oleh

Rahasia Alam Mimpi

Allah berfirman : “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.” (Q.S. Ar-Rahman (55) : 19-20).

Dengan ayat tersebut di atas Allah membuat percontohan untuk alam batin dengan menggunakan alam lahir, yaitu bahwa meski alam jismul mahsusah dan alam jismul lathif adalah ruang waktu yang berbeda, tapi sejatinya keduanya berada di dalam zaman yang sama.

Namun demikian, secara sangat menakjubkan ternyata setiap manusia dimudahkan untuk keluar masuk antara dua alam tersebut, meski dengan tanpa mengerti dan menyadari, yaitu dengan tidur sehingga orang dapat masuk ke alam mimpi.

Yang namanya tidur ternyata adalah “pintu rahasia” yang menghubungkan dua alam tersebut, namun oleh karena semua orang dapat memasukinya dengan mudah, maka yang semestinya sangat luar biasa itu oleh manusia dianggap hal biasa.

Seandainya di dalam tidur itu, sebagian manusia dapat menembus pembatas alam itu dan sebagian yang lain tidak, barangkali orang akan mengetahui betapa sejatinya alam mimpi itu adalah suatu misteri yang menakjubkan.

Terlebih bila orang tahu bahwa 40% alam kenabian, ternyata terjadi melalui alam mimpi. Allah membongkar rahasia alam mimpi tersebut dengan firman-Nya: “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa yang Dia telah tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Az-Zumar (39) : 42).

Di dalam ayat di atas, tidur juga dinamakan “mati”, “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” Q.S : 39/42.

Hal itu menunjukkan bahwa tidur dan mati sejatinya sama, hanya kalau orang tidur masih dapat kembali ke dunia, tapi orang mati tidak, oleh karena apa yang dijumpai oleh orang di dalam tidurnya itu masih tertutup dengan tabir rahasia maka pengetahuan itu membutuhkan diterjemahkan lagi dengan ilmu takwil mimpi.

Jadi, alam mimpi adalah alam jismul lathif yang dapat dimasuki manusia pada saat hidupnya di alam jismul mahsusah, sedangkan sarana untuk memasuki alam itu menggunakan kendaraan yang bernama tidur.

Oleh karena itu, ketika orang sedang tidur, bisa jadi seketika itu ia telah berada di tempat yang jaraknya sangat jauh dan bahkan mampu menembus dimensi zaman, yaitu ketika orang ditarik alam mimpinya menuju masa depan, maka ia dapat membaca gambaran yang akan terjadi dalam hidupnya, itulah yang dinamakan isyarat mimpi dan ketika mundur ke belakang, maka manusia memasuki pengalaman-pengalaman yang sudah pernah dialami pada masa yang lalu.

Terkadang seseorang berada di suatu tempat yang baru misalnya, tapi ia merasa sudah pernah berada di tempat tersebut, setelah diingat-ingat, ia sampai di tempat itu dulu ternyata di dalam mimpi.

Baca juga...  Menggapai Khusnul Khatimah

Seperti itulah yang dikatakan mimpi yang benar, seandainya mimpi seperti itu dicermati dengan penakwilan yang benar, maka berarti orang tersebut telah mampu menindak lanjuti hidayah Allah dengan benar pula, karena mimpi yang benar itu pasti datangnya dari urusan Allah yang sedikitpun tidak dapat diganggu oleh tipu daya syetan jin.

Oleh karena alam mimpi adalah alam batin yang hanya dapat ditembus melalui pintu bawah sadar (supra rasionalitas) yakni tidur, maka cara
mengungkapkan isinya, juga harus melalui perangkat yang supra rasional pula yaitu iman.

Maksudnya dengan memadukan antara ilmu dan pengalaman serta kekuatan iman, maka seseorang akan mampu mentakwilkan isi mimpi tersebut secara benar, meskipun hasil pentakwilan itu juga dalam bentuk ilmu yang supra rasional yaitu ilmu rasa (dzauq).

Oleh karenanya, bagi seseorang yang belum menguasai ilmu rasa tersebut niscaya dia tinggal mau percaya atau tidak, Allah menyatakan tentang ilmu takwil mimpi ini dengan firman-Nya: “Dan demikian pulalah Kami memberikan kedudukan yang baik kepada Yusuf di muka bumi (Mesir), dan agar Kami ajarkan kepadanya ta’bir mimpi.” (Q.S. Yusuf (12) : 21).

Di bawah ini adalah sebagian dari jalan cerita tentang ilmu takwil mimpi tersebut yang telah diabadikan Allah di dalam Al-Qur‘an Surat Yusuf, yang artinya: “Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering.” Hai orang-orang yang terkemuka: “Terangkanlah kepadaku tentang ta`bir mimpiku itu jika kamu dapat mena`birkan mimpi.” Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta`birkan mimpi itu.” Dan berkatalah orang yang selamat diantara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya: “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menta`birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).” (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orangorang itu, agar mereka mengetahuinya.” Yusuf berkata: “Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa, maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibutirnya kecuali sedikit untuk kamu makan, kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan, kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.” (Q.S. Yusuf (12) : 43-49).

