Posisi Hadist Dalam Literatur Islam

oleh

Setelah Al-Quran Al-Karim, rujukan kedua untuk mengetahui hukum dan aqidah Islam adalah sunnah Rasulullah Saw dan hadis para maksum, dalam hal ini terdapat banyak bukti dari ayat Al-Qur’an, riwayat para maksum dan pernyataan ulama, yang memberikan dua kesimpulan di bawah ini, yaitu :

a. Kehujjahan (Hujjiyyah) riwayat-riwayat dari Rasulullah Saw dan para maksum.
b. Kebutuhan merujuk pada riwayat-riwayat dari para maksum.

Berikut ini adalah penjelasan seputar dua kesimpulan di atas.

A. Kehujjahan Riwayat-Riwayat Rasulullah Saw dan Para Maksum
Dalam hal hujjiyyah sunnah dan riwayat Nabi Saw, telah termaktub dalam banyak ayat Al-Qur’an, dalam sebagian ayat itu telah ditegaskan bahwa mengikuti Rasulullah Saw merupakan syarat bagi seseorang untuk dapat mencintai Allah dan ketaatan kepada beliau di samping ketaatan kepada Allah telah diwajibkan atas orang-orang mukmin, ketaatan kepada Rasulullah Saw ini menurut Al-Qur’an embel-embel, sehingga menentang beliau dapat di samakan dengan kesesatan dan penyelewengan.

Dari sisi lain, Allah Swt telah menegaskan kepada orang-orang musyrik tentang Rasul-Nya, “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (Q.S. Al-Najm [53] : 2-5).

Ayat-ayat tersebut, selain menegaskan kemaksuman Rasulullah Saw, juga membuktikan autentisitas (maksudnya, kemurnian serta kebenaran segala yang berkaitan dengan Rasululla Saw) dan keabadian Sunnah serta riwayat-riwayat yang benar-benar sampai dari beliau. Bukti keabadian ini dapat dimengerti dari keteladan dan keuswahan beliau yang tidak terbatas pada periode dan zaman tertentu.

Di samping itu, sebagaimana yang telah disinggung, bahwa dalam ayat-ayat Al-Qur’an ketaatan kepada Rasulullah Saw telah di sebutkan dalam bentuk mutlak, tentu ketaatan yang semacam ini telah menghapus segala bentuk batasan termasuk batasan ruang dan waktu, selain Rasulullah Saw, yang kehujjahan ucapan dan sunnahnya telah ditegaskan oleh Allah Swt secara langsung, berkenaan dengan Ahlul bait beliau, harus dikatakan bahwa perkataan dan ucapan mereka juga sama dengan perkataan dan ucapan Rasulullah Saw dalam hal kehujjahan dan keabsahannya untuk dijadikan rujukan.

Dalam hal ini, terdapat banyak ayat yang menerangkan kemaksuman dan kemampuan keilmuan Ahlul bait, di antaranya ayat ke-79 dari surah Al-Waqi’ah dan ayat ke-33 dari Surah Al-Ahzab, di samping ayat-ayat Al-Qur’an, ada juga dalil-dalil lain yang menunjukkan kehujjahan sunnah dan riwayat para Imam maksum, yakni hadis Tsaqalain. Hadis ini termasuk dalam riwayat-riwayat yang bersifat mutawatir dan sumber-sumbernya yang pasti yang di dalamnya kelompok Syi’ah dan Ahlusunnah sama sekali tidak meragukan, bahwa hadis ini telah sampai dari Rasulullah Saw.

Dalam hadis ini Rasulullah Saw berkata, “Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang berat dan berharga, yaitu kitabullah dan itrahku, Ahlul baitku. Dua hal yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, niscaya kalian tidak akan pernah tersesat sesudahku. Kedua hal ini satu tidak akan pernah berpisah dari yang lain hingga nanti (di hari Kebangkitan) keduanya akan datang padaku di Telaga Kautsar.”

Mengingat bahwa pada hadis ini, Rasulullah Saw telah rneminta kaum muslim untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Ahlul bait secara bersama-sama, maka dapat disimpulkan bahwa sebagaimana Al-Qur’an memiliki kehujjahan dan iktibar dalam memberikan petunjuk kepada umat Islam, maka ucapan dan perilaku Ahlul bait Rasulullah Saw, sebagai penafsir dan penjelas kalam IIahi juga memiliki hujjiyyah dan iktibar.
Berdasarkan ini, Allamah Thabathaba’i menegaskan, “Al-Qur’an telah memberikan kehujjahan pada keterangan dan penafsiran Rasulullah Saw, kemudian Rasulullah Saw memberikan kehujjahan pada keterangan dan penafsiran Ahlul bait (salam atas mereka).”

B. Kebutuhun Merujuk pada Riwayat-Riwayat dari Para Maksum
Dalam ayat 18 dan 19 surah Al-Qiyamah Allah Swt berfirman, “Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”

Dari ayat ini dapat dipahami bahwa di samping turunnya lafazd-lafazd Al-Qur’an, ada juga hakikat makna-makna Al-Qur’an yang turun kepada Rasulullah Saw, sebagaimana yang pernah diungkap dalam sebuah hadis beliau, yaitu : “Ketahuilah, sesungguhnya telah diberikan padaku Al-Qur’an dan (hakikat-hakikat) yang seperti Al-Qur’an bersama Al-Qur’an.”

Dari sebagian ayat lain juga dapat dipahami, bahwa di samping tugas menyampaikan wahyu, Rasulullah Saw juga mempunyai tugas untuk mengajarkan maksud dan pengertian ayat-ayat Al-Qur’an, dalam Surah An-Nahl [16] ayat 44 di sebutkan : “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” 

Seperti kandungan makna ayat ini, di dalam Surah Al-Jumu’ah [62] ayat 2 di tegaskan, bahwa Rasulullah Saw pertama di tugaskan untuk membacakan ayat-ayat Ilahi, lalu ditugaskan untuk mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah. 

Dari sebagian riwayat didapatkan, selain mengajarkan bacaan-bacaan Al-Qur’an, Rasulullah Saw juga memberikan perhatian yang khusus dalam mengajarkan maksud-maksud dan hakikat maknanya, khususnya seputar hukum-hukum amali yang diajarkan dalam paket sepuluh ayat-sepuluh ayat. Selain Rasulullah Saw, para pengajar Al-Qur’an pada masa itu juga mengajarkan maksud dan makna ayat-ayat llahi di samping bacaannya kepada murid-murid mereka karena iqra Al-Qur’an pada zaman Rasulullah Saw, berarti mengajarkan lafazd dan makna Al-Qur’an secara bersamaan dan sebagai hasilnya seorang yang berpredikat sebagai qari’ berarti dia adalah seorang fakih atau mufasir Al-Qur’an.

Sebagai misal, berkenaan dengan salah seorang sahabat Nabi Saw yang bernama Mush’aib bin Umair disebutkan : “Ketika dua belas orang dari penduduk Madinah menyatakan baiat kepada Nabi Saw di Aqabah Al-Ula, beliau kemudian mengutus Mush’aib bin Umair untuk berangkat ke Madinah bersama mereka. Beliau menugaskan Mush’aib untuk mengajarkan Al-Qur’an dan mengenalkan dasar-dasar agama Islam kepada mereka, sehingga sahabat Nabi Saw ini dikenal di Madinah dengan sebutan muqri.

KEDUDUKAN HADIS DALAM RIWAYAT PARA IMAM MAKSUM

Dalam riwayat para Imam Syi’ah, hadis memiliki posisi yang sangat tinggi dan mulia. Dalam riwayat-riwayat tersebut, para Imam juga menegaskan peran hadis dalam menjelaskan dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka berpesan kepada para pengikutnya untuk memahami dengan benar maksud dan makna hadis,menghapal serta menjaganya, juga meneruskannya untuk generasi-generasi yang akan datang.

Dalam hal ini, banyak bukti yang dapat diketengahkan, namun secara garis besar akan disebutkan beberapa riwayat saja.

1. Imam Ja’far Shadiq meriwayatkan dari ayahnya yang berkata padanya, “Wahai putraku, nilailah kedudukan setiap Syi’ah dengan jumlah riwayat yang mereka simpan dan pengetahuan mereka terhadap riwayat-riwayat itu karena pengetahuan tidak lain adalah pengenalan dan pemahaman tentang riwayat-riwayat. Dengan memahami riwayatlah, seorang mukmin dapat mencapai derajat-derajat iman yang paling tinggi.”

2. Mengenai urgensi memahami hadis, Imam Ja’far Shadiq berkata, “Satu hadis yang kamu pahami, lebih baik dari seribu hadis yang kamu riwayatkan (tanpa kamu pahami).

3. Muawiyah bin Ammar berkata, “Kepada Abu Abdillah Al-Shadiq kukatakan, “Ada seorang laki-laki yang berusaha keras dalam menyampaikan ucapan-ucapan kalian (para maksum) dan mengikat hati (orang-orang Syi’ah) dengan iman, di sampingnya ada seorang abid yang tidak berdakwah seperti dia. Manakah di antara mereka berdua yang lebih utama? Beliau berkata, “Orang yang berusaha keras dalam menyebarkan hadis kami dan mengikat hati orang-orang Syi’ah dengan iman, lebih utama bahkan dari seribu hamba.

KEDUDUKAN HADIST DI KALANGAN ULAMA

Selain Rasululllah Saw dan para Imam, hadis dalam pandangan ulama Islam, khususnya para ulama Ahlusunnah, mendapatkan posisi yang sangat tinggi, berikut ini adalah beberapa komentar dari para imam empat mazhab :

1. Malik bin Anas, imam Mazhab Malikiyah, berkata, “Hadis tidak lain adalah (kandungan) agama itu sendiri. Perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama itu, Aku di bawah tiang-tiang masjid ini (Masjid Nabawi), telah bertemu dengan tujuh puluh orang yang semuanya mengatakan “qala rasulullah”, namun aku tidak mengambil hadis dari satu pun mereka.

2. Dinukil dari Syafi’i, imam Mazhab Syafi’iyah, bahwa ia berkata, “Tak satu pun sunnah Rasulullah Saw, yang bertentangan dengan Al-Qur’an.” Menurut imam kelompok Syaffiyah ini, hadis dan para muhadis adalah benteng yang kokoh dalam menghadapi serangan pemikiran kelompok Zanadiqah. Ia berkeyakinan,”Jika tidak ada ahli qalam (orang-orang yang mengabadikan ucapan-ucapan Rasulullah Saw), kaum Zanadiqah sudah berkhutbah di atas mimbar-mimbar.” Juga dinukil bahwa ia pernah berkata, “Ketika aku berjumpa dengan seorang perawi hadis, sepertinya aku telah bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Saw.” Syafi’i juga berkeyakinan bahwa dengan adanya hadis dan riwayat dari Nabi Saw, tidak ada jalan untuk menggunakan rakyu dan kias, oleh sebab itu, di dalam kitab Al-Umm, ia menulis : “Setiap pernyataan yang bertentangan dengan sunnah dan perintah Nabi Saw, maka pernyataan itu akan gugur dan tak dapat digunakan. Di sisi ucapan Rasulullah Saw, rakyu dan kias akan kehilangan maknanya. Allah Swt telah menutup jalan dan alasan bagi sekalian hamba dengan ucapan dan riwayat Rasulullah Saw. Tidak layak bagi seseorang untuk mernpunyai perintah dan larangan selain dari perintah dan larangan Rasulullah Saw dalam pandangan dan keyakinan karni, beliau jauh lebih tinggi untuk kita memilih sebuah pendapat selain perintah beliau.

3. Tentang Ahmad bin Hanbal, Baihaqi memberikan pemyataan : “Setiap kali ditanyakan tentang suatu masalah padanya, ia selalu berkata, “Apakah dengan adanya (kalam) Rasulullah Saw, masih ada tempat bagi pendapat dan pandangan orang lain?!” Oleh sebab ini, ia tidak mau menerima pendapat fuqaha dan berkeyakinan,”Selain orang yang hatinya sakit dan rusak, maka tidak ada orang yang mempelajari kitab-kitab ulama rakyu dan kias.” Putra alim ini yang bernama Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Aku pernah bertanya kepada ayahku, apabila seseorang berada di sebuah kota yang hanya ditinggali oleh dua orang, salah satunya adalah seorang muhadis yang tidak pandai dalam membedakan antara hadis yang saqim dan sahih, yang satunya lagi adalah seorang fakih yang memberikan fatwa berdasarkan pendapatnya sendiri, kepada siapakah ia harus bertanya tentang masalah-masalah agama di antara dua orang itu?” Ayahku menjawab,”(Biarlah) ia bertanya kepada muhadis dan jangan merujuk kepada ahli rakyu,” Perlu dicatat, Ahmad bin Hanbal adalah seorang ulama beraliran Akhbari, namun ia berkeyakinan bahwa sunnah tidak dominan atas Al-Qur’an, tetapi sunnah berkedudukan sebagai penafsir dan penerang Al-Qur’an. Sebagaimana yang telah dimaklumi, di antara para imam empat mazhab, Abu Hanifahlah yang mengikuti rakyu dan kias, ia mengeluarkan fatwa-fatwanya berdasarkan itu.

Walaupun begitu adanya, Jamaluddin Qasimi dalam kitabnya telah menukil tentang perhatian Abu Hanifah dalam mengikuti sunnah. Di antaranya, ia menulis, “Abu Hanifah selalu berkata, “Berhati-hatilah kalian dalam berkomentar tentang agama dengan pendapat diri sendiri. Kalian harus senantiasa mengikuti sunnah. Karena siapa pun yang keluar dari jalan sunnah, maka ia pasti sesat dan menyeleweng.” Di ternpat lain, ia menukil ucapan Abu Hanifah yang berkata, “Jika tidak ada sunnah, tak satu pun dari kita yang dapat memahami Al-Qur’an.”

Beberapa keterangan di atas adalah sekelumit bukti-bukti yang menunjukkan kedudukan hadis dan sunnah Rasulullah Saw dalam literatur dan sumber-sumber keislaman. Perlu ditambahkan, kedudukan sunnah yang seperti inilah yang menyebabkan adanya perhatian khusus sejak zaman Rasulullah Saw dalam masalah menghapal, menjaga dan menukil hadis untuk generasi-generasi mendatang, masalah ini dan kelanjutannya di berbagai periode.