oleh

Puasa Sebagai Upaya Pengendalian Hawa dan Nafsu

Puasa Sebagai Upaya Latihan Pengendalian Nafsu Dan Nafsu

Kejatuhan manusia di dunia disebabkan terumbarnya nafsu, khususnya nafsu perut atau makan minum dan nafsu biologis, nafsu perut yang diumbar membawa nafsu keserakahan harta yang telah dibahas sebelumnya, juga membawa penyimpangan kebutuhan tubuh atas makanan yang diperlukan, juga membawa penyimpangan kebutuhan ruh atas tujuan dari makan, sehingga bisa membawa pada penyakit badan, jiwa dan ruh.

Nafsu biologis memberi kegairahan untuk berkeluarga dan memperoleh keturunan, tetapi jika diumbar akan menjatuhkan harkat dan martabat, merusak organ biologis yang berdampak sakit yang bisa melahirkan keturunan yang sakit baik jasmani maupun mental. Oleh sebab itu nafsu perlu dikendalikan sehingga menjadi lambang kasih sayang Allah sebab nafsu memiliki kecenderungan mengajak keburukan, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
QS. Yusuf (12): 53.

Latihan reguler secara serentak yang diajarkan oleh Allah adalah melalui puasa Ramadhan satu bulan penuh, dan puasa-puasa sunnah lainnya untuk menambah efektifitas latihan, tentang meraih efektifitas puasa beserta hikmah-hikmahnya terutama bagi kesehatan jiwa antara lain bisa dibaca dalam Hawari.

Dengan menyitir beberapa hadis, Az-Zahrani menyatakan bahwa puasa adalah satu latihan untuk mengendalikan nafsu syahwat. Di saat berpuasa seseorang berusaha untuk berperilaku baik, mendengarkan kata hati tanpa harus seorangpun mengawasinya, berlatih bersabar dalam memikul beratnya tanggung jawab dalam mencari nafkah dan dalam setiap permasalahan hidup.

Puasa melahirkan rasa kasih kepada fakir miskin dan saling tolong menolong, puasa juga memiliki manfaat kedokteran seperti melepaskan diri dari rasa bersalah dan berdosa serta dari perasaan depresi ataupun penyakit kehiwaan lainnya, guna mencapai hakikat puasa, menurut Al-Ghazali, tidak cukup hanya memenuhi syarat lahiriah sebagaimana dirumuskan dalam fikih, tetapi harus disertai dengan memenuhi syarat batin. Syarat batin tersebut antara lain meliputi :

  1. Tidak melihat apa yang dibenci Allah.
  2. Menjaga ucapan.
  3. Menjaga pendengaran.
  4. Menjaga sikap perilaku.
  5. Menghindari makan berlebihan.
  6. Menuju kepada Allah dengan rasa takut dan pengharapan.

Kapan pun manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan terjatuh dalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan. Kapan pun dirinya mampu mengatasinya, maka akan terangkat ke tingkatan para malaikat. Dengan segala ibadah akan menjadikan diri semakin dekat dengan Allah dalam arti kedekatan sifat.

Baca juga...  Macam-Macam Sabar

Tata cara puasa yang mendatangkan hikmah bagi pengamalnya, antara lain digambarkan hadis dari Abu Hurairah Ra yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Allah telah berfirman,”Setiap amal anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untukKu dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu jika seseorang dari kalian sedang berpuasa janganlah ia berkata keji atau berteriak-teriak yang tak ada manfaatnya. Apabila ada seseorang yang mencaci maki atau mengajak bertengkar, hendaklah ia berkata,”Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa”. Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, aroma mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari pada aroma misik (kesturi). Bagi orang yang berpuasa disediakan dua kegembiraan, yaitu ketika berbuka ia merasa genbira dengan bukanya, dan ketika bertemu Tuhannya ia gembira dengan puasanya.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya