oleh

Proses Tasyri’ Pada Masa Rasulullah Saw

Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab, khususnya Makkah yang merupakan tempat diturunkannya wahyu pertama kali, sudah mempunyai tradisi dan realitas sosial tersendiri, hal itu meliputi berbagai bidang kehidupan, seperti sistem politik, keagamaan, etika, sistem keluarga, serta bentuk-bentuk interaksi sosial yang lain.
Dalam sebuah buku yang berjudul Al-Jusur Al-Tarikhiyyah li Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah, menjelaskan mengenai ritus-ritus bangsa Arab sebelum datangnya Islam, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Ritus-ritus peribadatan, seperti pengagungan Ka’bah, Haji dan Umrah dan lain-lain.
  2. Ritus-ritus warisan penganut tradisi ħanîfiyyah.
  3. Ritus-ritus sosial, seperti jampi-jampi, poligami, perbudakan dan lain-lain.
  4. Ritus-ritus hukuman, seperti Al-‘Aqilah dan Al-Qasamah.
  5. Ritus-ritus peperangan, seperti seperlima bagian, As-salb dan lain-lain.
  6. Ritus-ritus politik, seperti khilafah dan syura.

Ritus-ritus tersebut ternyata tidak diingkari oleh Islam, bahkan dilestarikan, sebagian dari ritus-ritus tersebut masih berlaku hingga sekarang, seperti haji, umrah dan shalat jum’at, sedangkan sebagian yang lain sudah tidak berlaku lagi karena perubahan pola hidup manusia, seperti perbudakan, pembagian rampasan perang dan lain sebagainya.

Di sisi lain, banyak juga ritus-ritus bangsa Arab yang ditinggalkan oleh Islam, seperti nikah syigâr, menikah lebih dari empat, tidak adanya pembatasan thalak, riba, jual beli mulâmasah (pegang berarti beli) dan lain sebagainya.

Indikasi yang diperoleh dari fenomena di atas adalah bahwa secara teoretis bisa dikatakan Islam datang dengan membawa ajaran-ajaran serta nilai-nilai yang mempunyai dua sisi, di satu sisi bersifat kaku, rigid, tidak dapat dinegosiasikan (tsawâbit) dan di sisi yang lain bersifat lentur,
fleksibel dan bisa dinegosiasikan (mutaghayyirât). Realitas sosial yang tidak bisa dinegosiasikan dengan ajaran dan nilai-nilai Islam akan dieliminasi oleh Islam.

Sedangkan realitas sosial yang tidak bertentangan dengan Islam dibiarkan dan bahkan diadopsi, secara umum, hubungan antara realitas sosial dan formulasi hukum dalam proses tasyri’ di masa Rasulullah Saw terekam dalam Al-Qur`an dan Sunnah.

Baca juga...  Tentang Nazar

Pembahasan selanjutnya akan diklasifikasi menjadi tiga bagian, pertama mengenai dialektika antara Al-Qur`an dengan realitas sosial, kedua mengenai dialektika antara Sunnah Rasul dengan realitas sosial dan untuk melangkapi pembahasan akan dibahas mengenai ijtihad Rasul.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru