oleh

Shalat Berjama’ah

Bagaimana caranya shalat berjama’ah?

Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian, sebagaimana di riwayatkan dari Ibnu Umar Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Shalat berjama’ah lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian.” (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Seorang yang melaksanakan shalat berjama’ah di masjid, maka langkahnya akan menghapuskan kesalahannya dan mengangkat derajatnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian berjalan kaki ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (yaitu masjid) untuk melaksanakan salah satu fardhu dari fardhu-fardhu (yang telah) Allah tetapkan (padanya), maka setiap langkah (kaki)nya yang satu menghapus kesalahan dan yang lain mengangkat derajat.” (H.R. Imam Muslim).

Hukum Shalat Berjama’ah

Kaum wanita tidak wajib untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid, ini adalah ijma’ para ulama’, namun mereka diperbolehkan untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid, di tempat yang terpisah dari lakilaki dengan tabir penutup yang sempurna, diperbolehkannya bagi wanita untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid dengan syarat mereka menghindari hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat dan menimbulkan fitnah, seperti tidak memakai wangi-wangian dan tidak memakai perhiasan. (H.R. Abu Dawud). Meskipun wanita diperbolehkan untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid, namun shalat mereka didalam rumah-rumah mereka adalah lebih utama. (H.R. Ibnu Khuzaimah).

Tempat Shalat Berjama’ah
Shalat berjama’ah boleh dilakukan pada semua tempat yang suci. (H.R. Muttafaqun’alaih). Dan yang paling utama adalah melaksanakan shalat berjama’ah di masjid. (H.R. Imam Bukhari).

Jumlah Peserta Shalat Berjama’ah
Para ulama telah bersepakat bahwa minimal shalat jama’ah adalah dilakukan oleh dua orang; satu orang menjadi imam dan yang yang lainnya menjadi makmum dan semakin banyak jumlah makmum dalam shalat jama’ah, maka semakin dicintai oleh Allah. (H.R. An-Nasa’i).

Baca juga...  Shalat Qashar dan Shalat Jama'

Orang yang Berhak Menjadi imam
Orang yang paling berhak menjadi imam secara berurutan adalah :

  1. Orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’an dan menguasai ilmu shalat.
  2. Orang yang paling mengetahui sunnah.
  3. Orang yang lebih dahulu hijrahnya.
  4. Orang yang lebih dahulu masuk Islam. (H.R. Imam Muslim).
  5. Orang yang lebih tua umurnya. (H.R. Imam Bukhari).

Posisi Imam dan Makmum
Jika seorang wanita menjadi imam shalat untuk jama’ah wanita, maka ia berdiri di tengah-tengah shaf terdepan, bukan di depan shaf. (H.R. Al-baihaqi dan Ad-Daruqutni).

Cara Meluruskan Shaf
Para ulama telah bersepakat atas adanya perintah untuk mengatur lurusnya shaf di dalam shalat berjama’ah, di antara adalah dengan mengucapkan : “Luruskanlah shaf kalian dan rapatkanlah.” (H.R. Imam Bukhari).

Bacaan Surat di Dalam Shalat
Berikut ini adalah riwayat tentang bacaan surat yang dibaca ketika shalat, antara lain :

Shalat Shubuh

  • Membaca Surat At-Takwir.
  • Membaca Surat Qaaf.

Shalat Zhuhur dan Shalat Ashar

  • Membaca Surat Al-A’la.
  • Membaca Surat Al-Lail.

Shalat Maghrib

  • Membaca Surat Al-Mursalat.
  • Membaca Surat At-Thur.

Shalat Isya’

  • Membaca Surat At-Tin.
  • Membaca Surat Asy-Syams, Al-A’la, Al-Alaq dan Al-Lail.

Makmum Masbuq (makmum yang terlambat)

Makmum yang terlambat tidak perlu terburu-buru untuk masuk ke dalam jama’ah. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim). Makmum masbuq hendaknya segera mengikuti gerakan imam dalam kondisi apapun. (H.R. At-Tirmidizi).

Seorang makmum masbuq dianggap mendapatkan satu raka’at, jika ia mendapatkan ruku’ bersama imam, ini adalah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit dan ini adalah madzhab Jumhur ulama, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Jika kalian mendatangi shalat jama’ah (pada saat) kami sedang sujud, maka sujudlah dan itu jangan dihitung (satu raka’at) dan barangsiapa yang mendapati (imam) sedang ruku’, maka ia telah mendapatkan (satu raka’at) shalat.” (H.R. Abu dawud).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya