oleh

Potensi Kehidupan Manusia

-Tasawuf-1 views

Potensi Kehidupan Manusia

Untuk memahami lebih jelas siapa manusia itu, maka esensi manusia harus di kaji sebagai objek yang menyeluruh dan mendalam, caranya dengan memahami potensi kehidupan yang mempengaruhi hidupnya, pemahaman mengenai potensi kehidupan inilah yang akan menentukan pemahaman selanjutnya tentang apa dan bagaimana manusia seharusnya melakukan aktivitasnya, di samping itu, pemahaman mengenai pembahasan ini akan sangat mempengaruhi pandangan setiap muslim, khususnya para pengemban dakwah dalam menyelesaikan problem pribadi yang di hadapinya.

Jika manusia adalah makhluk hidup yang di beri anugerah pemikiran, ini merupakan kenyataan, karena memang di dalam diri manusia terdapat khashiyyat yang sama dengan makhluk hidup yang lain, khashiyyat yang di maksud di sini adalah keistimewaan manusia, keistimewaan ini merupakan potensi yang secara spesifik di berikan oleh Allah kepada benda, sehingga benda tersebut dapat memberikan sesuatu atau dapat di pergunakan untuk menghasilkan sesuatu, misalnya, kemampuan berfikir, pertumbuhan dan perkembangan, kelelahan dan mengantuk yang merupakan pengaruh kebutuhan jasmani, berkembang biak, merasakan kasih sayang, perasaan kebapakan dan keibuan yang merupakan pengaruh naluri seksual, mempertahankan diri, menyukai sesuatu, ingin berkuasa, ingin memiliki materi, marah, senang dan bangga yang merupakan pengaruh naluri mempertahankan diri, merasa lemah dan membutuhkan zat yang agung, takut dan perasaan tenang karena melakukan keta’atan yang merupakan pengaruh naluri beragama.

Dorongan-dorongan tersebut harus di penuhi oleh manusia, semuanya tadi kemudian mendorong manusia untuk melakukan perbuatan dalam rangka memenuhi dorongan-dorongan tadi.

Tetapi meskipun dorongan dari dalam dirinya kuat, yang menentukan apakah dorongan tersebut dipenuhi atau tidak tetap tergantung pada mafhûm masing-masing orang terhadap dorongan tadi, di sinilah manusia berbeda dengan hewan, hewan mempunyai naluri dan kebutuhan jasmani, tetapi tidak mempunyai akal, karena itu tidak mempunyai mafhum, karena tidak mempunyai akal dan mafhum dalam memenuhi dorongan naluri dan kebutuhan jasmaninya, hewan menggunakan tamyiz gharizi, di mana tamyiz gharizi tersebut merupakan kemampuan identifikasi yang mampu membedakan antara satu dengan yang lain.

Baca juga...  Makna Tawassul Di Jalur Saksi

Potensi naluriah yang ada pada hewan ini terbentuk karena adanya pengindraan secara berulang kali terhadap objek tertentu, misalnya ketika hewan makan, mengapa makan rumput? Bagaimana caranya ia mengetahui, bahwa benda yang ada di depannya adalah rumput? 

Hewan, misalnya, tidak pernah mendapatkan pendidikan seks, sebab pendidikan hanya dapat di berikan kepada manusia, tetapi hewan dapat melakukan hubungan seksual dengan hewan betina yang sejenis, misalnya anjing dengan anjing.

Hewan juga hanya akan memasukkan penisnya dalam vagina hewan betina, bukan ke tempat lain, ini semuanya merupakan tamyiz gharizi, karena cara tersebut tidak pernah berubah, berbeda dengan manusia, manusia dapat mengubah cara dalam melakukan hubungan seksual, kadangkala dengan cara sodomi, oral sex dan sebagainya, justru semuanya dapat di lakukan oleh manusia karena manusia di beri akal.

Jika demikian, apakah potensi manusia dan hewan itu sama? Jawabannya tentu harus di teliti terlebih dahulu, jika yang di permasalahkan adalah potensi kehidupan, maka potensi kehidupan manusia itu sesungguhnya sama dengan hewan, yang di maksud dengan “Potensi kehidupan” di sini adalah ciri-ciri khusus yang di berikan oleh Sang Pencipta yang menyebabkan setiap makhluk tetap mampu bertahan hidup, jika di teliti secara mendalam, potensi kehidupan ini hanya ada dua, yaitu : Kebutuhan jasmani (al-hajat al-udhuwiyyah) dan Naluri (al-gharizah).

Adapun akal tidak termasuk dalam katagori potensi kehidupan manusia, karena manusia masih bisa hidup meskipun akalnya hilang, seperti orang gila atau anak kecil yang akalnya belum sempurna, tapi akal tetap merupakan potensi manusia yang justru merupakan potensi paling penting, karena akallah yang bisa membedakan kedudukan manusia di banding makhluk yang lainnya.

Tubuh manusia yang dapat di indera sebenarnya terdiri dari berbagai sel, dengan bentuk, warna dan tugas yang berbeda, jumlahnya lebih dari 200 milyar sel, setiap sel terdiri dari mimbran (dinding sel) dan nucleus (inti sel), yang di kelilingi sitoplasma, plasma ini mengelilingi inti sel yang terdiri dari beberapa kromosom, jumlahnya 46 kromosom, tidak kurang, tidak lebih, semuanya terdapat dalam sel sperma laki-laki dan sel telur perempuan.

Baca juga...  Ajaran Thariqat Terhadap Kepedulian Sosial

Mengenai struktur tubuh manusia tidak ada bedanya antara orang satu dengan yang lain, jika di lihat dari struktur organ dan fungsinya, apapun warna, bentuk dan penampilannya, masing-masing mempunyai mata, hati, empedu serta anggota tubuh yang lain, setiap anggota tubuhnya terdiri dari sel-sel yang telah di jelaskan sebelumnya, sehingga setiap manusia perlu makan, bernafas, bergerak, tidur dan istirahat.

Kenyataan bahwa setiap tubuh manusia memerlukan benda tertentu adalah khashiyyat yang telah di berikan oleh Allah kepada manusia, inilah yang di sebut kebutuhan jasmani (al-hajah al-udhuwiyyah), kebutuhan jasmani ini memerlukan pemenuhan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, manusia memerlukan kondisi, benda dan aktivitas tertentu. Kondisi yang di perlukan oleh tubuh manusia, antara lain seperti tidur, istirahat dan suhu udara tertentu, sedangkan benda yang di perlukan, antara lain, seperti makanan, minuman dan udara (oksigen), sedangkan aktivitas yang di lakukan antara lain, seperti makan, bernafas, buang hajat dan sebagainya.

Inilah kebutuhan jasmani manusia, kebutuhan jasmani ini merupakan kebutuhan yang lahir karena pengaruh kerja struktur organ tubuh manusia, makanan adalah benda yang di perlukan oleh tubuh untuk menghasilkan energi, karena zat tertentu yang terdapat dalam makanan tersebut memang sesuai untuk kebutuhan tubuh, jika zat yang di butuhkan oleh tubuh tersebut tidak terpenuhi, maka tubuh manusia akan mengalami gangguan atau kerusakan, dari sinilah, biasanya penyakit datang, inilah gambaran tentang kebutuhan jasmani.

Di samping itu, ada fenomena lain yang timbul dari dalam diri manusia, yang juga menuntut di penuhi, bedanya kenyataan ini lahir bukan dari pengaruh kerja organ tubuh manusia, melainkan dari luar diri manusia, ketakutan, ambisi kekuasaan, cinta tanah air, cinta kepada suku atau ingin menguasai suku lain adalah fenomena yang muncul dari diri manusia, ketertarikan pada lawan jenis, rasa keibuan, mencintai anak, mangasihi orang lain dan perasaan iba kepada orang yang membutuhkan bantuan juga merupakan fenomena yang muncul dari diri manusia, rasa kagum pada orang lain, perasaan kurang, lemah, membutuhkan kepada orang lain, menghormati orang lain dan sebagainya juga merupakan fenomena yang muncul dari diri manusia.

Baca juga...  Belajar Berdzikir Dari Sekarang

Semuanya ini mendorong manusia untuk melakukan aktivitas tertentu agar dapat di penuhi, namun dorongan tersebut berbeda dengan dorongan yang lahir dari kebutuhan jasmani, dorongan dari kebutuhan jasmani timbul akibat pengaruh kerja organ tubuh manusia, sedangkan fenomena yang kedua timbul akibat pengaruh eksternal, sebagai contoh, seseorang makan karena lapar, maka makan di lakukan karena memenuhi kebutuhan jasmani, namun jika orang tersebut makan sementara perutnya kenyang, berarti aktivitas makan dilakukannya bukan karena memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi karena naluri, bukan karena dorongan lapar, melainkan karena dorongan ingin tahu, misalnya ingin mengetahui rasanya atau karena dorongan yang lain, jenis makan yang kedua ini karena memenuhi naluri, naluri berbeda dengan kebutuhan jasmani.

Dalam konteks inilah, Allah berfirman, yaitu :

]قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى[ 
 “Tuhan kami (yaitu) Tuhan Yang telah menganugerahkan kepada tiap­-tiap sesuatu dengan bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Q.S. Thaha : 50).

Artinya, bahwa Allah telah menciptakan khashiyyat, kemudian Allah memberikan petunjuk kepada manusia atau hewan agar menggunakan khashiyyat-nya untuk melakukan aktivitas dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmani dan naluri, sebagian ulama menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan, bahwa Allah telah menciptakan hewan betina untuk hewan jantan dari jenisnya supaya dapat melakukan perkawinan, termasuk bagaimana cara melakukannya.

Dalam ayat lain Allah secara umum menjelaskan hal yang sama, mengenai khashiyyat yang di berikan oleh Allah, baik berupa kebutuhan jasmani maupun naluri.

]سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ اْلأَعْلَىالَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى[  
“Dzat yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya) dan yang menentukan kadar keistimewaan masing-masing dan memberikan petunjuk.” (Q.S. Al-A’la : 2-3).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya