oleh

Saksi-Saksi Di Hari Kiamat

-Tauhid-6 views

Allah adalah Dzat Yang Maha Pencipta, dengan kesendirian-Nya, Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan seluruh isinya termasuk manusia, dihadapan kebesaran dan kekuasaan-Nya, manusia tidak berbeda dengan makhluk yang lain.

Tidak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalangi seandainya Allah akan berbuat sekehendak hati-Nya kepada manusia, bahkan kepada siapapun, karena tidak ada yang sanggup, walau sekedar mempertanyakan terhadap segala yang diperbuat-Nya.

Dengan ke-Mahaadilan-Nya, Allah telah menempatkan manusia di dalam kedudukan yang terhormat melebihi kehormatan makhluk yang lain, bahkan kepada malaikat sekalipun.

Manusia akan diperlakukan dengan seadil-adilnya di hari kiamat, tidak seperti makhluk lain yang sebagian besar mereka kemudian dijadikan tanah kembali setelah hak dan kewajibannya dengan manusia telah selesai diperhitungkan.

Manusia tidaklah demikian, bahkan manusia akan dihidupkan untuk selama-lamanya dengan mengikuti perbuatan yang sudah dilakukan selama hidupnya di dunia.

Dalam rangka memuliakan manusia itu, pengadilan akbar pada hari kiamat akan digelar dengan seadil-adilnya. Saat itu, manusia hanya akan mendapatkan sesuai yang diusahakannya.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakan dan apa yang dikerjakannya akan diperlihatkan.” (Q.S. An-Najm : 53/39).

Sedikitpun manusia tidak kuasa menyalahkan siapa-siapa, walau kepada setan sekalipun, ketika mereka ternyata menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya, karena di dunia manusia sudah memilih jalan hidupnya sendiri dengan mengikuti kemauan hawa nafsu dan syetan atau mengikuti hidayah Allah untuk melaksanakan jihad akbar, jihad melawan hawa nafsu yang ada di dalam rongga dadanya sendiri.

Berangkat dari dua pilihan itu, maka di akhirat nanti manusia juga terbagi menjadi dua golongan, yang satu bahagia untuk selama-lamanya di syurga dan yang satunya menderita untuk selama-lamanya pula di neraka.

Kita mohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka. Untuk kepentingan itu, Allah telah menetapkan empat golongan yang akan menjadi saksi-saksi bagi amal ibadah manusia, yaitu: malaikat pencatat amal, anggota tubuh manusia sendiri, para Nabi Allah dan umat Nabi Muhammad Saw.

1. Saksi dari Para Malaikat Pencatat Amal

Allah berfirman : “Dan ditiuplah sangkakala, itulah hari terlaksananya ancaman dan tiap-tiap diri akan datang bersama-sama Malaikat penggiring dan Malaikat sebagai saksi.” (Q.S. Qaaf : 50/20-21).

Dan juga firman-Nya: “Ketika dua Malaikat saling bertemu, masing-masing duduk sebelah kanan dan sebelah kiri, tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas (pencatat) yang hadir.” (Q.S. Qaaf : 17-18).

Kemudian firman-Nya: “Dan sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat malaikat) yang menjaga, yang mulia dan yang mencatat, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Infithar : 82/10-12).

Ternyata bukan hanya manusia saja yang akan menjadi saksi bagi amal perbuatan yang dikerjakan oleh manusia di dunia, dari ayat-ayat tersebut di atas Allah telah mengabarkan, bahwa para malaikat juga akan menjadi saksi bagi amal manusia tersebut dan ternyata pula, malaikat-malaikat yang telah dipersiapkan untuk menjadi saksi amal perbuatan manusia di akhirat itu adalah malaikat-malaikat yang sudah diikut sertakan di dalam kehidupan manusia semasa hidupnya di dunia.

Malaikat pencatat amal yang selalu duduk disamping kanan dan kiri manusia, sehingga malaikat-malaikat tersebut akan mengetahui dengan pasti dan bahkan telah melihat sendiri dengan mata kepala, terhadap setiap detail perbuatan yang sudah dikerjakan oleh manusia yang menjadi tanggungannya.

Baik dari perbuatan kebajikan maupun perbuatan kejahatan, dari ketaatan ataupun kemaksiatan, sehingga tidak ada sekecil apapun dari perbuatan manusia itu yang akan terlepas dari pengawasan dan pencatatan para malaikat tersebut.

Bahkan dicatatnya perbuatan itu secara langsung disetiap saat tepat pada waktu pekerjaan itu sedang diperbuat, yang demikian itu supaya persaksian benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian catatan itu dikalungkan di setiap leher pemiliknya dan pada hari kiamat catatan tersebut dicetak menjadi sebuah kitab, ketika saatnya kitab itu dibuka di depan pemiliknya maka dikatakan kepada pemiliknya: “Bacalah kitabmu, pada hari ini cukup dirimu sendiri sebagai penghisab terhadapmu.” (Q.S. Al-Isra‘ : 17/14), Maka: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihatnya.” (Q.S. Az-Zalzalah : 99/7-8).

Saat itu, sedikitpun manusia tidak kuasa membantah, ketika ilmu dan amal yang dahulu dibanggakan, ternyata sekarang tidak dapat dibanggakan lagi, terlebih lagi ketika melihat temannya yang dahulu dicerca, sekarang ternyata lebih selamat dari keadaan yang memalukan seperti yang menimpa dirinya sendiri, bahkan mereka mendapatkan kedudukan lebih terhormat, karena ternyata yang mereka yakini lebih benar dari yang diyakininya sendiri.

Baca juga...  Pengertian Ilmu Ushuluddin

Dalam keadaan seperti itu manusia akan menyesal dan berharap untuk dapat kembali ke dunia guna memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan itu, akan tetapi sayangnya yang namanya mati hanya sekali, dan itupun hanya didunia, selanjutnya mereka akan hidup di neraka untuk selama-lamanya.

Kalau dahulu di dunia hati manusia mau sedikit lunak dengan mendengarkan peringatan yang diberikan oleh temannya seiman, mereka kemudian menimbang dengan kejernihan hati yang tulus ikhlas serta menawarkannya kepada hidayah Allah yang bisa didatangkan setiap saat kepada yang mau menerimanya, maka barangkali sekarang mereka tidak menyesal dan putus asa atas apa-apa yang tertulis di buku catatan yang sudah ada di tangannya itu.

Keadaan di akhirat tidaklah seperti di dunia, betapapun kuatnya orang menyesali perbuatannya, diakhirat penyesalannya itu tidak berguna, sedikitpun tidak akan mengurangi siksa yang harus dijalani orang-orang yang berdosa.

Seandainya penyesalan itu dilaksanakan di dunia, saat mereka semestinya masih mempunyai kesempatan untuk berbuat maksiat, namun mereka meninggalkannya dan mau bertaubat dari segala dosa dan kesalahan, maka penyesalan itu akan dapat merontokkan dosa-dosa, bahkan mengangkat derajatnya di surga.

Para malaikat tersebut akan menjadi saksi di saat orang yang berdosa itu merasakan penderitaan dan menyesal diakhirat karena para malaikat itu telah terlebih dahulu pernah ikut menyaksikan perbuatan maksiat mereka di dunia.

2. Saksi dari Anggota tubuhnya sendiri

Kejadian yang sangat menakjubkan yang merupakan salah satu tanda tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, di mana manusia pada hari kiamat mendapati dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan tidak mampu membantah apalagi mengelak.

Ketika salah satu anggota tubuh yang selama hidupnya di dunia dengan setia membantu menyelesaikan segala kebutuhannya, kini menjadi saksi atas segala perbuatan yang telah diperbuatnya sendiri.

Allah berfirman: “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan bersaksilah kaki mereka terhadap apa yang dahulu telah mereka kerjakan.” (Q.S. Yasin : 36/65).

Firman-firman Allah di atas mengajak manusia untuk bermi’raj, menembus alam gaib, melihat kejadian-kejadian yang bakal terjadi diakhirat nanti, yaitu akan tiba saatnya serombongan anak manusia digiring dan dikumpulkan di depan pintu neraka.

Ketika udara panas yang dihembuskan kobaran api di depan mata itu mulai terasa membakar kulit, saat wajah-wajah mulai berkerut dimakan rasa takut akibat dosa yang terlanjur ikut mengiringi maut.

Maka difirmankan kepada mereka: “Inilah Jahanam yang dahulu kamu diancam dengannya, hari ini masuklah kamu ke dalamnya, dengan sebab dahulu kamu mengingkarinya.” (Q.S. Yasin : 36/63-64).

Saat itu, tangan yang selama ini menjadi sahabat karibnya, selama hidup menjadi pembantu dan teman yang setia, menyampaikan kehendak, mendatangkan hajat, mewujudkan hasrat dan keinginan, menggapai cita cita dan harapan.

Kini tangan itu melaporkan kembali kepada Allah, tentang kebohongan dan kejahatannya, tentang pengkhianatan dan kemunafikannya, bahkan perselingkuhannya.

Kaki yang dahulu selalu bekerjasama dengan tangan, berjalan seimbang saling membantu untuk melayani sang majikan, kini berkonspirasi bahkan menjadi saksi atas sebuah kejahatan yang telah dilakukan.

Maka fakta menjadi nyata bukti menjadi pasti, tidak ada jalan mengelak tidak sempat mengingkari dan dikabarkan lagi oleh Allah : “Pada hari, ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya dan mereka menjadi tahu bahwa Allah Yang Benar, lagi Yang Menjelaskan.” (Q.S. An-Nur : 24/24-25).

Lidah, tangan dan kaki pada hari itu menjadi saksi-saksi, karena kebersamaannya selama ini dengan kehidupan manusia dalam melaksanakan segala perbuatan yang dikerjakan di dunia, baik amal ibadah maupun kemaksiatan, baik pengabdian maupun pengkhianatan, baik kesetiaan maupun perselingkuhan.

Manusia tidak kuasa lagi membantah, ketika semua kejahatannya ternyata ditulis di dalam kitab yang sudah terbuka di hadapan mata, mereka tinggal hanya menunggu nasib dengan sorot mata menengadah, membayangkan siksa neraka dengan penuh rasa putus asa, karena persaksian telah menjadi kuat dan pembuktian sudah menjadi akurat.

3. Saksi dari Para Nabi dan Para Rasul

Kejadian-kejadian yang sudah gaib, diangkat lagi oleh Allah di dalam kitab-Nya, Al-Qur‘an yang akan abadi sepanjang zaman, peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada zaman para Nabi dan para Rasul terdahulu, sebelum Rasul Muhammad Saw, juga yang menimpa Nabi Isa As, yang demikian itu agar menjadi pelajaran berharga dan peringatan bagi umat Muhammad Saw sepanjang zaman.

Baca juga...  Kekuatan Yang Menolong

Allah berfirman: “Dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada diantara mereka, maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka dan Engkau adalah Maha menyaksikan terhadap segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ma‘idah : 5/117).

Perbuatan manusia semasa hidupnya di dunia, baik kebajikan maupun kejahatan, agar perbuatan itu dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak dengan seadil-adilnya, perbuatan itu harus diawasi dan disaksikan oleh saksi-saksi.

Tidak hanya cukup disaksikan oleh para malaikat dan anggota tubuhnya sendiri, untuk lebih kuatnya sebuah persaksian, perbuatan itu harus disaksikan pula oleh manusia, maka tugas seorang Nabi dan Rasul, disamping mereka mengemban Risalah dan Nubuwah, juga sebagai saksi-saksi.

Itulah maksud dari apa yang disampaikan Nabi Isa Saw melalui firman Allah diatas (Q.S. 5 : 117), yaitu bahwa semasa hidupnya, Nabi Isa As telah menjadi saksi bagi perbuatan umatnya, namun ketika Nabi Isa Saw diangkat ke langit, tugas tersebut diserahkan kembali kepada Allah.

Sejak itu sampai dengan terutusnya Nabi Muhammad Saw, Allah sendiri yang mengawasi dan menjadi saksi bagi umat manusia, masa-masa itu terkenal dengan masa stagnasi atau masa kekosongan kepemimpinan seorang Nabi maupun seorang Rasul.

Dampak dari kekosongan kepemimpinan bumi itu, makhluk jin kemudian mendapat keleluasaan naik turun ke langit untuk mencuri dengar berita langit, hal itu berjalan sampai dengan terutusnya Rasul Muhammad Saw.

Ketika Rasul Muhammad Saw diutus sebagai Rasul akhir zaman, maka makhluk jin tidak dapat lagi naik ke langit melainkan selalu dikejar oleh panah berapi, demikian yang telah dinyatakan oleh Rasulullah Saw di dalam haditsnya berikut ini: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: “Rasulullah Saw tidak membacakan Al-Qur’an (tidak mengajarkan agama) kepada jin dan tidak pula melihat mereka. Kisahnya di saat Nabi Saw berangkat bersama rombongan para sahabat menuju pasar Ukaz dan pada saat itu, antara setan jin dan berita dari langit sedang dihalangi dan mereka dilempari dengan panah berapi.

Maka merekapun kembali kepada kaum mereka, dan mereka berkata: “Antara kami dan berita dari langit telah dihalangi dan kami dilempari dengan panah berapi.” Kaum mereka berkata: “Yang demikian itu pasti telah terjadi sesuatu yang luar biasa di muka bumi, coba pergilah menyebar ke bumi, baik di sebelah timur maupun baratnya, carilah apa menjadi penyebabnya, sehingga antara kita dan berita dari langit menjadi terhalang.”

Merekapun pergi ke bumi di sebelah timur dan baratnya. Dan di antara mereka ada yang menuju arah Tihamah yaitu mengikuti arah perjalanan Nabi Saw bersama para sahabat, saat itu Nabi Saw sedang berada di bawah pohon kurma dalam perjalanan menuju ke pasar Ukaz dan Baginda Nabi Saw sedang melaksanakan shalat subuh bersama para sahabat.

Ketika mereka (sekelompok jin) itu mendengarkan Al-Qur’an dibaca, mereka memperhatikannya dan berkata: “Inilah yang menjadikan kita terhalang dengan berita dari langit.” Maka merekapun kembali kepada kaumnya lalu berkata : Wahai kaumku :

ً(ًإِـِوًدَؿَعْـَوًؼُرْآـًوًعَهَلًوًقَفْدَيًإِؾَكًاؾرّذْدًَػَكؿَـِوًبَفًَوَؾَـًْـُشْرِكًَ
بَرَبّـَوًأَحَدًا)ًً

“Sesungguhnya aku telah mendengar bacaan yang mengagumkan, yang dapat menunjukkan kita kepada kebenaran, maka aku beriman kepadanya dan tidak akan menyekutukan Tuhanku dengan siapapun.” Maka Allah menurunkan kepada Muhammad Saw sebuah firman-Nya:

ًً(ؼُؾًْأُوحَلًَإِؾَلًِأَـِفًُادْمَؿَعًَـَػَرًٌؿَـًَاؾْهَـً)ًّ

“Katakanlah, telah diwahyukan kepadaku, bahwasanya sekumpulan jin telah mendengar bacaan Al-Qur’an.”

4. Saksi dari Umat Nabi Muhammad

Keutamaan umat Muhammad Saw yang terbesar dan termulia dan tidak diberikan kepada umat-umat terdahulu ialah bahwa dari umat pilihannya, mereka dijadikan oleh Allah sebagai khalifah bumi zamannya atau pengganti meneruskan tugas Risalah dan Nubuwah.

Mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang tekun beribadah dan giat berjuang untuk membangun kemanfaatan umat, tugas para khalifah bumi itu diantaranya ialah, menebarkan pancaran nyala obor semangat keimanan, menyalakan pelita-pelita yang terkucil dan berserakan di pinggir jalan, menguntai kunang-kunang nakal, dan bahkan mengambil kembali dan sekaligus menggosok mutiara-mutiara yang kadang-kadang tercampak di bak sampah.

Keberadaan mereka di mana-mana selalu membawa perubahan, bagaikan membangunkan bumi yang sedang tidur, mereka membasahi tanah yang asalnya kering dan mati dengan keringat pengabdian yang hakiki.

Itulah hamba-hamba Allah yang dipilih untuk menerima Warisan Al-Qur‘an, kitab warisan itu selalu diamalkan melalui pancaran Nur Akhlaqnya untuk menyampaikan Hidayah Allah kepada umat manusia, melalui do‘a-do‘anya, melalui mujahadah dan riyadhah yang didawamkan, melalui dakwah-dakwahnya, bahkan melalui perniagaan dan perdagangannya.

Baca juga...  Alam Kubur (Barzah)

Mereka berdagang untuk berdakwah, bukan berdakwah untuk berdagang sebagaimana lazimnya orang pada zaman sekarang, sebagian mereka telah berhasil menghidupkan bumi tanah Jawa tercinta dengan menyalakan obor hidayah dan iman di mana-mana hingga sejarah telah mencatat perjuangan itu dengan tinta emas.

Itulah para Walisongo yang mulia, meski setelah matinya masih saja ada orang-orang yang mengingkari perjuangan mereka, orang yang ingkar itu bahkan adalah anak cucu orang-orang yang dahulu berhasil mereka selamatkan dari kekafiran menuju Islam.

Yaitu orang-orang yang kenikmatan imannya adalah hasil perjuangan dan jerih payah para Wali tersebut, hasil perjuangan orang-orang yang telah mendapatkan warisan dari para pendahulunya yang juga telah mendapatkan warisan langsung dari Rasulullah Saw yang telah menyatakan di dalam sebuah haditsnya:

عُؾَؿَكءًُأُؿِمَكًؽَلَـْلَقَكءًَبَـَكًإِدْرَائَؾَ

“Ulama’ umatku seperti Nabi-nabinya Bani Isra’il”. Para ulama penerus perjuangan Nabi Saw itu adalah para Ash-Shiddiq, Asy-Syuhada’ dan Ash-Shalihin yang juga disebut “Ulul Albab” sebagai khalifah bumi zamannya.

Merekalah orang-orang yang telah meneruskan tongkat estafet perjuangan para Rasul dan para Nabi terdahulu, sesuai dengan tingkat derajat yang tergambar melalui sebutan nama mereka, sekaligus akan menjadi saksi bagi umat manusia sejak kehidupan mereka di dunia, di alam barzah dan diakhirat.

Mereka akan tetap dihidupkan oleh Allah sepanjang zaman dengan membawa syafa‘at yang sudah ada di tangan, warisan para pendahulu yang terlebih dahulu telah berjuang, dan di akhirat nanti mereka akan menyelamatkan banyak orang yang telah terlanjur terjerumus ke jurang neraka sebab dosa-dosa yang dahulu telah dikerjakan.

Kalau ada salah satu dari mereka wafat maka Allah akan segera mengangkat penggantinya dengan orang yang baru, untuk menduduki kedudukannya yang sedang kosong, supaya kepemimpinan dunia tidak terjadi kekosongan lagi. Allah yang mendidik mereka.

Sebagaimana sabda Rasulullah Saw yang diabadikan di dalam firman Allah: “Sesungguhnya Waliku adalah Allah yang telah menurunkan Kitab dan Dia memberikan ” Walayah” kepada orang-orang yang shaleh.” (Q.S. Al-A‘raaf 7/196).

Mereka itu, sesuai dengan ilmu dan kemampuan yang ada serta tingkat derajat yang diberikan, seluruh masa hidup dan kesempatannya telah dicurahkan untuk membimbing manusia menuju jalan keridlaan Allah.

Baik melalui ilmu pengetahuan, ibadah, perjuangan, terlebih melalui pancaran do‘a-do‘a di setiap saat ketika mereka sedang melaksanakan mujahadah dan riyadhah di hadapan Allah.

Orang-orang yang kemanfaatan hidupnya hanya untuk mencukupi kebutuhan orang lain, baik kebutuhan lahir maupun batin, diminta maupun tidak, sehingga kadang-kadang sampai melupakan kebutuhan hidupnya sendiri.

Ketika Allah menghendaki memanggil kekasihnya, dia akan menghadap dengan penuh kebahagiaan, seperti seorang pengantin yang akan dipertemukan diperaduannya, sedangkan orang yang ditinggal akan melepaskan dengan penuh kesedihan dan keputus asaan, sebab: Nur yang telah mereka pancarkan lewat ilmu pengetahuannya, amal ibadahnya maupun akhlaknya, telah menghidupkan hati yang mati dan membangkitkan semangat yang layu Itulah “Nur di atas nur” yang tersimpan di dalam karakter warisan leluhurnya agar orang tetap mengenal, bahwa tidak ada Tuhan, kecuali Allah.

Allah menegaskan lagi peringatan-Nya: “Dan ketika sangkakala ditiup, maka matilah orang yang dilangit dan orang yang di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah, kemudian sangkakala itu ditiup sekali lagi maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu dan bumi menjadi terang dengan Nur Tuhannya dan kitab diserahkan dan didatangkan para Nabi dan saksi-saksi dan diputuskan urusan mereka dengan adil dan mereka tidak dirugikan. (Q.S. Az-Zumar : 39/68-69).

Sekarang di tangan kita telah datang bukti-bukti yang nyata, sebagai untaian mutiara yang tak ternilai harganya, bukan sekedar buku yang dibaca, akan tetapi boleh jadi adalah hidayah yang didatangkan bagi
hati yang selamat.

Bahkan bisa jadi dapat menjadi peringatan (burhan), manakala sorot matahati yang cemerlang selalu dapat menyertai mata lahir yang sedang menyorotkan pandang.

Allah telah berfirman: “Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfa`atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara (mu).” (Q.S. Al-An‘am : 6/104).

Kalau orang tidak mau memperhatikan peringatan ini, hingga di akhirat nanti mereka menjadi orang yang terlupakan, maka jangan salahkan siapa-siapa lagi, karena di dunia ini, kepada bukti-bukti terang yang telah didatangkan, dirinya sendiri telah terlebih dahulu melupakan, maka sesal kemudian tidaklah akan membawa kemanfaatan.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya