oleh

Peradilan Yang Adil

Allah menghendaki di akhirat kelak sedikitpun tidak terjadi perbuatan aniaya atau ketidak adilan, karena di hari itu “Pengadilan Akbar” akan ditegakkan.

Hari di mana kitab-kitab catatan amal diserahkan kepada pemiliknya, maka orang yang berdosa menjadi sangat ketakutan, karena seluruh perbuatan dosanya ternyata tercatat di dalam kitab yang telah diterima itu.

Allah telah mengabarkan keadaan itu dengan firman-Nya: “Kitab akan diletakkan, lalu kamu akan melihat orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: “Aduhai celakalah kami, kitab apa ini, yang tidak meninggalkan yang kecil dan yang besar, melainkan ia mencatat semuanya dan mereka dapati apa yang mereka kerjakan ada tertulis dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun.” (Q.S. Kahfi : 18/49).

Pengadilan di akhirat itu akan dilaksanakan dengan seadil-adilnya, tidak seperti pengadilan didunia yang kadang-kadang dilaksanakan hanya untuk mengadili orang yang bersalah bukan untuk menegakkan keadilan.

Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat kebaikan sesuai amal kebaikan yang sudah dikerjakan dan akan ditambahkan dengan kebaikan lagi sesuai dengan yang dijanjikan, manusia tidak akan mendapatkan kecuali sebagaimana yang sudah diusahakannya didunia.

Allah berfirman: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan.” (Q.S. An-Najm : 53/39).

Untuk itulah, Allah menyatakan bahwa Rasul-Rasul dan orang yang beriman bersama Rasul Muhammad Saw telah ditetapkan sebagai saksi sejak didalam kehidupan dunia dan di alam barzah sampai dengan di akhirat nanti, agar pengadilan akbar itu dapat dilaksanakan dengan seadil adilnya dan bukti-bukti atas sebuah kejahatan akan menjadi jelas dan celaan bagi pelakunya menjadi tegas, lalu supaya penyesalan mereka menjadi amat sangat.

Sedikitpun Allah tidak akan berbuat aniaya kepada hamba-hamba-Nya. “Allah sungguh tidak akan menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarrah dan jika ada kebaikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Q.S. An-Nisa‘ : 4/40).

Baca juga...  Takutlah Kepada Syirik

Ayat-ayat tersebut di atas akan menjadi ancaman bagi orang yang tidak beriman, sebagaimana firman Allah : “Sungguh Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar Zarrah.” (Q.S. An-Nisa‘ : 4/40).

Karena apapun yang akan dijumpai manusia pada hari itu, siksa-siksa yang teramat pedih adalah semata-mata akibat dari perbuatannya sendiri, juga merupakan janji terhadap orang-orang yang taat Allah berfirman: “Dan jika ada kebajikan sebesar Zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakan. (Q.S. 4/40).

Untuk menebus kebahagiaan yang abadi disyurga, meski seluruh hidup manusia di dunia telah didarmabaktikan untuk berbuat kebaikan, niscaya
yang demikian itu tidak dapat mencukupinya.

Oleh karena itu, orang-orang yang telah berhasil berbuat kebaikan (ihsan) di dunia hanya mengharapkan ridla-Nya, sehingga dengan ridla-Nya pula, pahala kebaikan itu akan dilipat gandakan bahkan dengan tanpa terhitung lagi melebihi sekedar kenikmatan disyurga yang abadi.

Yang demikian itu hanyalah pelaksanan janji yang tidak mungkin teringkari, sebagai sunnah yang tidak akan pernah berubah. Allah telah menegaskan dengan firman-Nya: “Hanya kepada Allah kalian semua akan dikembalikan janji Allah adalah benar-benar dilaksanakan. Dia yang pertama menjadikan dan menghidupkan, kemudian Dia pula yang mengembalikan kejadian dan kehidupan itu di hari akhirat, supaya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh mendapatkan balasan yang adil, dan orang-orang kafir disediakan bagi mereka minuman yang panas dan siksa yang menyakitkan disebabkan kekafiran mereka.” (Q.S. Yunus : 10/4).

Penyesalan yang sangat menyakitkan adalah ketika datangnya kesadaran sudah terlambat sehingga kesempatan untuk berbuat benah-benah dan memperbaiki diri sudah tertutup.

Terlebih lagi apabila sebelum itu ia pernah mendapatkan peringatan, akan tetapi karena kekerasan hatinya, ia tidak mempercayai peringatan itu bahkan malah mengingkarinya. Ketika suatu saat ia mengetahui dengan mata kepala ternyata peringatan itu benar, padahal kesempatan untuk berubah sudah tertutup, maka saat itu dia baru merasakan penyesalan yang sesungguhnya.

Baca juga...  Rahasia Alam Mimpi

Seperti itu keadaan yang dialami orang-orang kafir di tengah penderitaan yang mereka rasakan di neraka, mereka melahirkan rasa putus asa dengan menyampaikan harapan kosong kepada Tuhannya, harapan kosong tersebut telah diabadikan Allah dengan firman-Nya: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Demikianlah Allah telah memberikan peringatan kepada kita dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang-orang yang tidak percaya atau kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah.” (Q.S. An-Naba‘ : 78/40).

Sekarang tinggal bagaimana kemauan kita sendiri, akan kita kemanakan diri kita saat itu. Di saat sudah tidak ada lagi yang dapat menolong kita selain apa yang dapat kita perbuat sekarang, selain amal ibadah yang kita jalani dan syafa‘at Nabi Saw yang harus sudah kita usahakan semenjak sekarang.

Karena sejak di alam barzah kesempatan itu sudah tertutup bagi kita, maka pilihan kita untuk masuk ke syurga atau ke neraka akan sangat tergantung pada kemauan kita sendiri sekarang, untuk yang demikian itu, sekarang kita masih mempunyai banyak kesempatan untuk beramal.

Kalau orang ingin masuk surga, maka sejak sekarang dia harus mempersiapkan bekalnya, demikian juga kalau orang ingin masuk ke neraka, bekalnya juga harus dipersiapkan sejak sekarang, yang pasti masing-masing tujuan itu membutuhkan biaya.

Membutuhkan ongkos jalan, bahkan kadang-kadang jauh lebih besar ongkos jalan untuk masuk neraka dari pada untuk masuk syurga, untuk masuk syurga, orang hanya cukup membutuhkan 2.5 % dari seluruh pemilikannya.

Kecuali kalau dia menghendaki tempat yang lebih baik, maka dia cukup tambahkan sedikit lagi, sekedar untuk menyenangkan hati orang lain yang kadang-kadang ukurannya jauh lebih kecil daripada ukuran kesenangan hatinya sendiri.

Baca juga...  Menggapai Khusnul Khatimah

Adapun untuk masuk neraka, kadang-kadang dengan yang 100 % saja masih kurang, bahkan harus dengan habis-habisan sehingga yang tertinggal hanya hutang yang bertumpuk yang seumur hidup kadang-kadang tidak mampu lagi untuk dibayarnya hingga akhirnya menyisakan penyakit-penyakit di dalam jasad yang menjadi penyebab kematian bagi manusia.

Artinya, tiket untuk sebuah penderitaan dineraka itu ternyata kadang dengan penderitaan didunia pula, tidak seperti tiket kebahagiaan di syurga, kalau manusia mampu menempuh kebahagiaan disyurga itu, tiketnya ternyata juga berupa kebahagiaan di dunia, bahkan dengan kehormatan pula, karena sebagian pemilikan yang sudah dishodaqohkan kepada fakir miskin itu telah mendapatkan penerimaan yang baik di hati manusia, sehingga manusia akan selalu menghormati kemurahan hatinya.

Bukankah ternyata lebih murah biaya untuk masuk ke syurga daripada untuk masuk neraka? Akan tetapi walau demikian ternyata tidak banyak manusia yang mampu melaksanakannya, demikian itu tidak lain karena setan telah menguasai jalan pikiran manusia sehingga manusia hanya terbelenggu untuk memperturutkan hawa nafsunya belaka.

Kalau manusia mampu menahan sedikit saja hawa nafsunya, kesenangan hidupnya tidak dihabiskan di dunia, akan tetapi disisakan sebagian untuk kebahagiaannya di akherat kelak, yang demikian itu dilaksanakan semata hanya mengharapkan ridha Tuhannya dan karena takut kepada kebesaran-Nya, maka cobalah!, anda pasti menemukan hasilnya, karena Allah telah menyatakan janji-Nya dan sedikitpun Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya : “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal (nya).” (Q.S. An-Naaziaat : 79/40-41)).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru