oleh

Shalat Sebagai Upaya Latihan Jiwa Pembentukan Kepribadian Muslim

Shalat Sebagai Upaya Latihan Jiwa Raga Pembentukan Kepribadian Muslim

Jika orang telah fasih dengan latihan tingkat pertama, maka latihan berikutnya ditingkatkan dengan melibatkan anggota badan, apa yang diucapkan diikuti dengan penguat gerakan simbolik secara tepat sehingga efek lisan akan lebih terasa dan dihayati, misalnya bacaan
takbir diikuti dengan gerakan angkat tangan, akan lebih memahamkan bahwa membesar-kan kepada Allah juga berarti kita tundukkan kepala dan seluruh anggota badan dari selain kembali kepada fitrah diri kita, menyerah kepada kemauan, kekuasaan, kebesaran, keadilan dan kebijakan Allah.

Bacaan duduk di antara dua sujud dengan gerakan duduk tiada berdaya kepala merunduk melam-bangkan orang yang sedang mengakui kesalahan-kesalahan yang dilakukan, menumpahkan segala perasaan hati duka lara, dan berharap akan belas kasih.

Sikap dan gerakan ini tepat mengiringi bacaan yang mendayu dan melankolis memohon ampunan, kasih sayang, kecukupan, derajad, rizqi, petunjuk, dan kemaafaan (rabbighfirliy, war hamny, wajburny, warzuqny, wahdiny, wa’aafiny, wa’fuanny). Bacaan akhir shalat yakni salam “Salam keberkahan, keselamatan, kedamaian dan kemenangan dari Allah bagi kita semua” dilambangkan menengok ke arah kanan dan kiri, akan memberi kesadaran menyebarkan dan menciptakan kemakmuran, kedamaian, keselamatan, dengan semangat persaudaraan tiada batas ruang, waktu, dan keadaan bagi segenap makhluk. Inilah paripurna shalat, berlatih menyadar-kan diri sendiri untuk melaksanakan fungsi kekhalifahan memakmurkan bumi bagi segenap makhluk ciptaan Allah.

Rangkaian jalinan ritual bacaan dan gerakan diawali dengan niat dan takbir hingga diakhiri dengan salam, jika dipahami, dijalani dengan tata aturan yang tepat, akan membuahkan hasil luar biasa berupa meningkatnya kesadaran akan posisi manusia dan Tuhan, kesadaran akan tujuan dan makna hidup, kesadaran akan jati diri, kesadaran akan perilaku yang telah, sedang dan akan dilalui, kesadaran akan keterbatasan waktu, usia, kesempatan, sarana dan sebagainya, juga munculnya berbagai motivasi karya, membangun, mencipta dan seterusnya.

Baca juga...  Al-Khuthuwat (Langkah Nyata Sebuah Perbuatan)

Jika demikian, nyatalah jika Al-Qur’an mengisyaratkan pendirian shalat dengan mempertimbangkan segala macam hal demi kokohnya bangunan shalat, akan membuahkan terhindarnya manusia dari perbuatan keji dan mungkar, latihan ini seperti latihan retorika, baca puisi, dan drama dalam pengertian sederhana, di mana paduan suara dan gerak saling menunjang penghayatan sehingga memerikan efek yang membekas.

Setingkat lebih tinggi, latihan suara dan gerak dimaksudkan bahwa apa yang terucap dengan kata, harus diikuti dengan perbuatan nyata sehingga padu antara gerak hati, suara kata, dan perwujudan anggota badan sebagai makna iman yang berarti pembenaran secara hati, pengungkapan melalui lisan dan diwujudkan dalam perilaku nyata. Inilah iman yang sebenarnya, yakni memenuhi kebutuhan makanan tiga komponen diri sekaligus secara sinergis yakni ruh, jiwa dan badan. Inilah keutuhan kepribadian yang hakiki.

Jika antara hati, kata, dan perbuatan tidak singkron, disebut munafik yang akan merusak fitrah diri dan secara alami menciptakan sakit pada diri sendiri, entah pada ruh, pada jiwa atau pada badan.

Shalat di atas sajadah merupakan latihan dan pengingat untuk memperoleh semangat dan kesadaran, selebihnya yang dikehendaki adalah shalat dalam perilaku nyata dalam kehidupan pada seluruh aspek hidup. Jika perilaku nyata belum mencerminkan apa yang dibaca dan digerakkan dalam shalat ritual berarti shalat tetapi belum shalat, dalam arti masih terkandung berkhianat terhadap pernyataannya sendiri yang diucapkan dihadapan Sang Pencipta dan dirinya sendiri (ingat peringatan Allah di surat Al-Ma’un, orang shalat yang dinyatakan sebagai riya dan diganjar neraka wail).

Jadi shalat mengandung isyarat pelajaran pembentukan perilaku melalui hafalan, pemahaman dan praktik, seperti pelajaran menyuntik bagi seorang tenaga medis, tidak sekedar diberi tahu dan dihafalkan tetapi harus dipraktekkan berkali -kali hingga menjadi keahlian, seandainya harus menyuntik di tempat gelap pun tidak akan salah dan tetap profesional.

Baca juga...  Pengertian Sumpah Dalam Islam

Shalat secara psikologis mengandung banyak aspek meliputi aspek olah raga, relaksasi otot, relaksasi kesadaran indera, meditasi, outo-sugesti/self-hipnosis, sarana pembentukan kepribadian dan terapi air (hy-drotherapy), Al-Ghazali menyatakan bahwa kualitas shalat ditentukan oleh kesadaran hati dimulai pada takbiratul ihram hingga salam.

Keadaan batin yang kondusif terhadap penyempurnaan makna shalat, dapat dilakukan dengan enam cara, yaitu :

  1. Kesadaran.
  2. Pemahaman.
  3. Pengagungan.
  4. Kedahsyatan.
  5. Pengharapan.
  6. Rasa malu.

Kesadaran penuh adalah keadaan dimana pikiran dan perasaan seseorang tidak berbeda dengan apa yang dikerjakan dan diucapkan, persepsi menyatu dengan tindakan dan ucapan. Pemahaman adalah kesadaran yang mencakup juga pemahaman makna ucapan seseorang, sehingga pemahaman atas aspek-aspek shalat akan membentuk tameng bagi perbuatan tercela. Pengagungan atau hormat yang mendalam adalah sesuatu yang lebih jauh atau di atas kesadaran hati dan pemahaman.

Kedahsyatan adalah perasaan yang tumbuh dari rasa takut, yang ditujukan kepada sesuatu yang mulia, kedahsyatan adalah rasa rakut dan hormat sekaligus, pengharapan berkaitan dengan doa, dimana di setiap doa orang mesti selalu berharap agar mendapat ganjaran – Nya sekaligus disertai rasa takut terhada hukuman -Nya atas dosa-dosa, rasa malu adalah tambahan terhadap pengharapan, didasarkan atas kenyataan akan kekurangan seseorang
sekaligus pengakuan akan dosa-dosa yang diperbuat.

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

Artikel terbaru