Perbedaan Al-Qur’an Antara Pengumpulan Abu Bakar Ra dan Usman Ra

oleh

Dari pengumpulan mushaf oleh Abu Bakar Ra berbeda dengan pengumpulan yang dilakukan Usman Ra dalam motif dan caranya, motif Abu Bakar adalah kekhawatiran beliau akan hilangnya Al-Qur’an karena banyaknya para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan yang banyak menelan korban, sedang motif Usman Ra dalam karena banyaknya perbedaan dalam cara-cara membaca Al-Qur’an yang disaksikannya sendiri di daerah-daerah dan mereka saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Pengumpulan Al-Qur’an yang dilakukan Abu Bakar Ra adalah memindahkan satu tulisan atau catatan Al-Qur’an yang semula bertebaran di kulit-kulit binatang, tulang dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat-ayat dan surah-surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf. Al-Haris Al-Muhasibi mengatakan bahwa yang masyhur di kalangan orang banyak adalah bahwa pengumpul Al-Qur’an itu Usman Ra, padahal sebenarnya tidak demikian, Usman Ra hanyalah berusaha menyatukan umat pada satu macam (wajah) qiraat, itupun atas dasar kesepakatan antara dia dengan kaum muhajirin dan anshar yang hadir dihadapannya serta setelah ada kekhawatiran timbulnya kemelut karena perbedaan yang terjadi karena penduduk Iraq dengan Syam dalam cara qiraat.

Sebelum itu mushaf-mushaf itu dibaca dengan berbagai macam qiraat yang didasarkan pada tujuh huruf dengan mana Al-Qur’an diturunkan, sedang yang lebih dahulu mengumpulkan Al-Qur’an secara keseluruhan (lengkap) adalah Abu Bakar As-Sidiq, dengan usahanya itu Usman telah berhasil menghindarkan timbulnya fitnah dan mengikis sumber perselisihan serta menjaga isi Al-Qur’an dari penambahan dan penyimpangan sepanjang zaman.

Pemberian Harakat (Nuqath Al-I’rab).
Sebagaimana telah diketahui, bahwa naskah mushaf Utsmani generasi pertama adalah naskah yang ditulis tanpa alat bantu baca yang berupa titik pada huruf (nuqath al-i’jam) dan harakat (nuqath al-i’rab) yang lazim kita temukan hari ini dalam berbagai edisi mushaf Al-Qur’an, langkah ini sengaja ditempuh oleh Khalifah ‘Utsman Ra dengan tujuan agar rasm (tulisan) tersebut dapat mengakomodir ragam qira’at yang diterima lalu diajarkan oleh Rasulullah Saw dan ketika naskah-naskah itu dikirim ke berbagai wilayah, semuanya pun menerima langkah tersebut, lalu kaum muslimin pun melakukan langkah duplikasi terhadap mushaf-mushaf tersebut, terutama untuk keperluan pribadi mereka masing-masing dan duplikasi itu tetap dilakukan tanpa adanya penambahan titik ataupun harakat terhadap kata-kata dalam mushaf tersebut.

Hal ini berlangsung selama kurang lebih 40 tahun lamanya, dalam masa itu, terjadilah berbagai perluasan dan pembukaan wilayah-wilayah baru, konsekwensi dari perluasan wilayah ini adalah banyaknya orang-orang non Arab yang kemudian masuk ke dalam Islam, disamping tentu saja meningkatnya interaksi muslimin Arab dengan orang-orang non Arab Muslim ataupun non Muslim, akibatnya, al-‘ujmah (kekeliruan dalam menentukan jenis huruf) dan al-lahn (kesalahan dalam membaca harakat huruf) menjadi sebuah fenomena yang tak terhindarkan, tidak hanya di kalangan kaum muslimin non-Arab, namun juga di kalangan muslimin Arab sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa, dalam ilmu antropologi budaya, perbendaan manusia dari segi budaya tetap ada, oleh karena itu, bahasa, dialek memungkinkan adanya perbedaan antara satu bangsa dengan lainnya. Hal ini kemudian menjadi sumber kekhawatiran tersendiri di kalangan penguasa muslim. Terutama karena mengingat mushaf Alquran yang umum tersebar saat itu tidak didukung dengan alat bantu baca berupa titik dan harakat.

Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa yang pertama kali mendapatkan ide pemberian tanda bacaan terhadap mushaf Al-Qur’an adalah Ziyad bin Abihi, salah seorang gubernur yang diangkat oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra untuk wilayah Bashrah (45-53 H), kisah munculnya ide itu diawali ketika Mu’awiyah menulis surat kepadanya agar mengutus putranya, ‘Ubaidullah, untuk menghadap Mu’awiyah, saat ‘Ubaidullah datang menghadapnya, Mu’awiyah terkejut melihat bahwa anak muda itu telah melakukan banyak al-lahn dalam pembicaraannya. Mu’awiyah pun mengirimkan surat teguran kepada Ziyad atas kejadian itu, tanpa buang waktu, Ziyad pun menulis surat kepada Abu Al-Aswad Al-Du’aly. “Sesungguhnya orang-orang non-Arab itu telah semakin banyak dan telah merusak bahasa orang-orang Arab, maka cobalah anda menuliskan sesuatu yang dapat memperbaiki bahasa orang-orang itu dan membuat mereka membaca Al-Qur’an dengan benar.”

Abu Al-Aswad sendiri pada mulanya menyatakan keberatan untuk melakukan tugas itu, namun Ziyad membuat semacam ‘perangkap’ kecil untuk mendorongnya memenuhi permintaan Ziyad. Ia menyuruh seseorang untuk menunggu di jalan yang biasa dilalui Abu Al-Aswad, lalu berpesan : “Jika Abu Al-Aswad lewat di jalan ini, bacalah salah satu ayat Al-Qur’an tapi lakukanlah lahn terhadapnya!” Ketika Abu Al-Aswad lewat, orang inipun membaca firman Allah yang berbunyi :
وَأَذَانٌ منَ اللّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى الناسِ يَوْمَ الْحَج الأَكْبَرِ أَن اللّهَ بَرِيءٌ منَ الْمُشْرِكِينَ
وَرَسُولُهُ فَإِن تُبْتُمْ فَهُوَ خَيْرٌ لكُمْ وَإِن تَوَليْتُمْ فَاعْلَمُواْ أَنكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللّهِ وَبَشرِ
الذِينَ كَفَرُواْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿﴾٣

“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin. Kemudian jika kamu (kaum musyrikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik
bagimu dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakanlah kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”


Tapi ia mengganti bacaan “wa rasuluhu” menjadi “wa rasulihi”, bacaan itu didengarkan oleh Abu Al-Aswad dan itu membuatnya terpukul. “Maha Mulia Allah! Tidak mungkin Ia berlepas diri dari Rasul-Nya!” ujarnya. Inilah yang kemudian membuatnya memenuhi permintaan yang diajukan oleh Ziyad. Ia pun menunjuk seorang pria dari suku ‘Abd Al-Qais untuk membantu usahanya itu.

Tanda pertama yang diberikan oleh Abu Al-Aswad adalah harakat (nuqath al-i’rab), metode pemberian harakat itu adalah Abu Al-Aswad membaca Al-Qur’an dengan hafalannya, lalu stafnya sembari memegang mushaf memberikan harakat pada huruf terakhir setiap kata dengan warna yang berbeda dengan warna tinta kata-kata dalam mushaf tersebut.

Harakat fathah ditandai dengan satu titik di atas huruf, kasrah ditandai dengan satu titik
dibawahnya, dhammah ditandai dengan titik didepannya dan tanwin ditandai dengan dua titik, demikianlah dan Abu Al-Aswad pun membaca Al-Qur’an dan stafnya memberikan tanda itu dan setiap kali usai dari satu halaman, Abu Al-Aswad pun memeriksanya kembali sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya.

Murid-murid Abu Al-Aswad kemudian mengembangkan beberapa variasi baru dalam penulisan bentuk harakat tersebut. Ada yang menulis tanda itu dengan bentuk kubus (murabba’ah), ada yang menulisnya dengan bentuk lingkaran utuh, dan ada pula yang menulisnya dalam bentuk lingkaran yang dikosongkan bagian tengahnya. Dalam perkembangan selanjutnya, mereka kemudian menambahkan tanda sukun (yang menyerupai bentuk kantong air) dan tasydid (yang menyerupai bentuk busur) yang diletakkan di bagian atas huruf. Dan seperti yang disimpulkan oleh Al-A’zhamy, nampaknya setiap wilayah kemudian mempraktekkan sistem titik yang berbeda.

Sistem titik yang digunakan penduduk Makkah misalnya berbeda dengan yang digunakan orang Irak, begitu pula sistem penduduk Madinah berbeda dengan yang digunakan oleh penduduk Bashrah. Dalam hal ini, Bashrah lebih berkembang, hingga kemudian penduduk Madinah mengadopsi sistem mereka, namun lagi-lagi perlu ditegaskan, bahwa perbedaan ini sama sekali tidak mempengaruhi apalagi mengubah bacaan Kalamullah, ia masih tetap seperti yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw.

Pemberian Titik Pada Huruf (Nuqath Al-I’jam)
Pemberian tanda titik pada huruf ini memang dilakukan belakangan dibanding pemberian harakat, pemberian tanda ini bertujuan untuk membedakan antara huruf-huruf yang memiliki bentuk penulisan yang sama, namun pengucapannya berbeda, seperti pada huruf (ب ba), (ت ta), (ث tsa), pada penulisan mushaf ‘Utsmani pertama, huruf-huruf ini ditulis tanpa menggunakan titik pembeda.

Salah satu hikmahnya adalah seperti telah disebutkan untuk mengakomodir ragam qira’at yang ada, tapi seiring dengan meningkatnya kuantitas interaksi muslimin Arab dengan bangsa non-Arab, kesalahan pembacaan jenis huruf-huruf tersebut (al-‘ujmah) pun merebak, ini kemudian mendorong penggunaan tanda ini, ada beberapa pendapat yang berbeda mengenai siapakah yang pertama kali menggagas penggunaan tanda titik ini untuk mushaf Al-Qur’an, namun pendapat yang paling kuat nampaknya mengarah pada Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar. Ini diawali ketika Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan kepada Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafy, Gubernur Irak waktu itu (75-95 H), untuk memberikan solusi terhadap ‘wabah’ al-‘ujmah di tengah masyarakat.

Al-Hajjaj pun memilih Nahsr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar untuk misi ini, sebab keduanya adalah yang paling ahli dalam bahasa dan qira’at, setelah melewati berbagai pertimbangan, keduanya lalu memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi nuqath al-i’jam (pemberian titik untuk membedakan pelafalan huruf yang memiliki bentuk yang sama), muncullah metode al-ihmal dan ali’jam.

Penerapannya adalah sebagai berikut :

  • Untuk membedakan antara دdal dan ذdzal, رra’ dan زzay, صshad dan ضdhad, طtha’ dan ظzha’, serta ‘عain dan غghain, maka huruf-huruf pertama dari setiap pasangan itu diabaikan tanpa titik (al-ihmal), sedangkan huruf-huruf yang kedua diberikan satu titik di atasnya (al-i’jam).
  • Untuk pasangan سsin dan شsyin, huruf pertama diabaikan tanpa titik satupun, sedangkan huruf kedua (syin) diberikan tiga titik, ini disebabkan karena huruf ini memiliki tiga ‘gigi’, dan pemberian satu titik saja diatasnya akan menyebabkan ia sama dengan huruf nun, pertimbangan yang sama juga menyebabkan pemberian titik berbeda pada huruf-huruf بba’, تta, ثtsa, نnun, dan يya’.
  • Untuk rangkaian huruf جjim, حha’, dan خkha’, huruf pertama dan ketiga diberi titik, sedangkan yang kedua diabaikan.
  • Sedangkan pasangan فfa’ dan قqaf, seharusnya jika mengikuti aturan sebelumnya, maka yang pertama diabaikan dan yang kedua diberikan satu titik diatasnya, hanya saja kaum muslimin di wilayah Timur Islam lebih cenderung memberi satu titik atas untuk fa’ dan dua titik atas untuk qaf, berbeda dengan kaum muslimin yang berada di wilayah Barat Islam (Maghrib), mereka memberikan satu titik bawah untuk fa’, dan satu titik atas untuk qaf.

Al-ihmal adalah membiarkan huruf tanpa titik, dan al-i’jam adalah memberikan titik pada huruf. Nuqath al-I’jam atau tanda titik ini pada mulanya berbentuk lingkaran, lalu
berkembang menjadi bentuk kubus, lalu lingkaran yang berlobang bagian tengahnya. Tanda titik ini ditulis dengan warna yang sama dengan huruf, agar tidak sama dan dapat dibedakan dengan tanda harakat (nuqath al-i’rab) yang umumnya berwarna merah dan tradisi ini terus berlangsung hingga akhir kekuasaan Khilafah Umawiyah dan berdirinya Khilafah ‘Abbasiyah pada tahun 132 H.

Pada masa ini, banyak terjadi kreasi dalam penggunaan warna untuk tanda-tanda baca dalam mushaf, di Madinah, mereka menggunakan tinta hitam untuk huruf dan nuqath al-i’jam, dan tinta merah untuk harakat, di Andalusia, mereka menggunakan empat warna: hitam untuk huruf, merah untuk harakat, kuning untuk hamzah, dan hijau untuk hamzah al-washl, bahkan ada sebagian mushaf pribadi yang menggunakan warna berbeda untuk membedakan jenis i’rab sebuah kata, tapi semuanya hampir sepakat untuk menggunakan tinta hitam untuk huruf dan nuqath al-i’jam, meski berbeda untuk yang lainnya.

Akhirnya, naskah-naskah mushaf pun berwarna-warni, tapi di sini muncul lagi sebuah masalah. Seperti telah dijelaskan, baik nuqath al-i’rab maupun nuqath al-i’jam, keduanya ditulis dalam bentuk yang sama, yaitu melingkar, hal ini rupanya menjadi sumber kebingungan baru dalam membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya.

Di sinilah sejarah mencatat peran Khalil bin Ahmad Al-Farahidy (w.170 H), ia kemudian menetapkan bentuk fathah dengan huruf alif kecil yang terlentang diletakkan di atas huruf, kasrah dengan bentuk huruf ya’ kecil dibawahnya dan dhammah dengan bentuk huruf waw kecil diatasnya. Sedangkan tanwin dibentuk dengan mendoublekan penulisan masing-masing tanda tersebut, disamping beberapa tanda lain, terkait dengan hal ini, ada suatu fakta sejarah yang unik, yaitu bahwa tanda titik (nuqath al-i’jam) ternyata telah dikenal dalam tradisi Bahasa Arab kuno pra Islam atau setidaknya pada masa awal Islam sebelum mushaf ‘Utsmani ditulis, ada beberapa penemuan kuno yang menunjukkan hal tersebut, antara lain yaitu :

  • Batu nisan Raqusy (di Mada’in Shaleh), sebuah inskripsi Arab sebelum Islam yang tertua, diduga ditulis pada tahun 267 M. Batu nisan ini mencatat adanya tanda titik di atas huruf dal, ra’ dan syin.
  • Dokumentasi dalam dua bahasa di atas kertas papyrus, tahun 22 H (sekarang disimpan di Perpustakaan Nasional Austria), dokumentasi ini menunjukkan penggunaan titik untuk huruf nun, kha, dzal, syin, dan zay, ditambah dengan beberapa temuan lainnya, setidaknya hingga tahun 58 H.

Terdapat 10 karakter huruf yang diberi tanda titik, yaitu : nun, kha, dzal, syin, zay, ya,
ba, tsa, fa, dan ta, sehingga tepatlah jika disimpulkan, bahwa apa yang dilakukan oleh Nashr bin ‘Ashim dan Yahya bin Ya’mar adalah sebuah upaya menghidupkan kembali tradisi itu dengan beberapa inovasi baru yang disesuaikan dengan kebutuhan.

Antara Rasm ‘Utsmani dan Rasm Imla’i
Sebagaimana yang diketahui, bahwa cara penulisan (rasm) yang terdapat dalam mushaf ‘Utsmany berbeda dan tidak sama dengan cara penulisan yang umum digunakan dalam aturan-aturan imla’ Bahasa Arab, karena itu para ulama membagi metode penulisan huruf Arab menjadi 2 jenis, yaitu : rasm ‘Utsmany dan rasm imla’i.

Jenis yang pertama khusus digunakan untuk penulisan ayat Al-Qur’an sesuai dengan mushaf ‘Utsmany, sedangkan yang kedua adalah aturan baku yang umum digunakan untuk penulisan kata-kata Arab sebagaimana ia diucapkan.

Untuk keperluan ini, para ulama Alquran kemudian menyusun sebuah ilmu yang dikenal dengan nama ilmu Rasm Al-Qur’an, diantara karya yang mengulas ilmu ini adalah Al-Muqni’ karya Abu ‘Amr Al-Dany dan Al-Tanzil karya Abu Dawud Sulaiman bin Najah.

Penulisan Al-Qur’an berdasarkan rasm ‘Utsmany memiliki banyak hikmah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama qira’at, tapi salah satu yang terpenting adalah dengan metode ini ragam qira’at yang berbeda dapat terwakili dalam mushaf ‘Utsmany, tidak dapat dipungkiri, bahwa ada upaya untuk mengganti sistem rasm ‘Utsmany dengan sistem imla’ yang umum berlaku, dengan alasan bahwa itu akan lebih memudahkan pembacaan, meskipun ini kemudian terbantahkan dengan dasar, bahwa metode inilah yang digunakan oleh para sahabat menuliskan Al-Qur’an di hadapan Rasulullah Saw, karena itu ia kemudian bersifat tauqifiyah.

Adapun jika alasannya adalah untuk memudahkan pembacaan, maka itu terbantahkan dengan kenyataan bahwa sejauh ini sejak 1400 tahun lamanya, hampir tidak ada masalah berarti di tengah kaum muslimin dalam membaca Al-Qur’an.