oleh

Sambutlah Air Laksana Menyambut Rahmat Allah

Sambutlah Air Laksana Menyambut Rahmat Allah.

Imam Ash Shadiq berkata, “Jika engkau hendak bersuci dan berwudhu’, sambutlah air seperti engkau menyambut rahmat Allah”. Sungguh Allah telah menjadikan air sebagai kunci bagi kedekatan diri dan munajat kepada-Nya serta penunjuk kedalam pengkhidmatan kepada Nya. Allah berfirman : “Dan kami jadikan dari air setiap sesuatu yang hidup.” (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 30).

Sebagaimana Dia menghidupkan setiap sesuatu nikmat dunia, demikian pula dengan karunia dan rahmat-Nya Dia menjadikan kehidupan hati dengan ketaatan, renungkanlah kejernihan, kelembutan, kebersihan dan keberkahan air serta kelembutan percampurannya dengan setiap sesuatu dan didalam setiap sesuatu, pergunakanlah dalam menyucikan anggota-anggota tubuh yang diperintahkan oleh Allah untuk kau sucikan, penuhilah dengan adab-adabnya, baik yang fardhu maupun yang sunnah, karena didalam setiap adab itu terdapat faedah yang banyak.

Jika engkau menggunakannya dengan penghormatan, maka mata air faedah-faedahnya akan terpancar bagimu dari dekat, kemudian bergaullah dengan makhluk Allah Ta’ala seperti percampuran air dengan segala sesuatu, seraya memberikan hak segala sesuatu, jangan berubah dari maknanya, dengan meyakini sabda Rasulullah Saw : “Perumpamaan orang Mukmin yang khusus adalah seperti air.”

Jadikanlah kejernihanmu bersama Allah di dalam semua ketaatanmu seperti kejernihan
air ketika diturunkan dari langit dan dinamai “yang bersih (thahuran)”, sucikanlah hatimu dengan taqwa dan yakin saat menyucikan anggota-anggota tubuhmu dengan air.

Sebuah penemuan terbaru tentang rahasia air oleh Masaru Emoto, membuktikan bahwa air memiliki “kesadaran”. Ia mampu merespon kata-kata bahkan pikiran kita, baik positif maupun negatif.

Ini membuktikan bahwa adanya keterkaitan yang begitu erat antara alam dan jiwa kita, manusia itu sendiri sebenarnya air, pada konsep terbentukmya manusia, telur yang dibuahi 96 % nya adalah air, setelah lahir 80 % tubuh seorang bayi adalah air, semakin tubuh manusia berkembang, prosentase air berkurang dan menetap sampai batas 70 % ketika manusia mencapai usia dewasa. Dengan kata lain, selama ini kita hidup sebagai air, jadi
sebenarnya manusia adalah air. ( True Power of Water hal. 17).

Sadarilah bahwa air yang begitu agung rahasianya diciptakan Allah Azza wa Jalla sebagai wasilah melalui perenungan, “menghidupkan” kejernihan, kelembutan, kesucian, keberkahan dan kelembutan percampurannya.


Hidupkanlah lahir dengan kesucian, dengan berkahnya dijauhkan dari kemalasan, kelemahan dan rasa kantuk dalam diri, hidupkanlah batin dengan perenungan tentang tempat bermula (mabda’), tempat berakhir (muntaha’), tempat kejadian (mansya’) dan tempat kembali (marja’).


Sebuah alinea yang begitu agung dan indah merupakan tujuan puncak dari harapan para ‘arif terdapat dalam Al-Munajat Asy-Sya’baniyyah, “Illahi, berilah aku keterputusan yang sempurna (dari segala sesuatu agar dapat menghadap) kepada-Mu, terangilah mata hati kami dengan kilau pandangannya kepada-Mu hingga mata hati itu dapat membakar tabir-tabir cahaya, lalu ia sampai pada mutiara keagungan dan ruh kami menjadi terikat pada kemuliaan kudus-Mu”.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya