oleh

Puasa Ramadhan

Para salaf dahulu sangat berharap untuk dapat memasuki bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai amalan shalih, sungguh binasa dan celakalah orang-orang yang telah memasuki bulan Ramadhan, tetapi setelah Ramadhan tersebut lewat ia belum
mendapatkan ampunan dari Rabbnya.


Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Binasalah seorang yang namaku disebut disisinya, tetapi ia tidak bershalawat kepadaku. Binasalah seorang yang masuk bulan Ramadhan kemudian ia lepas (dari Ramadhan) namun ia belum diampuni (dosanya). Binasalah seorang yang menemui orang tuanya pada masa tua, namun (keberadaan) orang tuanya tidak mampu memasukkannya ke dalam Surga.” (H.R. At-Tirmidzi dan Imam Ahmad).

Hukum Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam, hukum puasa Ramadhan adalah wajib atas setiap muslim laki-laki dan wanita yang sudah baligh, berakal, mampu berpuasa, mukim (tidak safar), dan suci dari haidh dan nifas bagi wanita. Allah mewajibkan puasa atas umat ini sebagaimana Dia mewajibkannya atas umat sebelumnya.

Penetapan Bulan Ramadhan
Penetapan bulan Ramadhan adalah dengan cara sebagai berikut :
1. Melihat hilal bulan Ramadhan.
2. Menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.
Orang-orang yang Diperbolehkan Untuk Berbuka Orang-orang yang diperbolehkan untuk berbuka adalah :
1. Orang sakit
Sakit dibagi dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
a. Sakit ringan
Yaitu sakit yang tidak memberikan pengaruh terhadap puasa, demikian pula berbuka tidak memberikan keringan kepadanya, seperti; flu yang ringan, pusing yang ringan, sakit gigi, dan sebagainya, maka dalam kondisi seperti ini seorang tidak diperbolehkan berbuka karenanya.
b. Sakit ringan yang bertambah parah, yaitu yang awalnya sakit ringan kemudian bertambah parah dan seorang merasa berat untuk berpuasa, akan tetapi puasa tersebut tidak berdampak negatif terhadap kesembuhan, maka dalam kondisi seperti ini seorang dianjurkan untuk berbuka karenanya.
c. Sakit berat, yaitu sakit yang menyebabkan seseorang merasa berat melakukan puasa dan berpuasa dapat berakibat buruk terhadap seseorang bahkan dapat mengantarkan kepada kematiannya, maka dalam kondisi seperti ini seorang diwajibkan berbuka karenanya dan haram baginya untuk berpuasa.
2. Orang safar
Safar dibagi dibagi menjadi tiga macam, yaitu :
a. Safar yang dilakukan membuat seseorang berat untuk melakukan puasa dan menghalanginya untuk melakukan kebaikan, maka ketika itu berbuka lebih baik bagi dirinya.
b. Safar yang dilakukan tidak membuat seseorang merasa berat untuk berpuasa dan tidak menghanginya untuk melakukan kebaikan, maka berpuasa lebih baik baginya daripada berbuka.
c. Safar yang dilakukan membuat seseorang merasa berat untuk berpuasa dan dapat menyebabkan kematian, maka ketika itu ia wajib berbuka dan haram baginya berpuasa.
3. Orang yang sudah tuaOrang tua yang tidak mampu untuk berpuasa, maka tidak ada qadha’ baginya, tetapi hanya diwajibkan membayar fidyah (memberi makan orang miskin).
4. Wanita yang hamil
5. Wanita yang menyusui
Wanita yang sedang hamil dan menyusui, jika mereka tidak mampu untuk berpuasa atau khawatir akan anak-anaknya bila mereka berpuasa, maka boleh bagi mereka untuk berbuka dan wajib atas mereka untuk membayar fidyah, tetapi mereka tidak wajib mengqadha’. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar Ra.

Baca juga...  Tentang Thaharah

Syarat Sah Puasa
Syarat sah puasa adalah :
1. Niat
Wajib menentukan niat puasa (Ramadhan) di malam hari sebelum terbit fajar.
2. Suci dari haidh dan nifas
Seorang wanita yang mengalami haidh dan nifas tidak diperbolehkan untuk melakukan puasa.

Rukun Puasa
Rukun puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar (shadiq) sampai terbenamnya matahari.

Adab-adab Puasa
Adab-adab puasa antara lain :
1. Makan sahur dan mengakhirkannya.
2. Menahan diri dari segala hal yang bertentangan dengan puasa, seperti; perbuatan sia-sia, perkataan keji, berdusta dan yang semisalnya.
3. Bersikap dermawan.
4. Membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
5. Menyegerakan berbuka ketika matahari telah terbenam.
6. Berdoa ketika berbuka
Dengan membaca : “Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, serta telah ditetapkan pahala, Insya Allah.”
7. Berbuka dengan makan kurma segar (ruthab), atau kurma kering (tamr), atau hanya dengan air.
8. Memberi makanan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa.

Hal-hal yang Boleh Dilakukan Ketika Puasa
Hal-hal yang boleh dilakukan ketika puasa, antara lain :
1. Jima’ pada malam hari sebelum terbit fajar.
2. Dalam keadaan junub pada pagi hari.
3. Suami mencium dan mencumbui isteri tanpa jima’.
4. Mandi dan menuangkan air di kepala untuk mendinginkan badan.
5. Makan dan minum karena lupa.
6. Muntah tanpa sengaja.
7. Mencicipi makanan dan mengunyahnya untuk anak
kecil, selama makanan tersebut tidak masuk
tenggorokan.458
8. Berbekam, berdonor darah, mimisan, dan memeriksa darah, selama tidak dikhawatirkan akan melemahkan tubuh.
9. Bersiwak, memakai wangi-wangian, menggunakan minyak rambut, celak mata, obat tetes mata, obat tetas hidung, dan suntikan yang tidak mengenyangkan.

Baca juga...  Pengertian Tentang Ruju'

Hal-hal yang Membatalkan Puasa
Hal-hal yang membatalkan puasa dibagi menjadi dua, yaitu :
A. Hal-hal yang membatalkan puasa dan diwajibkan mengqadha’
1. Makan dan minum dengan sengaja makan dan minum dengan sengaja membatalkan puasa, tapi jika seorang makan dan minum karena yakin masih malam dan ternyata sudah siang, atau ia makan dan minum karena yakin matahari telah terbenam dan ternyata belum, maka puasanya sah dan tidak wajib menqadha’.
2. Muntah dengan sengaja.
3. Haidh dan nifas.
4. Sengaja mengeluarkan mani.
5. Niat kuat untuk berbuka
Jika seorang yang berpuasa lalu berniat membatalkan puasanya dan bertekad untuk berbuka, maka puasanya batal, walaupun ia tidak makan dan tidak minum, inilah adalah pendapat jumhur ulama’.
6. Murtad (keluar dari Islam).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru