oleh

Rukun Akad Nikah

Tentang Rukun Akad Nikah

Rukun dalam akad nikah adalah :

1. Adanya calon suami dan isteri, adanya calon suami dan isteri merupakan suatu keharusan dalam pernikahan, karena pernikahan tidak mungkin di laksanakan tanpa adanya kedua calon tersebut.

Dan kedua calon harus terbebas dari penghalang-penghalang nikah. Seperti calon isterinya bukanlah mahram bagi suaminya, calon suaminya bukanlah orang kafir dan lain sebagainya.

2. Adanya ijab dan qabul, ijab adalah ucapan dari pihak wali atau wakilnya
untuk menikahkan wanita yang berada dalam perwaliannya kepada seorang laki-laki.

Ucapan ijab harus dengan lafazh “nikah” atau “kawin” atau semua lafazh yang di ambil dari keduanya. Seperti “Saya menikahkan engkau dengan putriku” atau “Saya kawinkan engkau dengan putriku.” Karena lafazh tersebut sangat jelas maksudnya.

Dan ucapan ijab harus menyebut secara spesifik (ta’yin) nama pengantin wanita, tidak di perbolehkan seorang wali hanya mengatakan, “Saya nikahkan engkau dengan putriku,” tanpa menyebut nama putrinya, sedangkan putrinya lebih dari satu.

Di perbolehkan pula ketika ijab sekaligus menyebutkan maharnya, misalnya “Saya nikahkan engkau dengan anak saya Fulanah binti Fulan, dengan mahar berupa uang sebesar satu juta rupiah tunai.”

Adapun qabul adalah ucapan dari pihak suami atau wakilnya bahwa ia menerima akad nikah tersebut, misalnya dengan mengatakan, ”Saya terima nikahnya” atau yang semisalnya.

Para ulama’ telah bersepakat bahwa tidak ada lafazh khusus untuk qabul, bahkan dapat menggunakan lafazh apa saja yang dapat mengungkapkan persetujuan dan kemauan untuk menikah, seperti; “Saya terima” atau “Saya putuskan” atau “Saya laksanakan.”

Ketentuan dalam ijab qabul adalah :

1. Ada ungkapan penyerahan nikah dari wali pengantin wanita.

2. Ada ungkapan penerimaan nikah dari pengantin laki-laki.

Baca juga...  Kebebasan Perempuan Dalam Menikah

3. Menggunakan kata-kata “nikah” atau kata-kata lain yang semakna dengannya.

4. Jelas pengungkapannya dan saling berkaitan.

5. Di ungkapkan dalam satu majelis (bersambung, tidak berselang waktu yang lama).

Syarat-Syarat yang Di tentukan Pada Akad Nikah

Syarat yang di tentukan pada akad nikah terbagi menjadi tiga, antara lain :

a. Syarat yang sesuai dengan tujuan akad dan maksud dari syari’at, misalnya calon isteri mensyaratkan agar di gauli dengan baik atau jika nanti menceraikannya, maka dengan perceraian yang baik, dan lain sebagainya.

Maka syarat seperti ini wajib dipenuhi, menurut kesepakatan para ulama’. (H.R. At-Tirmidzi Juz 3 : 1352 dan Abu Dawud : 3594).

b. Syarat yang bertentangan dengan tujuan akad dan maksud dari syari’at (syarat fasidah)

Syarat yang bertentangan dengan tujuan akad terbagi menjadi dua, yaitu :
Syarat yang menghilangkan tujuan akad nikah, misalnya calon isteri mensyaratkan untuk tidak boleh menjima’inya, menentukan batas waktu tertentu dalam penikahannya dan yang semisalnya.

Maka akad nikahnya batal, karena syarat tersebut bertentangan dengan tujuan akad. Syarat yang tidak menghilangkan tujuan akad nikah, walaupun haram, misalnya calon isteri mensyaratkan agar setelah pernikahan suaminya menceraikan isteri-isterinya yang lain dan lain sebagainya.

Maka syarat seperti ini batal dan tidak perlu di penuhi, namun akad nikahnya tetap sah, ini adalah madzhab Syafi’iyah dan Hanabilah. (H.R. Bukhari Juz 2 : 2047 dan Muslim Juz 2 : 1504).

c. Syarat yang tidak di perintahkan oleh Allah dan tidak pula di larang-Nya, misalnya calon isteri mensyaratkan agar tidak mengajaknya pindah dari kota kelahirannya, agar ia tetap di izinkan untuk melanjutkan studinya dan lain sebagainya.

Maka syarat seperti ini wajib di penuhi selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Muttafaq ‘alaih/H.R. Bukhari Juz 2 : 2572 dan Muslim Juz 2 : 1418).

Baca juga...  Adab Menyembelih Qurban



Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya