Kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah seperti pohon yang baik, akarnya menghunjam ke bumi dan cabang-cabangnya menjulang ke langit. Allah berfirman : “Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh (menghunjam) dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (Q.S. Ibrahim : 24). ‘Abdullah bin ‘Abbas menafsirkan Kalimah Thayyibah pada ayat tersebut dengan syahadat Laa llaha Illallah. Berkata Syeikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ketika menafsirkan ayat tersebut; “Demikianlah pohon keimanan, akarnya menghunjam di hati orang yang beriman, (secara) keilmuan dan keyakinan dan cabangnya adalah ucapan yang baik, amalan shalih dan akhlak yang di ridhai.”

SYAHADAT LAA ILAAHA ILLALLAH.
Makna Laa Ilaha Illallah adalah tidak ada Ilah (sesembahan) yang berhak untuk di ibadahi dengan benar kecuali Allah.

Rukun Laa Ilaha Illallah ada dua, yaitu :
1. Mengingkari, kata “Laa Ilaha,” adalah meniadakan semua yang di sembah selain Allah.
2. Menetapkan, kata “Illallah,” adalah menetapkan ibadah hanya kepada Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Di antara dalilnya adalah firman Allah : “Tidak ada paksaan untuk (memasuk) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat, karena itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (sesembahan selain Allah) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengelahui.” (Q.S. Al-Baqarah : 256).

Syarat Laa Ilaha Illallah.
Syarat Laa llaha Illallah ada delapan, antara lain :

1. Ilmu yang menafikan adanya kejahilan
Yaitu mengetahui dengan sebenar-benarnya, bahwa hanya Allah yang berhak di sembah dan penyembahan kepada selain-Nya merupakan kebatilan, serta beramal dengan tuntutan kalimat tersebut. Allah berfirman : “Maka ilmuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan yang berhak untuk di ibadahi dengan benar) kecuali Allah.” (Q.S. Muhammad : 19).
Di riwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang meninggal dunia dan ia meng-ilmui bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk di sembah) kecuali Allah, maka ia akan masuk Syurga.” (H.R. Imam Muslim).

2. Yakin yang menafikan adanya keragu-raguan.
Yaitu wajib bagi seorang yang mengikrarkan kalimat Laa llaha Illallah untuk meyakini dengan sepenuh hati dan meyakini kebenaran apa yang ia ucapkan tersebut, bahwa hanya Allah sajalah yang berhak untuk di sembah, sedangkan sesembahan selain-Nya adalah batil. Di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk di sembah) kecuali Allah dan sesungguhnya aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba menemui Allah dengan membawa kalimat ini tanpa ragu kepada keduanya, kecuali ia pasti akan masuk Syurga.” (H.R. Imam Muslim).
Allah mensifati kaum muslimin dengan iman yang tidak ada keraguan, Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak raga-ragu.” (Q.S. Al-Hujurat : 15).
Artinya mereka tidak ragu sedikitpun, bahkan mereka yakin dengan sesempuma keyakinan, adapun orang yang ragu, maka ia terrnasuk orang yang munafiq. Sebagaimana Allah mensifati orang-orang munafiq dengan firman-Nya : “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.” (Q.S. At-Taubah : 45).

3. Ikhlas yang menafikan adanya kesyirikan.
Yaitu memurnikan amal perbuatan hanya kepada Allah dan bersih dari kotoran-kotoran syirik, di riwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada Hari Kiamat adalah orang yang mengucapkan, Laa Ilaaha illallaah (tidak ada sesernbahan yang berhak untuk di sembah kecuali Allah) secara ikhlas dari hatinya atau dirinya.” (H.R. Imam Bukhari).

4. Jujur yang menafikan adanya pendustaan.
Yaitu jujur dalam mengikrarkan kalimat Laa Ilaha Illallah, di riwayatkan dari Mu’adz bin Jabal Ra, bahwa Nabi Saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak untuk di sembah) kecuali Allah dengan jujur dari hatinya, kecuali Allah mengharamkan api Neraka baginya.” (H.R. Imam Bukhari).

5. Cinta yang menafikan adanya kebencian.
Yaitu mencintai kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah, mencintai isinya, makna yang terkandung di dalamnya dan mencintai ahli tauhid yang mengamalkan tuntutannya, karena mencintai kalimat tauhid ini merupakan bentuk kecintaan kepada Allah. Allah berfirman : “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (Q.S. Al-Baqarah : 165). Seorang yang lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada selain keduanya, maka ia akan merasakan manisnya iman. Di riwayatkan dari Anas bin Malik Ra, dari Nabi Saw beliau bersabda : “(Ada) tiga hal yang barangsiapa memilikinya di dalam dirinya, maka ia akan menemukan manisnya iman, (yaitu) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya, kecuali karena Allah dan ia merasa benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia merasa benci jika ia di lemparkan ke dalam Neraka.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

6. Tunduk yang menafikan adanya pengingkaran.
Yaitu menerima seluruh konsekwensi dari kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah dengan penuh ketundukan dan kepatuhan, (berserah diri). Allah berfirman : “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Q.S. Luqman : 22).

7. Menerima yang menafikan adanya penolakan.
Yaitu menerima semua konsekwensi yang di tuntut oleh kalirnat tauhid Laa llaha Illallah secara total dengan hati dan lisannya, sebagaimana firman Allah : “Katakanlah (hai orang-orang yang beriman), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang di turunkan kepada kami.” (Q.S. Al-Baqarah : 136).

8. Ingkar kepada sesembahan selain Allah.
Yaitu mengingkari semua sesembahan selain Allah, di riwayatkan dari Abu Malik Ra dari Bapaknya ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang mengucapkan, Laa Ilaaha illallah (tidak ada sesembahan yang berhak untuk di sembah kecuali Allah) dan ingkar terhadap sesembahan selain Allah, maka haram (mengambil) hartanya dan darahnya, sedangkan perhitungannya (nanti) di sisi Allah.” (H.R. Imam Muslim).

SYAHADAT MUHAMMADUR RASULULLAH

Makna Muhammadur Rasulullah adalah :
1. Membenarkan apa yang beliau sampaikan Allah berfirman : “Apa yang di berikan Rasul kepadamu, maka terimalah Dan apa yang di larangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (Q.S. Al-Hasyr : 7).

2. Mentaati apa yang beliau perintahkan.
Sebagaimana firman Allah : “Katakanlah, “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, “Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran : 31-32).

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya : “Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, namun tidak menempuh jalan Rasulullah Muhammad, maka sesungguhnya ia dusta dalam pengakuannya tersebut, hingga ia mengikuti syari’at yang di bawa oleh Rasulullah Muhammad Saw dan agamanya dalam semua ucapannya, perbuatannya dan (semua) keadaannya.”

3. Menjauhkan diri dari apa-apa yang beliau larang.
Dari Abu Hurairah Ra, ‘Abdurrahman bin Shakhr, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Apa saja yang aku larang kalian (untuk melaksanakannya), maka jauhilah dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka lakukanlah menurut kemampuan kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian (adalah karena mereka) banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

4. Tidak beribadah kepada Allah, kecuali dengan cara yang beliau syari’atkan.
Artinya seorang muslim wajib beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang di syari’atkan dan di contohkan oleh Nabi Muhammad Saw, di riwayatkan dari Ummul Mu’minin Ummu ‘Abdillah ‘Aisyah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan (agama) kami yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rukun Muhammadur Rasulullah
Rukun Muhammadar Rasalullah adalah :

1. Mengakui kerasulan Muhammad Saw sebagaimana firman Allah : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ahdzab : 40).

2. Mengakui bahwa beliau sebagai seorang hamba.
Allah berfirman : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha.” (Q.S. Al-Isra’ : 1). Para sahabat adalah orang yang sangat menghormati dan mencintai Rasulullah Saw, Urwah bin Mas’ud Ra pernah berkata kepada kaum Quraisy : “Aku pernah mendatangi para penguasa, seperti Kisra (di Persia) dan Kaisar (di Romawi) dan Najasyi. Aku tidak pernah melihat seorangpun yang di agungkan oleh para sahabatnya, sebagaimana para sahabat Muhammad Saw mengagungkan Muhammad Saw, jika beliau memerintahkan mereka, mereke bersegera untuk mengerjakannya. Jika beliau berwudhu’, maka mereka berebut untuk mendapatkan sisa wudhu’nya. Dan jika beliau berbicara, mereka menahan suara mereka di hadapannya dan tidaklah mereka menatap tajam kepadanya karena rasa hormat mereka kepada beliau.” Namun penghormatan yang di lakukan oleh para sahabat adalah penghormatan yang pada tempatnya dan tidak sampai berlebih-lebihan, karena Nabi Saw pernah mengingatkan para sahabat tentang tidak bolehnya berlebihan dalam menyanjung beliau. Sebagaimana di sebutkan dalam hadits dari ‘Umar, Nabi Saw bersabda : “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang-orang nashrani telah berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah, “Abdullah wa Rasuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).” (H.R. Imam Bukhari). Anas bin Malik Ra pernah berkata : “Tidak ada yang lebih kami (para sahabat) cintai selain dari Rasulullah Saw, (namun) jika mereka melihat kedatangan beliau mereka tidak berdiri, karena mereka mengetahui beliau tidak menyukai yang demikian itu.” (H.R. Imam Bukhari).

%d blogger menyukai ini: