oleh

Ruqyah dan Tamimah

-Tauhid-2 views

Tentang Ruqyah dan Tamimah

Di riwayatkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, bahwa Abu Basyir Al-Anshari Radhiallahu’anhu bahwa dia pernah bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan :

أن لا يبقين في رقبة بعير قلادة من وتر أو قلادة إلا قطعت”

“Agar tidak terdapat lagi di leher unta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun harus di putuskan.

Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu menuturkan : aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

“إن الرقى والتمائم والتولة شرك ” رواه أحمد وأبو داود.

“Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.” (H.R. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Tamimah

Tamimah adalah sesuatu yang di kalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan menolak penyakit ‘ain, jika yang di kalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian ulama salaf memberikan keringanan dalam hal ini dan sebagian yang lain tidak memperbolehkan dan melarangnya, di antaranya Ibnu Mas’ud Radhiallahu’anhu ([1]).

Ruqyah ([2])

Ruqyah yang di sebut juga dengan istilah Ajimat, ini di perbolehkan apabila penggunaannya bersih dari hal-hal syirik, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati ‘ain atau sengatan kalajengking.

Tiwalah

Tiwalah adalah sesuatu yang dib uat dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat menjadikan seorang istri mencintai suaminya atau seorang suami mencintai istrinya.

Dalam hadits marfu’ dari Abdullah bin ‘Ukaim Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

من تعلق شيئا وكل إليه ” رواه أحمد والترمذي

“Barang siapa yang menggantungkan sesuatu dengan anggapan bahwa barang tersebut bermanfaat atau dapat melindungi dirinya, maka Allah akan menjadikan orang tersebut selalu bergantung kepadanya.” (H.R. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).

Baca juga...  Pengertian Ilmu Ushuluddin

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi’ Radhiallahu’anhu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya :

يا رويفع، لعل الحياة تطول بك، فأخبر الناس أن من عقد لحيته، أو تقلد وترا، أو استنجى برجيع دابة أو عظم، فإن محمدا بريء منه”

“Hai Ruwaifi’, semoga engkau berumur panjang, oleh karena itu sampaikanlah kepada orang-orang bahwa barang siapa yang menggulung jenggotnya atau memakai kalung dari tali busur panah, atau bersuci dari buang air dengan kotoran binatang atau tulang, maka sesungguhnya Muhammad berlepas diri dari orang tersebut”.

Waki’ meriwayatkan bahwa Said bin Zubair Radhiallahu’anhu berkata :

“Barang siapa yang memotong tamimah dari seseorang maka tindakannya itu sama dengan memerdekakan seorang budak.”

Dan waki’ meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An-Nakha’i) berkata : “Mereka para sahabat membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun bukan dari ayat-ayat Al-Qur’an.”

Kandungan dalam persoalan ini :

  1. Pengertian ruqyah dan tamimah.
  2. Pengertian tiwalah.
  3. Ketiga hal di atas merupakan bentuk syirik dengan tanpa pengecualian.
  4. Adapun ruqyah dengan menggunakan ayat ayat Al-Qur’an atau  do’a-do’a yang telah di ajarkan oleh Rasulullah Saw untuk mengobati penyakit ‘ain, sengatan serangga atau yang lainnya, maka tidak termasuk syirik.
  5. Jika tamimah itu terbuat dari ayat-ayat Al-Qur’an, dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, apakah termasuk ruqyah yang di perbolehkan atau tidak ?
  6. Mengalungkan tali busur panah pada leher binatang untuk mengusir penyakit ‘ain, termasuk syirik juga.
  7. Ancaman berat bagi orang yang mengalungkan tali busur panah dengan maksud dan tujuan diatas.
  8. Besarnya pahala bagi orang yang memutus tamimah dari tubuh seseorang.
  9. Kata-kata Ibrahim An-Nakhai tersebut di atas, tidaklah bertentangan dengan perbedaan pendapat yang telah di sebutkan, sebab yang di maksud Ibrahim di sini adalah sahabat-sahabat Abdullah bin mas’ud ([3]).
Baca juga...  Menggapai Khusnul Khatimah

([2])      Ruqyah : penyembuhan suatu penyakit dengan pembacaan ayat ayat suci Al-Qur’an atau do’a-do’a.

([1])    Tamimah dari ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits lebih baik di tinggalkan, karena tidak ada dasarnya dari syara’, bahkan hadits yang melarangnya bersifat umum, tidak seperti halnya ruqyah, ada hadits lain yang membolehkan, di samping itu apabila di biarkan atau di perbolehkan akan membuka peluang untuk menggunakan tamimah yang haram.

([3])     Sahabat Abdullah bin Mas’ud antara lain : Al-Qamah, Al-Aswad, Abu Wail, Al-Harits bin Suwaid, ‘Ubaidah As-Salmani, Masruq, Ar-Rabi’ bin Khaitsam, Suwaid bin Ghaflah, mereka ini adalah tokoh generasi tabi’in.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya