oleh

Shalat Tahajjud

Cara dan hukum melaksanakan shalat tahajjud

Qiyamul Lail adalah di sebut juga dengan Shalat Malam atau Shalat Tahajjud, kebiasaan dalam melakukan Qiyamul Lail
adalah merupakan sifat ‘Ibadurrahman (Hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang). Allah mensifati mereka dalam firman-Nya, yaitu : ”Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Q.S. Al-Furqan : 64). Mereka memperbanyak Shalat Malam dengan mengikhlaskannya kepada Rabb mereka, sebagai bentuk perendahan diri mereka kepada-Nya.

Hukum Shalat Tahajjud

Shalat Tahajjud hukumnya adalah Sunnah Muakkadah yang bermakna suatu ibadah yang di tekankan atau di beratkan. (H.R. Imam Muslim).

Waktu Shalat Tahajjud
Shalat Tahajjud dapat di lakukan di awal malam, pertengahannya atau di akhir malam, sedangkan waktu yang paling utama adalah pada sepertiga malam yang terakhir. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Jumlah Raka’at Shalat Tahajjud
Shalat Tahajjud tidak di batasi dengan jumlah raka’at tertentu. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim), namun yang paling utama adalah mengerjakan sebanyak 11 raka’at atau 13 raka’at termasuk Shalat Witir, karena jumlah ini yang biasa di lakukan oleh Rasulullah Saw. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Tata Cara Shalat Tahajjud

Tata cara Shalat Tahajjud adalah dengan shalat 2 raka’at, 2 raka’at dan tiap 2 raka’at yang di pisahkan dengan 1 salam. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Shalat Tahajjud dapat di lakukan dengan tiga keadaan, yaitu :
1. Shalat Tahajjud dengan berdiri dari awal hingga akhir, ini adalah yang lebih utama, karena shalat yang di lakukan dengan duduk pahalanya adalah setengah dari shalat yang di lakukan dengan berdiri. (H.R. Imam Muslim).

2. Shalat Tahajjud dengan duduk dari awal hingga akhir. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim), hendaknya posisi duduk tersebut seperti duduk pada waktu tasyahud awal (duduk iftirasy), karena inilah yang utama, walaupun di perbolehkan melakukannya dengan bersila, apabila ada udzur dan tidak di perbolehkan duduk dengan kedua kaki di lonjorkan ke depan, kecuali dalam keadaan darurat.

3. Shalat Tahajjud dengan duduk, lalu ketika masih ada ayat yang tersisa, berdiri dan ruku’ dengan berdiri, hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah ra, yaitu : “Bahwa Rasulullah Saw melakukan shalat dengan duduk, beliau membaca (surat) dengan duduk, ketika tersisa dari bacaannya sekitar 30(tiga puluh) atau empat puluh ayat, maka beliau berdiri dan membaca dengan berdiri, kemudian beliau ruku’ lalu sujud, selanjutnya beliau melakukan seperti itu pada raka’at yang kedua.” (H.R. Imam Muslim).

Baca juga...  Shalat Sunnah Rawatib

Komentar

Tinggalkan Komentar dan Terimakasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Artikel Lainnya