Mimpi tersebut, ketika telah ditakwilkan oleh ahlinya dengan benar dan diimani sebagai isyarat yang didatangkan dari urusan ketuhanan terhadap apa yang akan terjadi di masa mendatang, setelah hasil pentakwilan itu ditindaklanjuti dengan amal konkrit, yaitu mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi di masa mendatang, maka mimpi itu ternyata adalah peringatan dan bahkan rambu-rambu jalan yang ditebarkan Allah untuk hamba-Nya yang beriman.

Baca juga...  Ubudiyah Dan Cinta

Firman Allah : “Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan memegang jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa yang Dia telah tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa lain sampai waktu yang ditentukan.” (Q.S. (39) : 42).

Maksudnya, ketika manusia sedang tidur dan bermimpi, sesungguhnya saat itu Allah memasukkan kehidupan (nismah) orang tersebut ke dalam dimensi alam jismul lathif. Kemudian, di alam jismul lathif itu, nismah orang yang sedang tidur tersebut, dengan izin Allah bisa jadi bertemu dengan temannya yang sudah mati dan bisa juga memasuki alam lauh mahfudz dan membaca isi situs tentang dirinya yang terdapat di dalamnya.

Apabila yang dibaca itu adalah keadaan yang akan terjadi di masa mendatang, maka itulah yang dimaksudkan dengan isyarat mimpi, selanjutnya, ketika nismah itu dikembalikan lagi ke alam jismul mahsusah untuk meneruskan usia hidup yang masih tersisa, pengalaman yang dijumpai di alam jismul lathif tersebut direkam oleh akal, sehingga bisa diingat kembali setelah terbangun dari tidurnya, itulah yang disebut dengan kebenaran mimpi.

Oleh karena itu dikatakan: “Bahwa mimpi yang benar adalah seperempat puluh daripada alam kenabian.” Lebih jelas tentang rahasia alam mimpi ini apa yang telah disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Thalib Ra di bawah ini, beliau berkata:

“صَؿَومرَأَتِهُمغَػُّْماظـٖوئٔمِموَػٔيَمصٔيماظلٖؿَوءٔمضَؾِلَمإِرِدَوظٔفَومإِظَىمجَلَّٔػَومصَفِيَماظّٗؤِؼَوم
اظصَٖودٔضَئ, موَعَو مرَأَتِهُ مبَعَِّ مإِرِدَوظٔفَو موَضَؾِلَ مادِؿٔؼَّْارِػَو مصٔي مجَلَّٔػَو متؾؼقفوم
اظشٖقَورٔقِنُ,موتخقلمإِظَقِفَوماَّْبَورٔقِلُمصَفِيَماظّٗؤِؼَوماظْؽَوذٔبَئ.”م

“Apa yang dapat dilihat oleh jiwa manusia saat tidurnya ketika jiwa itu masih berada di langit sebelum diperintahkannya masuk ke jasadnya, maka yang demikian itulah yang disebut mimpi benar, dan apa yang dapat dilihat oleh jiwa itu pada saat perjalanannya kembali sebelum dimasukkan kembali ke jasadnya, maka setan menjumpainya, dan dimasukkan berita-berita bathil, maka yang demikian itulah yang disebut mimpi bohong.”

Dan juga dari Nabi Saw bersabda:

وَسَنِ ماظـٖؾٔيٚ مصَؾّى مآُ مسَؾَقِهٔ موَدَؾّمَ مضَولَ: م(طَؿَو متَـَوعُوِنَ مصَؽََّاظٔكَ متَؿُوِتُوِنَ موَطَؿَوم
تُوِضًظُوِنَمصَؽََّاظٔكَمتُؾِعَـُوِنَ)م

“Sebagaimana kamu tidur, demikian itulah kamu mati, sebagaimana kamu terjaga, seperti itulah kamu dibangkitkan.”

وَرُوِيَ معَِّصُوِسّو معٔنِ محَّٔؼٌِٔ مجَوبِّٔ مبِنِ مسَؾِّٔ مآٔ مضٔقِلَ: مؼَو مرَدُوِلَ مآٔ مأَؼَـَومُ مأَػِلُم
اظْفَـٖئ؟مضَولَ:م(لاَماظـٖوِمُمأَخُوِماظْؿَوِتٔموَاظْفَـٖيُملاَمعَوِتَمصٔقِفَو)مخََّجَهُماظّٖارُضَطْـٔي.م

Dari Jabir bin Abdillah Ra (hadits marfu‟) berkata, ditanyakan kepada Rasulullah Saw : “Hai Rasulullah, adakah penghuni syurga tidur?. Rasulullah menjawab: ”Tidak, tidur adalah saudara mati dan syurga, tidak ada kematian didalamnya.” (H.R. Ad-Daruqathni).

