oleh

Shalat Gerhana

Khusuf adalah hilangnya cahaya bulan secara keseluruhan atau sebagian pada malam hari, sehingga istilah ini digunakan untuk menyebut gerhana bulan dan kusuf adalah terhalangnya cahaya matahari secara keseluruhan atau sebagian pada siang hari, sehingga istilah ini digunakan untuk menyebut gerhana matahari.

Hukum Shalat Gerhana

Shalat Gerhana hukumnya adalah Sunnah Muakkadah bagi setiap muslim dan muslimah, yang mukim (menetap) maupun di perjalanan.

Waktu Shalat Gerhana
Waktu Shalat Gerhana dimulai sejak awal gerhana sampai gerhana tersebut selesai, gerhana matahari berakhir waktunya, dengan salah satu dari dua hal berikut :

  1. Matahari sudah tersingkap seluruhnya
  2. Tenggelamnya matahari.


Adapun untuk gerhana bulan, waktu berakhirnya
dengan salah satu dari dua hal berikut :

  1. Bulan sudah tersingkap seluruhnya. 
  2. Terbitnya matahari, atau hilangnya (tenggelamnya) bulan. Apabila langit mendung, dan seorang ragu apakah gerhana telah selesai atau belum, maka ia boleh melakukan shalat gerhana, karena pada asalnya gerhana masih berlangsung.


Tempat Pelaksanaan Shalat Gerhana 

Ketika terjadi gerhana matahari atau bulan hendaknya umat Islam segera melaksanakan Shalat Gerhana di masjid atau di rumah, tetapi yang lebih utama adalah dilakukan di masjid. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Tata Cara Shalat GerhanaShalat Gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan pada tiap raka’at terdapat dua kali ruku’ dan dua kali sujud. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Khutbah
Imam disunnahkan untuk menyampaikan khutbah setelah Shalat Gerhana, hutbah Shalat gerhana seperti khutbah ’Ied, dengan satu kali khutbah, ini adalah pendapat Madzhab Asy-Syafi’i, Ishaq dan mayoritas ahli hadits, khutbah dilakukan dalam rangka menasihati dan mengingatkan para jama’ah, juga untuk memotivasi mereka untuk melakukan amal shalih, karena demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Saw. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru