Rukun Kedua Shalat

oleh

Shalat merupakan pembeda antara orang mukmin dan orang kafir, di riwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Ra, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya (jarak) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran (adalah) meninggalkan shalat.” (H.R. Imam Muslim).

‘Abdullah bin Mas’ud Ra pernah berkata : “Barangsiapa yang tidak shalat, maka ia tidak mempunyai agama (kafir).”
Berkata pula ‘Abdullah bin Syaqiq, “Para sahabat Rasulullah Saw tidak melihat suatu amalan jika di tinggalkan (menjadikan) kafir (pelakunya) selain shalat.” Shalat juga merupakan amal yang pertama kali akan di hisab pada Hari Kiamat.
Jika seorang shalatnya baik, maka sungguh ia akan sukses dan selamat dan jika shalatnya kurang, maka ia akan celaka dan merugi. Nabi Saw bersabda : “Amalan yang yang pertama kali akan di hisab dari seorang hamba pada hari Kiamat adalah shalat (nya), jika shalatnya baik, maka sungguh ia akan sukses dan selamat dan jika kurang, maka sungguh ia telah celaka dan merugi.” (H.R. At-Tirmidzi).

Syarat Sahnya Shalat
Syarat sahnya shalat, antara lain adalah :
1. Masuknya waktu shalat, hal ini berdasarkan firman Allah : “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang di tentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisa’ : 103).
Prasangka yang kuat cukup untuk di jadikan landasan, bahwa waktu shalat telah masuk, sehingga seorang boleh melaksanakannya, hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama’ fiqih.

2. Suci dari hadats besar dan kecil.
 

Di riwayatkan dari Anas bin Malik Ra, ia berkata aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (berwudhu).” (H.R. Imam Muslim).


3. Sucinya pakaian, badan dan tempat yang di pakai untuk melaksanakan shalat. 

Sucinya pakaian berdasarkan firman Allah, yaitu : “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (Q.S. Al-Mudatsir : 4). Sucinya badan berdasarkan sabda Rasulullah Saw, yaitu : “Wudhu’lah dan cuci kemaluanmu.” Sucinya tempat berdasarkan perintah Rasulullah Saw agar menyiram air pada bekas kencingnya, orang arab badui di dalam masjid, sebagaimana di riwayatkan dari Anas bin Malik Ra, ia berkata : “Seseorang Badui datang kemudian kencing di suatu sudut masjid, maka orang-orang menghardiknya, lalu Nabi Saw melarang mereka. Ketika ia telah selesai kencing, Nabi Saw menyuruh untuk di ambilkan setimba air lalu di siramkan di atas bekas kencing itu.” (H.R. Imam Bukhari). Apabila seorang teringat adanya najis ketika sedang shalat, maka jika ia dapat membuang najis tersebut dengan tidak membuka auratnya, maka hendaknya di buang, shalatnya tetap di lanjutkan dan shalatnya sah, sedangkan jika ia tidak dapat membuang najis yang ada pada dirinya tersebut, karena dapat membuka auratnya, maka dia tetap melanjutkan shalatnya dan shalatnya sah.

Hal ini berdasarkan hadits yang di riwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri Ra, ia berkata : “Suatu hari kami shalat bersama Rasulullah Saw, ketika shalat telah di mulai, tiba-tiba beliau melepas sandalnya, lalu meletakkan di samping kirinya. Melihat Nabi Saw melepas sandalnya, orang-orang ikut melepas sandal mereka, setelah selesai shalat, beliau bertanya, “Mengapa kalian melepas sandal kalian? Mereka menjawab, “Karena kami melihat engkau melepas sandal, maka kami melepas sandal-sandal kami.” Belau Saw menjawab, “Sesungguhnya Jibril As mendatangiku untuk mengabarkan kepadaku, bahwa pada sandalku terdapat kotoran, apabila kalian datang ke masjid, maka memperhatikanlah (sandal kalian), jika melihat pada sandalnya tersebut terdapat kotoran atau najis, maka hendaklah ia menggosokkan (ke tanah), lalu (silakan) shalat dengan menggunakan keduanya.” (H.R. Abu Dawud dan Imam Ahmad).

Apabila teringat adanya najis setelah shalat selesai, maka shalatnya tetap sah dan tidak perlu di ulang. Berkata Syaikh ’Abdul ’Aziz bin ’Abdullah bin Baz, yaitu : “Orang yang shalat sedang di badannya atau di pakaiannya ada najis dan ia tidak mengetahui hal itu kecuali setelah shalat, maka shalatnya shahih (sah), menurut pendapat yang terkuat dari 2 (dua) pendapat para uIama.”

Apabila ada seorang yang shalat dengan menggunakan baju curian, maka shalatnya sah tetapi ia berdosa. Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, yaitu : “Seorang shalat dengan mengenakan baju curian, mayoritas ulama’ mengatakan sah, sebab larangan ini tidak berkaitan dengan shalat, tetapi hanya tentang mencuri baju.”

4. Menutup aurat.
Berdasarkan firman Allah : “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (Q.S. Al-A’raf : 31). Yang di maksud adalah setiap pakaian yang menutupi aurat dan yang di maksud dengan masjid adalah shalat, jadi makna ayat tersebut adalah tutuplah aurat kalian ketika hendak melakukan shalat.
– Aurat lak-laki antara pusar hingga lutut, sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin Syu’aib Ra dari ayahnya dari kakeknya secara marfu’, yaitu :  “Antara pusar dan lutut adalah aurat.” (H.R. Abu Dawud).
– Aurat wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan, berdasarkan sabda Nabi Saw, yaitu : “Wanita adalah aurat.” (H.R. At-Tirmidzi)).

5. Menghadap kiblat

Sebagaimana hadits dari Abu Hurairaha Ra, Nabi Saw bersabda terhadap orang yang buruk shalatnya : “Jika engkau hendak shalat, maka berwudhu’lah dengan sempurna, kemudian menghadap Kiblat.

Di benarkan tidak menghadap Kiblat dalam 2 (dua) keadaan, yaitu :

– Ketika melakukan shalat sunnah bagi seseorang yang berada di dalam kendaraan, dari Ibnu ‘Umar Ra, ia berkata,”Rasulullah Saw melakukan shalat di atas kendaraannya kemana saja ia menghadap, ketika itu beliau melakukan shalat witir, hanya saja beliau tidak melakukan shalat wajib di atas kendaraan.” (H.R. Imam Bukhari).
 

– Dalam keadaan takut,  sebagaimana firman Allah, yaitu : “Jika engkau dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan.” (Q.S. Al-Baqarah : 239). Di riwayatkan dari Ibnu ‘Umar Ra, ia berkata : “Apabila rasa takut lebih rnencekam dari yang demikian itu, maka shalatlah sambil berdiri, sambil berjalan atau sambil berkendaraan, baik menghadap (ke arah) kiblat maupun menghadap (kearah) selainnya.” (H.R. Imam Bukhari).

– Kewajiban shalat tepat waktu lebih penting daripada kewajiban menghadap Kiblat, sehingga misalnya seorang telah melakukan shalat Zhuhur, kemudian dia safar (naik kendaraan) dan ia mengetahui, bahwa ia akan sampai tujuan setelah masuk waktu maghrib, maka saat itu ia wajib melakukan shalat ‘Ashar di atas kendaraannya.

Barangsiapa yang mencari arah Kiblat lalu ia shalat menghadap kearah yang di sangka olehnya sebagai arah Kiblat, namun ternyata salah, maka dia tidak wajib mengulang.
Dari Amir bin Rabi’ah Ra, dia berkata : “Kami pernah bersama Rasulullah Saw dalam suatu perjalanan di suatu malam yang gelap dan kami tidak mengetahui arah Kiblat, lalu tiap-tiap orang dari kami shalat menurut arahnya masing-masing. Ketika tiba waktu pagi, kami ceritakan hal itu kepada Rasulullah Saw, lalu turunlah ayat : “Maka kemanapun engkau menghadap di situlah wajah Allah.” (Q.S. Al-Baqarah : 115).

6. Niat
Syarat sahnya shalat adalah niat, berdasarkan keumuman hadits dari Amirul Mu’minin, ‘Umar bin Al-Khattab Ra, dia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan di balas) berdasarkan apa yang ia niatkan.” (H.R. Imam Bukhari).

– Hendaknya seorang yang ingin shalat meniatkan dan menentukan shalat yang hendak ia kerjakan dengan hatinya, seperti Shalat Zhuhur, Shalat ’Ashar atau shalat sunnahnya.

– Niat imam tidak harus sama dengan niat makmum, orang yang melakukan shalat sunnah boleh bermakmum kepada orang yang melakukan shalat wajib dan sebaliknya.