oleh

Perbedaan Shalat Isyraq Dan Shalat Dhuha

Apa itu shalat isyraq?

Shalat Isyraq adalah Shalat Dhuha yang di kerjakan pada awal waktu, keduanya bukan merupakan dua shalat yang berbeda, dari Anas bin Malik Ra, ia berkata, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa mengerjakan shalat shubuh secara berjama’ah, lalu ia duduk di masjid sambil berdzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan Shalat Isyraq 2 raka’at, maka ia seakan-akan berhaji dan berumrah yang sempurna, sempurna dan sempurna.” (H.R. At-Tirmidzi).

Waktu Shalat Isyraq
Waktu Shalat Isyraq di mulai kira-kira sesudah matahari naik setinggi tombak (±1 meter) atau sekitar 15 (lima belas) menit setelah terbit.

SHALAT DHUHA

Shalat Dhuha di sebut juga dengan Shalat Awwabin, karena Shalat Dhuha adalah shalat yang biasa di lakukan oleh orang-orang yang kembali kepada Allah. (H.R. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim).

Dari Abu Dzar dari Nabi Saw, beliau bersabda : “Di pagi hari setiap persendian dari salah seorang di antara kalian harus ada shadaqahnya, setiap bacaan tasbih adalah shadaqah, setiap bacaan tahmid adalah shadaqah, setiap bacaan tahlil adalah shadaqah, setiap bacaan takbir adalah shadaqah, amar ma’ruf adalah shadaqah, nahi munkar adalah shadaqah dan itu semua dapat di cukupi dengan 2 raka’at dari shalat Dhuha yang ia laksanakan.” (H.R. Imam Muslim dan Abu Dawud).

Hukum Shalat Dhuha

Hukumnya Shalat Dhuha adalah Sunnah Mustahabah yang mutlak dan di anjurkan untuk di kerjakan secara rutin. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim), ini adalah madzhab jumhur.

Waktu Shalat Dhuha
Waktu shalat Dhuha di mulai sesudah matahari naik setinggi tombak, hingga menjelang tergelincirnya matahari ke arah barat, waktu shalat Dhuha yang paling utama adalah ketika panas mulai menyengat, pada saat anak-anak unta merasa kepanasan. (H.R. Imam Muslim).

Baca juga...  Shalat Sunnah Rawatib

Jumlah Raka’at Shalat Dhuha
Minimal Shalat Dhuha adalah di lakukan dengan 2 raka’at. (H.R. Imam Muslim) dan maksimalnya adalah 8 raka’at. (H.R. Ibnu Hibban), ini adalah pendapat Malikiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah.

Adapun hadits yang menerangkan tentang keutamaan Shalat Dhuha 12 raka’at adalah hadits yang lemah, yang tidak dapat di jadikan hujjah. (H.R. At-Tirmidzi Juz 2 : 473. Hadits ini di dha’ifkan oleh Syaikh Al-Albani 5 dalam Dha’if At-Targhib wat Tarhib : 403).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya