr bin Ash dalam masalah penulisan hadis. Kejadian protes ini telah dimuat di dalam kumpulan-kumpulan hadis Ahlu sunnah, seperti Sunan Darimi (kitab hadis tertua Ahlusunnah), dinukil dari ucapan Abdullah, “Apa pun yang aku dengar dari Rasulullah Saw, selalu aku tulis agar dapat kuingat, namun orang-orang Quraisy mencegahku dan berkata,”Engkau selalu menulis apa pun yang kau dengar (dari Rasulullah Saw), padahal dia adalah manusia yang juga berkata-kata, baik dalam keadaan rela (suka) maupun marah. Lalu aku berhenti menulis dan kubicarakan hal ini dengan Rasulullah Saw, kemudian beliau berkata padaku, “Teruslah menulis! Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tidak ada yang keluar dari mulutku selain kebenaran.'” Perlu diketahui, sosok ini pada akhirnya berhasil membukukan sabda-sabda Rasulullah Saw dalam sebuah kitab yang dikenal dengan nama Shahifah Shadiqah, yang menurut Ibnu Aisir memuat sekitar seribu hadis.“ Dalam hal ini Mujahid berkata,”Aku pergi menemui Abdullah dan kutemukan sahifah di atas ranjang dan tempat tidurnya. Ketika aku hendak mengambilnya, ia mencegahku untuk melakukan itu. Lalu aku tanyakan kepadanya tentang alasannya, ia berkata padaku, “Didalam sahifah itu, terdapat keterangan-keterangan yang aku dengar langsung dari Rasulullah Saw dan tidak ada orang lain selain diriku dan beliau.”

2. Di antara bukti-bukti yang paling orisinal tentang penulisan hadis di masa hayat Rasulullah Saw adalah protes yang dilakukan oleh para pemuka Quraisy terhadap Abdullah bin Amr bin Ash dalam masalah penulisan hadis. Kejadian protes ini telah dimuat di dalam kumpulan-kumpulan hadis Ahlusunnah, seperti Sunan Darimi (kitab hadis tertua Ahlusunnah), dinukil dari ucapan Abdullah, “Apa pun yang aku dengar dari Rasulullah Saw, selalu aku tulis agar dapat kuingat. Namun orang-orang Quraisy mencegahku dan berkata, “Engkau selalu menulis apa pun yang kau dengar (dari Rasulullah Saw), padahal dia adalah manusia yang juga berkata-kata, baik dalam keadaan rela (suka) maupun marah.” Lalu aku berhenti menulis dan kubicarakan hal ini dengan Rasulullah Saw. Kemudian  beliau berkata padaku, “Teruslah menulis! Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tidak ada yang keluar dari mulutku selain kebenaran.'” Perlu diketahui, sosok ini pada akhirnya berhasil membukukan sabda-sabda Rasulullah Saw dalam sebuah kitab yang dikenal dengan nama Shahifah Shadiqah, yang menurut Ibnu Aisir memuat sekitar seribu hadis. Dalam hal ini Mnjahid berkata, “Aku pergi menemui Abdullah dan kutemukan sahifah di atas ranjang dan tempat tidurnya. Ketika aku hendak mengambilnya, ia mencegahku untuk melakukan itu. Lalu aku tanyakan kepadanya tentang alasannya, ia berkata padaku, “Di dalam sahifah itu, terdapat keterangan-keterangan yang aku dengar langsung dari Rasulullah Saw dan tidak ada orang lain selain diriku dan beliau.”

3. Dalam sebuah hadis panjang yang sampai herkenaan dengan penukilan dan penulisan hadis, Rafi’ bin Khudaij,berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah, karni telah mendengar banyak darimu, apakah kami (boleh) menulisnya? Beliau menjawab, “Tulislah, kalian tidak dilarang untuk melakukannya’ (uktubu wa la haraj).” Abu Hurairah Ra meriwayatkan, “Setelah peristiwa pembebasan Makkah, Rasulullah Saw menyampaikan sebuah khutbah. Di akhir khutbahnya seorang muslim bernama Abu Syat Yamani bertanya kepada beliau seraya berkata, “Ya Rasulullah, bila dimungkinkan, berilah perintah agar mereka menuliskan khutbah ini untukku.” Rasulullah Saw berkata, “Tuliskan (khutbah) ini untuk Abu Syat.” Perlu dicatat, hadis ini telah diriwayatkan oleh kebanyakan dari muhadis Ahlusunnah. Setelah membawakan riwayat ini, Suyuthi berkomentar bahwa hadis ini muttafaqun ‘alaih. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Berkenaan dengan penulisan hadis, tidak ada riwayat yang lebih sahih dari hadis ini.” Dari kalangan ulama kontemporer, Sayid Muhammad Rasyid Ridha juga berkata, ” Riwayat yang paling sahih berkenaan dengan izin bagi penulisan hadis adalah riwayat Abu Hurairah Ra tentang Abu Syat Yamani, yang juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.”

4. Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah Saw berkata, “Ikatlah ilmu!” Abdullah berkata, “Aku bertanya, wahai Rasulullah, bagaimana caranya mengikat ilmu?” Beliau menjawab, “Dengan cara menulisnya.” Hadis ini merupakan sebuah kalimat populer di kalangan para sahabat dan sering mereka ucapkan sehingga sebagian muhadis menganggapnya sebagai hadis yang mauqufah dari beberapa sahabat. Padahal hadis ini marfu’ah dan sampai kepada pribadi Rasulullah Saw.

5. Dalam kitabnya setelah menyebutkan sanad, At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, seorang lelaki dari kalangan Anshar hadir dalam majelis Rasulullah Saw dan ia mendengarkan sabda-sabda beliau. Namun ia tidak dapat mengingat keterangan-keterangan beliau. Karena itu, pada suatu hari ia datang mengeluhkan kelemahan daya ingatnya kepada Rasulullah Saw, lalu beliau berkata padanya, “Mintalah. bantuan pada tangan kananmu (untuk menulis)!”

6. Dalam hadis lain, Rasulullah Saw berkata, “Setiap mukmin meninggal dunia dan ia meninggalkan secarik kertas yang padanya tertulis ilmu, maka secarik kertas itu di hari kiamat akan menjadi penghalang antara dia dengan api neraka…” Syi’ah dan Sunni keduanya meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw menjelang wafatnya berkata,“Sediakan untukku (tulang atau kulit) bahu kambing dan pena, agar kutinggalkan bagi kalian sebuah tulisan yang dengannya kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya.“ Sayangnya, meskipun pada akhirnya tulisan ini tidak jadi ditulis karena sebagian yang hadir tidak setuju dengan penulisan itu, tetapi bagaimanapun juga hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu bukti yang menetapkan bahwa Rasulullah Saw telah memberikan perhatian pada penulisan sabda dan pesannya, sebagaimana beliau juga sering menyemangati umat Islam untuk menuntut ilmu dan melakukan upaya-upaya agar mereka mampu membaca dan menulisnya.