وَضَولَمابِنُمسَؾٖوسٍ:م(صٔيمابِنِمآَدَمَمغَػّْْموَرُوِحْمبَقِـَفُؿَومعٔـِلُمذُعَوعُماظشٖؿِِّ,مصَوظـٖػُّْم
اظّؿٔيمبٔفَوماظْعَؼْلُموَاظؿٖؿِقٔقُِّ,موَاظّٗوِحُماظّؿٔيمبٔفَوماظـٖػُّْموَاظؿٖقِِّؼِكُ,مصَنِذَامغَومَماظْعَؾُِّم
ضَؾَضَمآُمغَػْلَهُموَظَمِمؼَؼْؾٔضُمرُوِحَهُ).مم

Ibnu Abbas Ra, ia berkata: “Pada diri anak Adam mempunyai Nafs dan Ruh sebagaimana bayangan matahari, maka yang dinamakan Nafs adalah akal dan kesadaran dan yang dinamakan Ruh adalah jiwa dan kehidupan, apabila seorang hamba tidur, maka Allah mencabut Nafs-nya dan tidak mencabut Ruh-nya.” (Tafsir Al-Qurthubi).

Baca juga...  Keistimewaan Tauhid dan Dosa-Dosa yang Diampuni Karenanya

Ibnu Abbas Ra dalam menafsirkan ayat tersebut di atas, beliau berkata:

ضَولَ:مبَؾَغَـٔيمأَنٖمأَرِوَاحَماَّحِقَكءٔموَاَّعِوَاتٔمتَؾْؿَؼَيمصٔيماظْؿَـَومِمصَقَؿَلَوءَظُوِنَمبَقِـَفُمِم,م
صَقُؿِلٔكُمآُمأَرِوَاحَماظْؿَوِتىموَؼُِّدٔلُمأَرِوَاحَماَّْحِقَكءٔمإِظَىمأَجِلَودٔػَو.م

Artinya: “Telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya ruh orang hidup dapat bertemu dan berkomunikasi dengan ruh orang yang sudah mati di dalam mimpinya, kemudian ruh orang mati ditahan oleh Allah, sedang ruh orang yang sedang tidur dilepaskan kembali kepada jasadnya”. (Ibnu Qayyim Kitab Ar-Ruh : 19).

Ibnu Abi Khaatim Ra di dalam penafsirannya atas firman Allah Ta’ala: “Wallaatii lam tamut fii manaa mihaa” (Dan ruh yang belum mati di dalam tidurnya), Beliau berkata: “Allah memegang ruh orang yang mati di dalam tidurnya, sehingga ruh orang yang hidup bertemu dengan ruh orang yang mati dan mereka saling bercakap-cakap serta saling mengenal, kemudian ruh orang hidup dikembalikan ke jasadnya di dunia untuk meneruskan sisa hidupnya yang sudah ditentukan dan ruh orang yang sudah mati dikembalikan kepada jasadnya yang berada di tanah.” (Imam Ibnu Qayyim Kitab Ar-Ruh : 19).

Ayat-ayat dan hadits Nabi Saw serta pendapat para ulama tersebut di atas, membuka peluang bagi alam pikiran manusia untuk menindak lanjuti dengan sebuah pertanyaan, menguak tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di dalam alam mimpi itu, “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (Q.S. Az-Zumar (39) : 42).

Yakni pada saat manusia dengan alam jismul mahsusah di kala tidurnya, ternyata terkondisi oleh sunnah dapat memasuki alam jismul lathif, sehingga orang yang sedang tidur itu dapat bertemu dan berkomunikasi dengan teman-temannya yang sudah mati.

Pertanyaannya: “Kemanfaatan apa yang dapat diambil dari potensi tersebut bagi kepentingan kehidupan manusia di alam jismul mahsusah?” Jawabannya, apabila alam jismul lathif tersebut dapat dimasuki kehidupan manusia yang sedang tidur, berarti orang yang tidak sedang tidur, asal mampu mengkondisikan dirinya seperti orang tidur, dapat memasukinya pula.

Adapun cara mengkondisikan diri menjadi seperti orang tidur itu tentunya dengan mujahadah di jalan Allah, dalam arti meredam kehidupan basyariyah supaya kehidupan ruhaniyahnya menjadi cemerlang.

Agar kecemerlangan ruhaniyah itu dapat mengarah dan menembus kepada alam jismul lathif, maka mujahadah itu harus dilaksanakan melalui bertawassul kepada orang yang sudah meninggal, yakni kepada guru-guru mursyid yang telah berjasa mengembangkan thariqat, sehingga dirinya kini mampu mengambil kemanfaatan daripadanya.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru